LINIFIKSI: Eko Ragil Ar-Rahman
LiniFiksi

LINIFIKSI: Eko Ragil Ar-Rahman

by LiniFiksi
Mon, 26-Sep-2016

Perjalanan Mengangkut Kenangan

 
28 Agustus, pukul lima lewat kenangan,
dia sibuk membungkus dirinya sendiri.
 
07.15
Dengan tiket putih tertulis Pekanbaru-Jakarta,
setiap jalan memberinya ruas baginya pulang.
 
09.00
Dinding bandara membuatnya lupa jalan raya,
lupa akan waktu dan usia.
Namun tidak pada kenangan.
 
“Selamat pagi tuan, silahkan lepas seluruh kenangan,
biarkan kami periksa badan anda, dari luka yang bisa saja masih
bersisa.” Seru lelaki berseragam hitam putih itu.
 
Kenangan baru dijual di mana-mana,
di antara deretan toko atau di depan meja resepsionis muda.
Bayangan berlari dengan cahaya, teriakan pecah dalam
sandiwara pestaphoria.
 
Sedang kenangan yang lain tengah menunggu kepulangan mereka sendiri.
 
Sepotong baju tanpa koper
hanyalah tanda mega sebuah kesendirian.
Setelah membeli kenangan baru, kita kembali menjadi orang lain.
Menggadaikan usia, masa, cita, koper lama yang dulu membuat kita
paling bahagia.
Dengung pesawat membatalkan kesunyian kota dengan segala apa
yang menjadikannya ada.
 
12.30
Para pendatang lalu lalang mendaftar perjalanan dalam laut baju dan abu.
 
13.15 dari sudut sebuah kenangan,
Dia rangkul erat koper lama lagi setia
dengan bising pesawat yang lewat di kepalanya.
 
                                                                        Bandara Puisi 2016
 

Tuhan yang Bercelana

: AR

Tuhan, aku mau reunian. Aku ingin pakai celana goyang,
tapi aku tidak ada uang. Ibuku hanya kuli cuci, dan ayah masih
kubayangkan kapan pulang. Janjinya, dia akan pulang dengan celana goyang.
Maukah kau pinjamkan celana untukku saban malam saja?
 
Saat itu, Tuhan yang bercelana tersenyum.
Sudah lama sejak orang-orang dulu meminjam celana koyaknya
sedang di kota sekarang bertumpuk banyak celana baru aneka warna.
maka Tuhan melepas celana yang putih mutiara,
memakaikannya pada anak yang selalu dia lihat berdoa di sudut jalan.
 
Tuhan, Aku mau reunian. Untuk bertemu teman-teman. Bolehkah
aku menambal celananmu yang koyak? Dengan perca tua yang kupungut
di jalan, agar mereka tahu aku memakai celana dari Tuhan.
 
Tuhan yang sekarang tanpa celana masih tersenyum, sekarang duduk
telanjang di langit. Balkon paling rahasia untuk mereka yang
tak tahu jalan pulang dan lupa bersua.
                                                                          Riau 2016


Kamar 202

 
Hanya sebuah meja dan sepasang kursi yang saling bimbang
Di depan balkon hijau memandang Pohon Ash di sudut danau.
 
Di atas meja, ada sepasang hidangan. Yang satu sudah dimakan,
yang satu diam saja. Ada sepasang gelas, tidak ada yang meminumya.
Seperti menjaga rahasia, mereka diam saja, sedang kursi di sana
masih saja bimbang.
 
Sepasang angsa terbang ke arah mereka,
bersama kepak sayap yang kian senyap.
Yang belangnya hitam hinggap di kursi kanan
Yang hitam belangnya hinggap di kursi kiri.
Para kursi masih saja bimbang,
sedang tangan reyotnya sibuk memotong lengang.
 
Sepasang angsa, sepasang kursi, sepasang sunyi.
Menjaga rahasia dalam diri
dalam balkon hijau yang menghadap danau.
Mereka hanya semedi sepanjang petang berganti pagi.
 
                                                               Sudut Riau 2016


[][ilustrasi gambar @riansaputra | foto dok pribadi Eko Ragil Ar-Rahman]


Eko Ragil Ar-Rahman, kelahiran Pekanbaru 22 Januari 1995. Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Riau, Pekanbaru. penyuka musik klasik yang tengah bergiat di Community Pena Terbang (COMPETER) Session 3, dan juga aktif sebagai wartawan kampus majalah Bahasa Inggris E-Times. Karyanya pernah dimuat di beberapa media, seperti Xpresi Riau Pos, Harian Medan Bisnis, Koran Dinamika News Bandar Lampung, dan Harian Rakyat Sultra. Dia juga tergabung dalam beberapa buku, salah satunya Tifa Nusantara 2 (2015). Sekarang, tengah menyusun buku Kumpulan Puisinya ”Asmaranaloka”.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Jangan lupa, sertakan biodata singkat dan foto menarik. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []