Inilah Dukungan Tepat Bagi Mereka
Komunitas

Inilah Dukungan Tepat Bagi Mereka

by Sherra
Sat, 22-Oct-2016

Kadang orang ingin langsung menghibur atau membesarkan hati orang yang sedang dilanda kesedihan teramat dalam. Misalnya setelah dirinya divonis terkena kanker payudara. STOP!

Menurut ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia [YKPI], Linda Amalia Sari, setelah seseorang divonis terkena kanker, kita harus mencari saat yang tepat.

“Bayangkan saja, ketika seseorang sedang sehat dan senang lalu divonis kanker payudara. Harus kemoterapi, operasi, radiasi. bahkan masektomi. Bagi seseorang perempuan, itu hal yang tidak mudah. Apalagi payudara, ini kan mahkota ibaratnya. Apalagi bagi yang masih punya anak kecil atau belum menikah, ini kan jadi persoalan yang berat sekali,” ujarnya.

“Karena orang yang baru didiagnosa kanker payudara hari ini, jangan kita coba langsung bilang “kamu harus sabar”, dia lagi belum selesai dengan diri sendiri ya. Jadi perlu ada komunikasi yang tepat, mengerti psikologis pasien dan perlu waktu,” katanya lagi.

Wanita yang lahir 15 November 1951 ini juga bilang komunitas pejuang kanker payudara sangat penting untuk para pasien kanker payudara agar bisa memberikan semangat saat menjalani pengobatan.

“Biarkan dia dua minggu sendirian untuk memutuskan, baru kita [komunitas] masuk. Masuk pun kita jangan yang seolah-olah mengajarkan tapi harus lebih banyak mendengar curahan hatinya, pelan-pelan mereka akan datang ke kita,” tambahnya.

Menurutnya, komunitas salah satu yang membangun semangat para pasien karena sama-sama memiliki “penderitaan” dan pengalaman yang sama. Mereka juga bisa saling berbagi pengalaman, menguatkan, memberi masukan yang positif. Beliau juga cerita bahwa para pejuang kanker payudara selalu mengistilahkan rumah sakit menjadi fakultas dan dokter adalah dosen.

“Hampir tiap hari di WhatsApp, kami saling memberi semangat. Misalnya saat akan kemoterapi dia rumah sakit mana, mereka bilangnya mau kuliah ke fakultas D, pakai istilah untuk rumah sakit, seperti Dharmais. Dibikin gembira aja, misalnya “aku mau kuliah dulu, dosen saya lagi nggak ada” padahal itu dokter. Hal tersebut jadi dibikin happy,” cerita mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini. [][teks & foto @saesherra]