Indonesia Berkebun, dari Medsos ke Dunia Nyata
Komunitas

Indonesia Berkebun, dari Medsos ke Dunia Nyata

by Pandu
Mon, 10-Aug-2015

Bukan cuma kenaikan harga sembako dan biaya sekolah saja yang bisa bikin resah. Rupanya lahan-lahan tidur di kota besar yang banyak tersebar juga bisa ikut pusing kepala. Lewat sebuah aksi di media social lahirlah Komunitas Indonesia Berkebun.

Komunitas ini menggerakan orang dari berbagai kalangan untuk memanfaatkan lahan-lahan tidur tersebut. Secara komunal mereka menanaminya dengan tanaman yang bermanfaat. Sehingga lahan tidur tadi menjadi sebuah kebun produktif.

Aksi sosial ini mulai dibangun sejak tahun 2010 oleh empat orang. Shafiq Pontoh, Ridwan Kamil, Sigit Kusumawijayam, dan Achmad Marendes. Ketika itu cuma berpusat di Jakarta, memanfaatkan lahan tidur di Springhill. Mulai dari Desember hingga April 2012, tanaman seperti bayam dan kangkung pun sudah bisa dipanen.

Dalam lima tahun, aksi komunitas ini berkembang di 38 kota berbeda di seluruh Nusantara. Menjangkau empat pulau besar, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Di Jabodetabek ada Bogor Berkebun, Bekasi Berkebun, Depok Berkebun, IPB Berkebun, serta Jakarta Berkebun.

Indonesia berkebun mengadopsi urban farming dalam menjalani kegiatannya. Serta menanamkan konsep 3E, yaitu Ekologi, Edukasi dan Ekonomi. Mereka berusaha mengembalikan kesuburan tanah, memberikan pendidikan ke public agar cinta lingkungan, dan menciptakan ketahanan pangan.

Untuk bergabung dengan komunitas ini caranya mudah, tinggal ikut berpartisipasi dengan jejaring terdekat. Tidak ada persyaratan atau ketentuan khusus. Tinggal ikuti jejaring media sosial komunitas ini dan tunggu lahan tidur mana lagi yang akan mereka sergap. [][teks @HaabibOnta/berbagai sumber | foto @jktberkebun]