Stori Rekaman Album MALIQ & D'Essentials [bagian 1]
Interview

Stori Rekaman Album MALIQ & D'Essentials [bagian 1]

by Pohan
Sat, 27-May-2017

Tahun ini MALIQ & D’Essentials menginjak usia 15 tahun. Ekspedisi yang mereka lewati diikuti segala alterasi termasuk impresi personel baru sejak album Sriwedari.

Perubahan yang cakap memicu band ditinggal penggemarnya malah menjadi keberuntungan bagi MALIQ karena berhasil mendapat sanjungan lewat Musik Pop.

Meski “Untitled” konsisten bertengger dalam senarai lagu di setiap pertunjukan mereka hingga sekarang. MALIQ & D’Essentials tidak akan rujuk persis sepantun album 1st.

Karya musik teranyar mereka, Senandung Senandika membawa pendirian yang baru. Berikut hasil wawancara dengan Jawa dan Widi Puradiredja saat mereka tengah melakukan mixing album hari kedua [05/04]:

Apa tantangan album ketujuh?

Jawa: “Tanggungjawab sama si album. Kami nggak mau jadi band yang, 'udahlah semua orang juga pasti telan-telan aja, kita yang aman-aman aja’. Banyak yang bilang 'udah balik kayak dulu lah’. Ternyata nggak segampang itu bikin MALIQ yang kayak dulu.”

Widi: "Sebulan pertama cukup frustasi. Tiap hari nemuin ini keren, besok dengerin nggak keren, gitu aja terus. Gue ngeliatnya sih ini album dewasa. Gue baru bisa menyadari kalau selama ini orang bilang album lo dewasa, ternyata nggak. Gue baru ngerasain namanya album dewasa itu di album ini esensinya."

Bagaimana soal pembuatan lirik lagu?

Jawa: "Ngalir gitu aja. Nggak jadi yang mengada-ngada. Nggak jadi sok-sok naksir trus bikin lagu naksir. Tapi, ya udah dengan keadaan kami sekarang, proses yang udah kami lewati dituang lewat lirik-liriknya. Ya, bisa dibilang lebih dewasa."

Widi: "Dewasa bukan sekonyong-konyong lo bisa liat dari musik di technical. Lo bikin suatu lirik yang dalam. Musik yang lebih kalem berarti lo dewasa. Menurut gue, album yang dewasa lebih ke sebagai band bisa mengambil keputusan yang paling bijaksana untuk band itu sendiri."

Apa kalian sempat mati ide dalam penggarapan album?

Widi: “Ini album termati ide. Masalah di bulan pertama itu yang kami bahas. Udah hampir frustasi. Gue sampe bilang ke anak-anak, kayaknya gue nggak usah ikutan di album ini deh. Tiap orang di sini secara personal ngeliat hal yang beda terhadap album, tujuan album, terhadap personal."

Jawa: "Jadi kami udah punya demo beberapa. Iseng aja diurutin lagunya. Oh kalo di album nomor satu. Mulai tuh kebuka tuh. Gini nih flow albumnya. Nah, itu ngaruh ke aransemen, ke sound yang dipilih, ke lagu yang dipilih apa, bicara tentang apa. Jadi ke situ semua.”

Bagaimana cover art albumnya?

Widi: "Kami minta pelukis Natisa Jones. Dia ngelukis berdasarkan lirik lagu. Dia sempat menawarkan dua opsi. Dia bilang lebih baik digital. Gue maunya dilukis. Pertama liat abstrak juga. Tapi kalo sambil dengerin lagunya masuk akal. Gue puas kolaborasi bareng dia."

Apa yang membuat kalian merasa keren dengan album ini?

Widi: "Gue baru menyadari pas dengerin bareng terakhir. Angga ngomong ini album gila sih. Gue menyadari itu. Gue percaya, karena Angga jarang masuk studio. Gue pribadi nggak tau ini keren apa nggak, tapi gue bangga. Ini album the best. Worth it begadang gue. Misalkan ini album terakhir, gue puas." [][teks @pohanpow | foto Nino Nirmolo]