LINIFIKSI: Puisi Fadhila Eka Ratnasari
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Fadhila Eka Ratnasari

by LiniFiksi
Tue, 13-Sep-2016

Menanam Airmata


Ajarkan padaku bagaimana kau menanam airmata
yang lupa bagaimana caranya ‘tuk berbunga.
Waktu ialah tanah yang pantang kerontang, katamu,
ditumbuhkannya benih hujan pada keabadian.

Ajarkan padaku bagaimana kau menggembur menyubur
melankolia karbitan
yang membusuk sebelum waktunya berbuah.
Kelak bolehkah aku membantumu menuai bahagia
yang mungkin saja selamat dari serbuan hama?
Jangan berharap pada musim yang penyaru, katamu,
menunggu bukanlah bagian dari seni bercocok tanam airmata.

Maka musim panen yang kau banggakan itu
hanyalah ragu
yang meranggas di layu matamu.
Hei petani sunyi, tahukah kau bahwa istirah ketika lelah
hanya akan membuatmu
terbakar gersang di kebun dukamu?
Bersiaplah memangkas doadoa yang tumbuh liar di balik capingmu.

Tangismu ialah bunyi bagi matahari
yang terisak lebat di subur kebunmu.
Aku mengerat nyeri di kejauhan, menutup telinga
dari teriakan cangkulmu.
Ulat dan bulu berpesta di bayang bulu matamu,
hujan berdiri gemetar di celahcelahnya.

Punggungmu liat menggelap,
jejak kenangan melumpur di bilur lukamu.
Tak usah meneduh matahari dari hujan
ketika rindu t’lah pandai menyimpan sayupnya sendiri
pada rerumputan.
Ini ada sebiji mimpi, kataku, tanamlah di musim berikutnya
agar kau punya tanaman yang ‘kan mengajarkanmu
bagaimana caranya tidur nyenyak.


Panglipuran #3

[Untuk Anakku di Masa Depan]

Nak, kelak ketika tubuhmu
tak lagi wangi minyak telon dan bedak bayi,
tapi campuran bau keringat,
parfum maskulin, dan asap jalanan,
ingatkan ibu agar tak pernah jengah mencium
keningmu tiap pagi dan malam hari.

Kelak ketika kau tak lagi merengek minta susu
atau ganti popok,
tapi merengek minta motor gede
atau uang saku lebih banyak,
ingatkan ibu bahwa isi dompet ibu sepenuh
cinta di ruang dada.

Kelak ketika yang kau tanyakan
tak lagi tentang mengapa matahari terbit dari timur
pun rembulan berganti rupa tiap malamnya,
tapi tentang mengapa engkau lahir
tak berayah,
ingatkan ibu untuk mendekapmu
dan tak memarahimu karena telah bertanya.

* * *

Akan tiba masanya engkau melukis biru jingga kelabu
langitmu sendiri, nak,
sedang ibu masih setia menggantung cuaca
cerah di jendela.

Akan tiba masanya engkau kian gemar mengerat
airmata ibu
dan mengemasnya dalam botol kaca, nak,
sedang ibu masih rajin menyirami luka tiap pagi
di pekarangan.

Akan tiba masanya engkau ‘kan temukan
sayap kupukupu di sela keriput wajah
pun putih rambut ibu, nak,
sedang ibu tak pernah bosan mengamini doadoa
dalam hening namamu.

Akan tiba masanya engkau mulai belajar
merindukan ibu, nak,
sedang ibu telah pandai merangkai
puisi perpisahan.
* * *
Kelak ibu akan tetap terjaga untukmu, nak,
bukan lagi karena hingga pagi menyusuimu
pun ninabobokan pecah tangismu,
tapi menunggumu pulang ke pelukan ibu
: seperti dulu waktu kau dilahirkan;
meski malam telah larut,
meski usiaku hampir surut.




Fadhila Eka Ratnasari lahir di Malang, 12 November 1991. Menekuni penulisan fiksi & non-fiksi sejak SMP. Mengikuti, memenangi & menjadi kontributor beberapa lomba penulisan puisi sejak SMA. Lulusan Universitas Negeri Malang, S1 Pendidikan Bahasa Inggris & S1 Bahasa & Sastra Inggris. Aktif menggiati komunitas & pementasan sastra sejak kuliah.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Jangan lupa, sertakan biodata singkat dan foto menarik. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []