Hafiyyan Faza: Momen Nggak Bisa Terulang
Interview

Hafiyyan Faza: Momen Nggak Bisa Terulang

by Pohan
Thu, 02-Jun-2016

Setelah mewawancarai Faizal Fanani pada Desember 2015, baru-baru ini LINIKINI mewawancarai teman baiknya, Achmad Hafiyyan Faza atau akrab dipanggil Iyan. Dia berprofesi juga sebagai fotografer. Iyan mulai terjun ke dunia fotografi pada tahun 2009 khususnya foto panggung.

Menurut Iyan, modal utama jadi fotografer harus percaya diri. Selain itu harus bisa menghargai karya sendiri dan milik orang lain. Iyan berencana merilis buku foto dan mengadakan pameran tunggal dalam melengkapi karier memotretnya.

Ya, tiap fotografer memiliki cara yang berbeda dalam mengelola karier. Pria kelahiran Jakata, 8 Oktober 1991 ini termasuk fotografer profesional yang tidak segan berbagi pengalaman dan pengetahuan di website pribadinya, highisophotos.com. Berikut hasil wawancara Reporter LINIKINI @pohanpow dengan Iyan:

Bagaimana lo menilai sebuah foto yang baik?
“Kalau gue sih, lebih ke momen sama komposisi/framing. Namanya juga fotografer panggung. Pastinya momen yang lebih diutamakan. Framing yang baik mendukung agar momen yang kita ambil terlihat lebih baik. Gue inget banget,  tahun 2010-2011 lalu, kalau ngambil foto masih miring-miring nggak jelas. Jadi sayang sama momen yang terlewatkan. Aturan lurus bisa jadi simetris gara-gara miring angle-nya jadi jelek. Kalau warna foto tergantung, kalau lebih bagus di BW, pasti gue BW-in karena nggak semua foto bagus di BW-in."

Menurut lo, dinilai dari segi apa seorang fotografer bisa disebut profesional?
“Menurut gue, fotografer profesional bukan dinilai dari gear yang mahal. Tapi juga karena dia seseorang yang mencari penghasilan dari bidang tersebut. Nggak hanya sekedar hobi, tapi, foto-fotonya juga harus bagus."

Kalau disuruh pilih, lo lebih suka motret band atau penyanyi solo dan apa alasannya?
“Gue pilih band. Tapi ya kalau bisa yang rock atau aksi panggungnya keren. Tingkat kesulitan sih sama aja. Kalau band harus banget capture semua personel. Jadi, saat motret, kita mesti jeli merhatiin semua personelnya. Kalau solo, biasanya buat variasi angle dan merhatiin momen unik dari penyanyinya biar nggak bosen. Entah lagi senyum, lagi pasang muka aneh, atau gaya lainnya. Untuk personel bandnya, gue juga biasanya capture semuanya. Semua akan berasa dan sama sulitnya ketika loe harus motret penyanyi dan band yang sama dalam beberapa titik/tur. Buat gambar yang variatif dengan aksi panggung dan orang yang sama itu nggak mudah. Makanya, gue suka gonta-ganti lensa atau motret dari posisi beda dan kembali melihat referensi foto-foto panggung di internet."

Penting nggak sih dapet akses motret di pit?
“Kalau nggak tugas motret untuk sebuah band atau promotor sih nggak apa-apa, dari jauh motret bisa pake lensa tele. Tapi kalau emang kita tugas motret dan emang artisnya memperbolehkan adanya fotografer di pit, ya ambil saja. Foto dari jauh/crowd bisa diambil setelah motret di pit atau yang biasa disebut dengan "first three song no flash".

Siapa fotografer yang menginspirasi karir motret lo?
"Todd Owyoung dan Adam Elmakias. Todd Owyoung karena taste fotonya, bright, colorful dan gue selalu suka komposisi fotonya. Kalau karier memotret, Elmakias yang membuat gue pede lepas kerja kantoran dan bisa jadi fotografer profesional. Gue belajar dari nonton DVD-nya Elmakias tentang cara melakukan pendekatan ke band, cara email ke calon klien, cara melakukan photoshoot untuk band dan banyak lagi."

Apa kekurangan panggung musik di Indonesia, khususnya yang di Jakarta?
“Panggung musik lumayan oke di Jakarta dibanding kota-kota pelosok yang pernah gue datengin terbatas produksinya. Yang kurang mungkin lighting designer. Belum banyak. Mubazir. Soalnya set lighting sudah masif produksinya tapi nggak bisa maininnya atau nggak sesuai dengan gimmick-gimmick dan lagu si penampil di panggung. Paling itu sih yang penting, lighting designer/operator. Baru beberapa band di Indonesia yang pakai lighting designer/operator. Contohnya: Burgerkill, NOAH, yang dipegang sama Mas Yoni Wijoyo. Lagu sama lighting, bener-bener kawin."

Nah kan 'High ISO' udah macam brand mark, bisa ceritain nggak tentang nama tersebut?
"Iya, nama High ISO gue pake karena orang susah menyebut nama lengkap gue. Kadang orang baru, mau manggil atau nulis nama gue salah. Jadi, gue bikin satu nama lagi. Tadinya cuma iseng untuk feed foto panggung di Instagram. Eh, malah jadi brand mark atau julukan. Alasannya High ISO karena gue jarang pakai ISO rendah pas motret konser. Sebenarnya sih semua fotografer panggung juga pasti pada pake High ISO. Ya, udah karena menarik untuk jadi nama dan simpel, gue pake deh."

Gimana menurut lo soal hak cipta foto? Pernah nggak foto lo dicuri/dipakai tanpa izin?

"Dari yang gue liat, hak cipta masih suka diremehkan. Musisi aja masih banyak yang karyanya dibajak, fotografer pun sama merasakan yang namanya foto mereka dicuri atau diakui orang lain. Foto gue pernah dicuri. Tapi ya udah, gue anggap itu risiko posting di media sosial. Harusnya yang suka nyuri atau repost tanpa credit title [keterangan nama fotografer] harus diedukasi."

Apa harapan lo untuk dunia fotografi di Indonesia secara umum?
“Harapan gue, semoga makin banyak pecintanya, semakin banyak yang sadar pentingnya fotografi. Semoga orang-orang di luar sana bisa mengapresiasi pelaku fotografi karena kita enggak beda kok dengan seniman lainnya. Kita buat karya enggak gampang, butuh proses, waktu, tenaga, pikiran dan modal. Jadi, semoga bisa lebih baik dari sisi apresiasinya."

Sebutin 3 tips utama memotret foto panggung!

1. Persiapan [kamera DSLR atau mirrorless disarankan, lensa bukaan lebar, batre dan memori cadangan].

2. Tembak sebanyak-banyaknya, semakin banyak menembak, semakin banyak kemungkinan dapat gambar bagus. Ini yang gue dapet dari living legend photographer, Firdaus Fadlil.

3. Terus latihan, fotografi itu semua tentang pengalaman di lapangan, semakin sering, semakin keasah [menurut gue lho].


Di bawah ini beberapa foto yang sangat berkesan bagi Iyan:

1. Foto Begundal

[sebutan fans Burgerkill, red]

"Foto ini diambil saat gue tugas untuk Hellshow di Bandung. Akhirnya, gue kesampean juga motret di bawah hujan dan subjeknya juga menarik. Gue rela-relain kamera basah untuk ambil momen ini. Kamera bisa dijemur, tapi momen nggak bisa terulang."

2. Foto Bon Jovi

Gue dua kali nonton Bon Jovi dalam 10 hari. Nggak rezeki motret di negeri sendiri, akhirnya gue kejar konser yang di Singapore. Sejak pintu masuk konser dibuka jam 3 sore, gue udah stay di frontrow sampe jam 11 malam untuk bisa mengamankan jarak memotret."

3. Foto Nidji

"Satu hal yang gue syukurin, gue motret band yang aksi panggungnya bener-bener gokil. Ini adalah salah satu momen ketika empat personel Nidji lompat berbarengan saat lagu 'Biarlah' berkumandang dalam tur Pro Jam Mild di Tegal."

4. Foto Giring ‘Nidji’

"Foto diambil 2 Maret lalu di Berau, Kalimantan Timur, pas kru acara lagi semprotin branweer ke penonton. Ternyata cipratannya ke panggung juga, langsung aja gue jepret. Dari 6 jepretan, yang hasilnya memuaskan cuma 2 foto. Salah satunya ini yang terbaik."

[][teks @pohanpow | foto dok. @HafiyyanFaza, @nona_ganist]