Nosstress: Kami Benci Pariwisata Kebablasan!
Interview

Nosstress: Kami Benci Pariwisata Kebablasan!

by Pandu
Fri, 23-Sep-2016

Gerakan Bali Tolak Reklamasi yang digalang oleh ForBALI memasuki tahun keempat. Lewat inisiasi LSM sejawat, Jakarta ForBALI, mereka bisa membuat sebuah hajatan kecil di Joglo Beer House, Kemang, belum lama ini.

Acara “Panjang Umur Perlawanan Tolak Reklamasi Teluk Benoa” digelar untuk merayakan perlawanan yang belum ketemu titik usainya.

Hajatan berlangsung sejak pukul 14.00 hingga 00.00, yang tentunya padat dengan atribut “Tolak Reklamasi Teluk Benoa”. Diramaikan juga oleh 90 Horse Power, Dirty Rotten Bastards, The Ikan Bakars, Yella Sky Sound Systems, Jerinx, Blackteeth, dan Nosstress.

Usai Nosstress manggung dan melayani kerinduan fans ibukota, giliran kami yang minta waktu mengobrol. Kami duduk bersama di meja kayu cokelat yang melingkar, yang di atasnya padat oleh gelas air putih dan juga rasa penasaran sudah sejauh mana sebetulnya perlawanan Masyarakat Bali terhadap Perpres 51/2004.
------------------

Perlawanan ini sudah masuk tahun keempat, hasilnya apa?
Semakin besar, semakin hebat, dari segi jumlah [massa] juga semangat. Perlawanan kami cukup membuat mereka [pemodal] bingung.

Kebingungan mereka berimbas apa sama kalian? Kekerasan atau ancaman?
Kami biasa mendapat fitnah dari mereka di sosmed. Tapi kami paham jika itu cuma akun palsu dengan followers nol. Jadi kami nggak gubris, biarin aja.

Itu langsung ke personal atau band kalian?
Hmm, sepertinya siapapun yang tweet soal Bali Tolak Reklamasi [BTR] kena serang deh. Jadi semacam bot gitu yang menyerang kami. Kami sudah difitnah separatis. Tinggal tuduhan komunis saja yang belum. Hahaha.

Pernahkah Gubernur turun langsung menemui kalian?
Belum. Soalnya kan ada tingkatan-tingkatan. Kami kan masih di bawah banget.

Selain konser, ada aksi lain yang ForBali lakukan untuk menyuarakan BTR?
Banyak, karena di kami kan ada beragam divisi yang tiap minggu pasti beraksi. Ditambah sekarang setiap desa adat juga turun ikut menentang BTR. Lewat budaya populer dan tradisional juga.

Apakah setiap orang, terutama di Bali Selatan ikut turun aksi BTR atau setengahnya acuh?
Sekarang sudah sebagian besar turun. Ya walaupun yang tidak acuh juga masih ada, tapi jauh lebih sedikit dari yang peduli. Apalagi desa adat di pesisir selatan sepertinya sudah semua ikutan, terutama anak muda.

Oia, kondisi hutan bakau di Selatan, sekarang bagaimana?
Seharusnya untuk melindungi pulau dari abrasi, kita memelihara hutan bakau kan? Tapi ini justru pemerintah membabat ratusan hektar bakau untuk bangun jalan tol yang akan dipakai sebagai jalan masuk ke proyek pulau buatan.

Seberapa jauh alam Bali sebetulnya berubah?
Wah,  musim hujan begini sekarang di mana-mana banjir. Bukan cuma yang selatan saja. Di Denpasar yang pusat juga sudah banjir.

Aktivis ForBALI mendapat fitnah separatis terkait “Indonesia Sudah Mati. Pancasila Was Dead”, tanggapan kalian?
Kami tidak ingin separatis kok. Gerakan ini murni karena kami cinta Indonesia, karena semangat nasionalisme. Kami nggak ingin Indonesia tercederai. Kami juga bingung kenapa difitnah begini, bahkan oleh pemerintah sendiri. Kami bilang ke teman-teman semua bahwa ini hanya fitnah dan sudah ditangani oleh divisi hukum ForBali.

Atmosfer ketika demo BTR di sana gimana sih?
Wah, elu harus ke sana! Gila asli! Perjuangannya terasa nyata sekali. Atmosfernya beda daripada Upacara Ogoh-ogoh yang ada unsur hura-hura. Demo BTR tetap senang-senang tapi ada sikap ideologis yang nggak bisa kami jelaskan. Kami betulan melawan dan berjuang.

Tentang pencidukan aktivis ForBALI ketika hari raya Galungan itu ceritanya gimana?
Jadi bendera merah putih diturunkan, tapi bukan maksud untuk melecehkan. Kami turunkan, lalu kami taruh bendera ForBali di bawahnya untuk dinaikkan lagi. Cuma kan sekarang semua dijadikan masalah supaya bisa menekan kami. Padahal polisi juga ikut megangin waktu penurunan. Ada bukti fotonya.

Nah, soal polisi, kalian kan sering bersigungan pasti sama mereka saat demo. Benci atau dendam nggak?
Kalau sekedar gedeg yang sudah umum terjadi, itu kan wajar. Kalau dendam, kami nggak ada. Kami paham betul posisi mereka cuma sebagai alat penguasa. Kami juga nggak ingin terjadi kesalahpahaman dengan mereka. Kami berdoa untuk mereka agar tidak terus diperalat penguasa.

Pernah nggak sih ada polisi yang ikutan demo BTR?
Hahaha, pas mereka pakai seragam aja banyak kok yang bisik-bisik dukung kiamu. Karena tugas dan perintah aja, ikut apa kata bos. Di belakang tetap kok banyak yang dukung gerakan ini.

Yang kami tahu di sini, Bali itu indah. Faktanya di sana?
Justru Bali berubah total itu akibat pariwisata. Sampai akhirnya kebablasan seperti sekarang. Misalnya, perilaku konsumtif, lingkungan, & sosbud. Dinamikanya sudah berubah jauh.

Hmm, sejauh itu ya..
Pembangunan memang drastis sekali. Tapi cuma terpusat di Denpasar Selatan saja. Sementara yang di pelosok nggak tersentuh. Padahal itu yang berpotensi sekali.

Terakhir, kalian benci pariwisata yang terpusat atau kalian ingin pariwisata yang merata?
Kami benci pariwisata yang kebablasan seperti sekarang. Di berita seolah Bali itu masih cantik, nyatanya lingkungan kami sudah hancur. Kami nggak munafik, Kami juga butuh duit. Kami nggak anti pembangunan, kemajuan ekonomi Bali juga dari pariwisata. Tapi ini sudah kebablasan karena tidak hirau lagi dengan manusia dan alam.

------------------
Oleh Mudiyati Rahmatunnisa, pengamat politik, Indonesia disebut krisis negarawan. Sosok visioner yang mendahulukan kejayaan serta kemakmuran bangsa dan negara. Sedangkan Popong Otje, politisi senior Partai Golkar menyebut untuk menjadi negarawan, tidak boleh alergi dengan partai politik, seperti dikutip dari news.okezone.com.

Sementara, Bung Karno, negarawan bangsa ini, menemukan ideologi Marhaenisme dari petani yang menggarap ladang kecil di Jawa Barat. Bukan meja parlementer.

Waktu sudah bergulir jauh, barangkali Indonesia bukan krisis negarawan. Tapi tipisnya kesempatan dapat jatah kursi karena harus terlalu banyak kompromi. Jadi mereka harus sembunyi di antara riuh-rendahnya tepukan tangan dan deru amplifier. Atau, berkampanye ideologi sambil nyeruput kopi di warung mie. Bisa jadi!

Kami tidak bilang Nosstress sebagai negarawan. Tidak. Toh di antara aksi demonstrasi, tolak reklamasi dan jadwal nge-band, Angga, Kupit, Cok lebih pilih tidur, mancing, dan mikirin masa depan kampung halaman.

Tapi di luar obrolan tentang Gerakan Bali Tolak Reklamasi dan keterlibatan mereka di LSM ForBali. Kami juga ngobrol tentang album ketiga mereka yang akan keluar serta kolaborasi dengan Mitra Bali yang mengusung ideology Fair Trade. Ini cuma sekadar bocoran, sampai tiba waktunya Nosstress rilis. Semoga kalian penasaran! [][teks @HaabibOnta | foto Agung Pambudi]