LINIFIKSI: Puisi Maulidan Rahman Siregar
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Maulidan Rahman Siregar

by LiniFiksi
Mon, 02-Jan-2017

Membaca Buku

Aku mengunduh buku-buku dan lagu-lagu,
sampai mati, membuang kamu
yang menolak hidup denganku,
menggugurkan daun-daun dan pintu-pintu
yang kuberi nama bahagia.

Kau kulempar jauh, ke arah tiada.
Tapi, kau tak mau, kau bilang,
"Aku ingin hidup dalam sembunyi, dalam rahasia
dan ratusan tahun akan menelanmu dalam doa,
dalam tangan Tuhan, memelukmu lembut
seperti selokan pada bayi tikus,
laksana pantai indah untuk pelancong setengah bugil"

Aku terus mengunduh buku-buku,
dan band-band kurang terkenal,
menghadirkan musik ke relung paling dalam,
mengajak hati ke luar, lepas dari fiksi-fiksi murahan,
tapi kau bilang, kau bilang kuat-kuat,
"Makan itu buku-buku, makan kertas dan penulisnya
kau tahu? buku-buku membunuh hutan-hutan?"

Aku mau istighfar tapi tak bisa,
Tuhan rasanya teramat jauh,
lagipula musik-musik yang diam di kepala,
menghentak, memanggil namamu
beradu-radu dengan apa itu, oh mungkin rindu

Tapi kau bilang, lewat angin-angin,
"rindu kadang keras kepala, lunak di badan,
kau lupa kalau setiap hari ikan-ikan masih berenang?"
Aku ingin menyumpahi kau dengan kata-kata kotor,
tapi kutakut, dekinganmu maha
dekinganmu kuat, dekinganmu Tuhan


Untuk Hamid Jabbar

penyair itu memanggil maut ke atas panggung,
wahai sunyi, pergilah. Jauh-jauh
menepuk tangan sendiri, menepuk angin.
Tak berbunyi
malam begitu gugup.
            jalan pulang hilang
                        segerobak sajak mati
                                    terserak

wahai sunyi, wahai sunyi, pergi!


Mabuk

; Wendoko

kurenangi sajakmu yang kubeli lewat jejaring sosial
aku hanyut, aku mabuk
aku hilang isi, habis mainnya.

daratan Cina hingga ke lautnya
larut dalam puisi berperisa jeruk kecut
lagi, aku hanyut, aku mabuk
aku hilang isi, habis mainnya.

“kau suka gadis Cina dengan bunga-bunga di bibirnya?”
sama, aku juga.

kuda telah berlari jauh
ketika penyair jatuh di jalannya
puisi masih sunyi
sedang benar-benar sendiri.


[][Ilustrasi @riansaputra | foto dok. Maulidan Rahman Siregar]


Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang, Sumatera Barat, 3 Februari 1991. Menyelesaikan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol Padang. Kini tinggal dan bekerja di Padang Pariaman. Pernah berkegiatan di UKM Teater Imam Bonjol, dan KSST Noktah. Puisinya disiarkan Singgalang, Haluan, Padang Ekspres, Duta Masyarakat, Koran Pantura, DinamikaNews, Metro Riau, Rakyat Sumbar, Mata Banua, Buletin Jejak, Buletin Kanal, DetakPekanbaru.com dan tarbijahislamijah.com.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []