Stori Rekaman Album MALIQ & D'Essentials [bagian 2]
Interview

Stori Rekaman Album MALIQ & D'Essentials [bagian 2]

by Pohan
Sun, 28-May-2017

Band yang sudah melalui karier belasan tahun niscaya punya cerita menarik dalam penggarapan album. Prakarsa tak hanya muncul dari satu atau dua kepala saja mengingat MALIQ & D’Essentials dihuni enam anggota.

Setiap hulu memiliki keinginan serta peran yang berbeda. Ketika berhasil melampaui hari-hari yang menegangkan sekaligus memuaskan dalam studio rekaman pasti akan leluasa.

Kesuksesan MALIQ & D’Essentials tak lepas dari ikhtiar dan loyalitas. Jadwal panggung yang padat sampai akhirnya mereka kembali melahirkan judul album baru, Senandung Senandika.

Kehadiran album ini dianggap cukup menantang bagi Angga Puradiredja. Bahkan terjadi perubahan referensinya sebagai penyanyi. Berikut hasil wawancara di grand opening Sehidup Sekopi [16/04]:

Seberapa penting sih band punya album baru?

“Penting banget sih apalagi zaman sekarang ya karena menurut gue album itu somehow jadi kayak simbol kekompakan dan energi dari band. Kalau diliat nih, setiap pembuatan album tuh jadi dekat yah, chemistry-nya harus dibangun."

Apa kesuksesan MALIQ ini sebuah cita-cita, kerja keras, atau keberuntungan?

“Tiga-tiganya. Cita-citanya setinggi langit tapi mesti simpel. Gue pengin buat band yang lagunya gue suka, feel band-nya yang gue suka itu cita-citanya. Waktu itu kebetulan gue tuh nggak mau buat yang lagi mainstream. Bukan benci ya, tapi emang nggak suka aja.”

"Referensinya nggak ke arah sana. Kedua kami lakuin, kami buat band, kami manggung. Kami jalanin terus, kami kulik terus sampai dapat marketnya sampai dapat celahnya untuk mengomunikasikan karya kami ke orang-orang. Pada saat berhasil sebenarnya di situ ada sisi keberuntungannya banget.”

"Itu yang namanya, aku sih ‘jalan Tuhan’ ya, nggak bisa dipisahkan sih mungkin sekitar 20-30% itu berpengaruh banget. Semakin kita kerja keras, semakin besar keberuntungannya. Jadi itu sejalan.”

Bagaimana kalian mengevaluasi perjalanan ini?

“Kami butuh orang [lain] untuk itu. Dulu manajer kami yang pertama, Indra, sangat keras mengevaluasi kami. Dia yang ngebentuk MALIQ untuk ada di posisi ini. Eksklusifitasnya MALIQ, tone-nya MALIQ, attitude-nya MALIQ. Kalau kami dari sisi musiknya secara musisi, tapi dia yang ngebentuk secara attitude orangnya.”

"Bahwa lo kalau mau ‘ekslusif' atau beda, lo harus bertindak seperti ini. Dia yang ngarahin. Kami dievaluasi mengenai hal itu, dari mulai bajunya, apa attitude kami setelah manggung, gimana cara ngomong, gimana kami dikenalin sama networking kami. Sampai akhirnya apa yang mesti kami omongin di atas panggung, koridornya tuh dia perhatiin banget."

Bagaimana proses penggarapan album ketujuh?

“Ini menantang banget. Tricky banget, karena jujur aja, ini adalah terusan dari Musik Pop, blue print Musik Pop ya ini adalah jadinya seperti ini. Kalau bisa dibilang ‘kan berubah dari musik MALIQ yang lama dan berubah dari apa referensi gue sebagai penyanyi.”

"Nah, itu gue informasiin tuh ke anak-anak. Ini nih 'sedikit tantangan' bisa jadi masalah kalau kami nggak obrolin secara open. Contoh ngomongin tentang cinta. Misalnya cinta dalam keadaan jatuh cinta, cinta monyet, sama cinta dalam keadaan peperangan ‘kan beda. Cinta cinta juga.”

"Gue maksudnya peperangan nih tapi gue interpretasinya pada saat cinta monyet 'kan nggak ketemu. Itu yang mesti dibicarain. Nah itu terjadi di album ini. Di sini tuh khususnya kalau gue sebagai vokalis, dan sebagai fresh ear-nya MALIQ.”

"Gue yang bukan anak produksi, bukan anak teknis. Gue cuma datang pada saat harus take vocal, lagunya jadi. Nah, itu somehow bisa jadi objektif enak atau nggak lagunya, bagaimana lagunya. Tapi bagi gue yang harus nyanyi ya automatically harus belajar belakangan untuk keep up sama taste.”

"Makanya, di sini, proses teknis nyanyinya agak lumayan panjang dari mulai buat demonya, didengerin dulu sampai akhirnya di studionya. Mungkin sempat ngulang take-nya. Banyak kayak begitunya.”

Muncul perdebatan nggak dan apa hal yang paling mendebarkan?

"Frekuensi MALIQ tuh beda di album ini. Ibaratnya referensinya beda terutama untuk gue. Anak-anak -- Widi, Lale, Ilman, Jawa-- itu kan karakternya musisi yang produser. Jadi mereka ke-trigger untuk berkembang secara musik. Justru musik-musik baru nge-trigger mereka.”

"Kalau gue sebenarnya sebagai musisi itu lebih ke penikmat, penyanyi. Jadi, seniman gue arahnya itu. Gue nggak terlalu ke-trigger dengan sesuatu yang baru atau nge-dict sesuatu yang beda. Kalau baru, masih iya lah, tapi yang beda.”

"Gue kayaknya belum pernah dengerin klasik deh, gue dengerin ah. Trus akhirnya si albumnya mengarah ke klasik. Gue tuh nggak terlalu gitu. Gue suka R&B, soul, pop, rock, oke, tapi black rock gitu yang orang kulit hitam. Nah itu masih ada, masih bisa.”

"Tapi kalau yang udah terlalu jauh, gue tuh nggak. Nah, di sini tuh terjadi perubahan yang cukup jauh referensinya. Yang mendebarkan tuh itu. Gila, gue kapan nyanyi lagu kayak begini? Pada saat demo itu nyampe, gue langsung not even once gue nyanyi lagu seperti ini, tapi dikasih lagu seperti ini. Gimana nih? Gue benar-benar nggak dapet frekuensinya nyanyi lagu itu.”

Bagaimana mengatasinya?

“Ada perubahan dari awal lagu itu terbentuk sampai akhirnya sekarang jadi itu akibat obrolan kami tuh terjadi perubahan. Perubahan feel dari album ini. Ada lagu barunya, ada aransemen baru. Bukan ada lagi, banyak aransemen baru yang mengubah feel album ini.”

"Apakah itu demi gue? Atau demi album itu sendiri? Pada saat gue kasih pendapat anak-anak jadi mengubah? Gue nggak tau. Tapi definitly itu berubah sekitar 30-40% perubahannya. Sejak kami ngobrolin masalah frekuensi itu tadi.”

Bagaimana kalau D'Essentials tidak suka dengan hasilnya?

“Kami kan justru pengin D’Essentials itu ngasihnya bukan hanya pujian aja. Tapi kritik dan saran karena kami yakin D’Essentials itu murni. Untuk apa mereka ngejelekin kami? Apapun itu yang penting kita bisa ngobrol. Kami bisa dapat masukan.”

"Kami pun sadar sebagai musisi, seniman itu punya idealisme, punya mood yang up and down juga. Nggak harus selalu sesuai sama keinginan D’Essentials. Bukannya kami nggak mau nge-serve. Tapi kami lagi merasa seperti ini. As D’Essentials dulu suka sama kami juga karena apa yang kami rasakan."

"Nah, berevolusi itu 'kan hak semua orang sebagai manusia. Kami sih maunya evolusinya bareng. Cuman kadang 'kan perubahan nggak selalu sejalan. Ada risiko-risikonya. Cuma again, gue yakin fans tuh nggak sekadar menilai dari satu atau dua karya aja.”

"Mereka pasti ngeliatnya panjang lebar jajaran genjang, dan kami berharap D’Essentials nggak ninggalin kalau nggak suka sama ini. Kayak gue juga ngefans sama musisi-musisi [lain] ya. Gue mengakui ada yang nggak suka juga albumnya. It’s OK. Gue tetap nonton YouTube-nya, tetap kalau dia datang, gue datang.”

Lagu yang paling cepat digarap?

“Paling cepat ‘Manusia' karena itu frekuensinya MALIQ. Salah satunya lagu yang paling frekuensinya MALIQ. dan itu dibuat setelah kita ngobrol akhirnya ada lagu itu. Last than a week lagunya jadi. Trus gue nyanyinya juga paling mudah.” [][teks @pohanpow | foto Nino Nirmolo]