14 Tahun MALIQ & D'Essentials
Interview

14 Tahun MALIQ & D'Essentials

by Pohan
Tue, 24-May-2016

Tanggal 15 Mei 2016 jadi hari bersejarah bagi MALIQ & D'Essentials. Tepatnya, usia mereka menginjak angka 14. Tiada ada perayaan khusus, kecuali rasa syukur. Pada hari tersebut mereka malah manggung di luar kota. Empat hari setelahnya, mereka memperkenalkan single baru "Mendekat, Melihat, Mendengar" yang juga mulai diperdengarkan di radio-radio di Indonesia serta beredar video liriknya di kanal YouTube ORGANICessentials.

Single tersebut hanya akan ada dalam album kompilasi berjudul Pop Hari Ini, hasil kreasi dan kolaborasi dari Organic Records bersama 8 artis lainnya dari berbagai label independen yaitu Barasuara, Kunto Aji, HiVi, Mocca, Lala Karmela, White Shoes and The Couples Company, Abenk Alter dan Laidthis Nite --band terbaru yang bergabung bersama Organic Records--, dan album ini hanya tersedia secara ekslusif di www.blibli.com mulai 1 Juni 2016.

Perjalanan karier MALIQ makin melaju dengan tampil dari satu panggung ke panggung lainnya. Spesialnya, dalam waktu dekat mereka akan mendobrak zona nyaman lewat panggung kolaborasi D'Essentials of Groove pada 6 September Selama ini MALIQ seolah ekslusif di zona mereka sendiri. Namun mereka tidak menolak untuk berkolaborasi dengan seniornya The Groove dalam gelaran Anniversary Collaboration milik Berlian Entertainment tersebut.

Di sepanjang kariernya, MALIQ sempat berganti personel hingga manajemen. Mereka pun sudah mengantongi total 6 album, belum termasuk karya musik lain. Tentu banyak hal yang mereka lewati bersama, baik sebagai band, idola maupun sebagai rekan kerja bagi banyak pihak. Reporter LINIKINI @pohanpow sempat menemui Angga Puradiredja saat jumpa pers D'Essentials of Groove pada Selasa [17/05]. Inilah hasil perbincangannya seputar perjalanan 14 tahun mereka:

Apa sih yang paling beda dari perjalanan MALIQ dari tahun ke tahun yang dirasain sampai detik ini udah nyampe tahun ke-14?

"Nggak pernah merasa ini sebuah pencapaian. Kami nggak pernah merasa seperti itu. Setiap harinya, kami terus mikir, terus berjuang, terus berevolusi. Pada saatnya orang bilang, oh udah sampai sini udah sampe situ. Kadang kami nggak menyadarinya bahwa kami ternyata udah 14 tahun ya."

Bagaimana kalau dalam perjalanan musiknya? Terutama dalam hal MALIQ menyikapi industri musik sampai pada usia 14 tahun ini?

"Kalau gue sih sebagai yang ada di sini, jujur aja nggak harus berbuat sesuatu yang out of the box lagi karena yang MALIQ cari tuh bukan orang yang melihatnya seperti itu. Musik pop itu pun terjadi bukan karena kami ingin seperti itu. Ada yang bilang, album masterpiece MALIQ itu album pertama. Kalau dirunut lagi gimana pembuatannya, itu tanpa pressure. Pada saat kami ingin underpressure, ingin berbuat sesuatu yang terlalu spesifik kadang eksekusinya nggak pernah terjadi.

MALIQ sudah 14 tahun, tapi baru konser gede sekarang. Itu 'kan boleh dibilang telat. Mungkin kami terlalu terkungkung di zona sendiri, Harapan kami dengan adanya  berbagai kerjasama, perspektif MALIQ bisa beda banget sehingga ada karya yang berbeda lagi."

Pernah mau bubar nggak sih? Maksudnya seperti menemukan satu titik yang stuck banget.

"Gue sih nggak. Mungkin karena gue yang ngediriin. Gue mungkin punya koridor-koridor yang gue percaya itu working. Tapi nggak tau anak-anak yang lain, mungkin pernah. Tapi mungkin jenuh atau stuck itu sangat pernah."

Kapan tuh?

"Ya, kadang kan walaupun kerja di field yang kami suka, dan dibayar untuk itu. Itu ‘kan suatu dream job ya. Tapi, masalah tuh selalu ada. Kadang kalau masalah itu ditempa terus, itu bisa jadi momen jenuh atau momen ya putus asa. Ya akhirnya,  balik lagi, bersyukur aja. Apalagi pada saat punya keluarga. Itu perspektifnya beda banget."

Jadwal manggung MALIQ terbilang padat. Pernah ngerasa bosan nggak sih manggung terus?

"Ini hasil kolaborasi kami sebagai musisi dan manajemennya. Bosan, itu dia… kadang ada juga sih. Dalam arti, bukan berarti kami ingin berhenti nge-band. Tapi kami sudah melakukan itu udah kayak robot. Yang dulunya manggung 3 bulan sekali, pas manggung excited banget. Kami dituntut sebagai robot. Tapi itu bukan hal yang negatif. Kami menyadarinya justru pada saat kami berada di dunia profesional itu jadi suatu berkah."

Apa sih yang bisa didapatkan dari semua itu?

"Kami jadi belajar lebih banyak. Bukan hanya ego sebagai musisi yang ditonjolkan, tapi sudah berpikirnya sebagai industri. Banyak hal yang perlu kami layani, mulai dari yang ngundang MALIQ, klien, sponsor, sampai kru kami sendiri."

MALIQ milih-milih manggung nggak sih atau tergantung apa gitu?

"Tergantung dua belah pihak ini saling diuntungkan atau nggak. MALIQ dan penyelenggara acara musti punya mutualisme sehingga acaranya berlangsung dengan baik. Yang kami berikan sesuai dengan yang mereka harapkan. Itu ideal banget. Tapi kalau  request-nya aneh walaupun berapapun bayarannya, kami akan berpikir dua kali. Kalau mereka nggak suka MALIQ, ya nggak apa-apa. Silakan pilih band lain. Jadi, kalau ditanya berdasarkan apa kami ambil untuk manggung, jawabannya, ya sama-sama senang agar acaranya sukses."

Ada rencana album baru nggak?

"Awalnya memang kami ingin ada album lagi. Tapi MALIQ terlalu banyak event tahun ini. Kalau keluar album sekarang, malah orang jadi lewat aja. Energi kami nggak cukup untuk fokus cuma untuk album. Makanya, kami memikirkan treatment single."

MALIQ bawain berapa lagu di D’Essentials of Groove?

“Bukan berapa banyaknya, melainkan durasinya. MALIQ dapat satu jam. The Groove satu jam. Banyak sih take out lagu. Tapi ini pelajaran juga bagi kami untuk bikin konser kolaborasi. Ya, buat kami, pasti banyak mikir ke arah lagunya untuk dapetin sebuah konsep dan feel sehingga nanti semua puas."

Apa yang membuat D’essentials harus datang ke D'Essentials of Groove?

"Kami butuh support mereka untuk ada di sana. Ini achievement bagi MALIQ. Jangan melihat lagunya aja, tapi gimana kami memperlakukan panggungnya. We've been one big stage, kayak Soundrenaline atau JJF. Ini momen ya untuk Truly D'essentials untuk support MALIQ. Nanti mau nggak mau, kami harus membuktikan dalam menangani pressure-nya, menangani audiens-nya, bagaimana kami ngasih message yang beda lagi di sana. Pasti akan ada hal yang beda setiap MALIQ manggung di panggung yang beda.

D’essentials energi bagi kami. Di perjalanan ini pasti ada masalah. Makin banyak D’Essentials, efek positifnya pada konser ini akan berasa, bukan hanya di Berlian atau penjualan tiket. Gue pengin, musik segmented ini go big bisa disejajarkan dengan musik pop lainnya. Ini momennya. Momen mereka untuk eksis di industri musik Indonesia. Kita bareng-bareng. Jangan hanya MALIQ aja. Kami pengin ngebawa terus D'Essentials ke situ. Kritik dan saran dari mereka, kami tampung terus. Semoga ini bisa jadi awal konser tunggal MALIQ. [][teks & foto @pohanpow]