}
Kejutan Hidangan Namaaz Dining
Kuliner

Kejutan Hidangan Namaaz Dining

by Hagi
Mon, 12-Mar-2018

“What you see, is not what you get,” ~ Andrian Ishak

Commuters pernah dengar tentang Molecular Gastronomy? Istilah yang dalam Bahasa Indonesianya disebut gastronomi molekuler ini adalah sebuah bidang studi yang mempelajari reaksi kimia dan fisika serta transformasi, yang terjadi dari bahan makanan, selama proses memasak, dan fenomena sensori saat menyantapnya.

“What you see, is not what you get,” ujar Chef & Founder Namaaz Dining Andrian Ishak. Di hadapan tiga meja panjang yang diisi belasan jurnalis dan food blogger, Andrian memulai petualangan lidah kami dengan 17 menu gastronomi molekuler di restonya. Malam itu, berbarengan dengan launching Caaya Rangkaian Teh Indonesia produksi Danone-AQUA, Andrian memperkenalkan konsep fun-dining yang sebagiannya terinspirasi dari produk teh dalam kemasan tersebut. Sudah siap terkejut-kejut? Yuk kita mulai.

Perjalanan rasa diawali dengan menu pembuka. Ada 8 hidangan yang disajikan sejumlah pramusaji. Yang pertama adalah Cabe-cabean.

Bentuknya seperti selembar kertas cokelat dengan cabe dan sayuran di atasnya. Ternyata, itu bukan cabe, dan rasanya sama sekali jauh dari pedas. Yang bentuknya seperti cabe itu ternyata daging ayam yang disajikan dengan keripik beras dan saus sambal yang tidak pedas. “Menu ini menggambarkan cabe-cabean yang labil,” ujar Andrian sembari tersenyum.

Berikutnya susul menyusul adalah Cireng yang berbentuk churros; Amis yang wujudnya kuning telur tapi isinya mangga; Daging Asap yang terbuat dari semangka, Kelereng yang berisi udang dan urap; dan Udang di Balik Batu yang terbuat dari udang dengan sambal roa.

Penampilan semua hidangan ini tentu saja menipu. Tapi begitu dicicipi, rasanya membawa sensasi tersendiri. Belum lagi, ada filosofi di belakang setiap hidangan yang disajikan di hadapan kami.


Menu berikutnya adalah keripik singkong sambal lado. Keripiknya disajikan di wadah kayu dengan taburan biji wijen. Lho, mana sambalnya? Jangan tertipu. Yang bentuknya lilin itulah sambal baladonya. Rasanya unik, seperti juga tampilannya.

Commuters pernah mencicipi Teh Talua dari Minang? Nah, Chef Andrian menyajikannya dalam bentuk yang unik. Bunga yang cantik ini adalah telur yang dibekukan di larutan nitrogen dan di bawahnya adalah teh yang berkarbonasi.

Masuk ke hidangan utama, pengunjung diajak mencicipi kertas dan pensil. Apa? Ini makanan juga? Tentu saja. Ini adalah opor ayam yang disajikan dengan bentuk yang di luar dugaan.

Cara menyantapnya, gunakan pensil untuk menggulung kertas, lalu celupkan ke “tinta” yang terbuat dari santan. Lalu hap. Rasanya opor ayam dengan kerupuk yang renyah.

Berikutnya adalah cumi dengan QR code.

Cuminya dihidangkan dengan bentuk bunga, sementara QR code-nya terbuat dari tinta cumi yang dikeringkan. Jika di-scan, QR code-nya akan mengarahkan pada video teh Caaya. Santap cumi dengan tintanya ya. Rasanya benar-benar yummy.

Lalu ini apa? Bentuknya seperti lilin besar.

Ternyata isinya adalah gulai tunjang yang dibungkus tepung beras. Meski tampilannya seperti kue, tapi rasanya tak bisa menipu.

Menyusul kemudian steak rendang yang dagingnya sangat empuk.