LINIFIKSI: Puisi Angga Kusumadinata
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Angga Kusumadinata

by LiniFiksi
Mon, 15-May-2017

Durma


Hati siapa yang tak hampa kala ditikam sengsara?
Putaran waktu, kini tiada guna lagi tuk meniti arti
Pandanganku tak faham lagi akan ruang dan waktu
Kesengsaraan macam apa?, tak terduga
bukanlah kasat mata, yang dilihat pengecoh raga
yang terbakar adalah gubuk qalbu, tak dilihat pendungu
 
Bukankah setiap orang mendambakan penghargaan?
namun penghargaan macam apa kudapatkan?
atau sejuta ejekkan yang harus kuanggap sejuta penghargaan?
atau jasad terpingkal hendak kusembah, meski hilang akal?
atau bangkai kentut pengecut rela kuhisap, meski tak patut?
 
Hari-hari yang kuhancurkan dalam sengitnya berdurma
dengan sejuta hantaman lidah tajam yang kuat menghujam
Kini, kefasikan apa lagi yang hendak kudengki?
kemunafikan apa lagi yang hendak menipu diri?
 
Di dunia ini,
tak kulihat sebatangpun wujud manusia
yang kulihat hanyalah kantung-kantung setan
limbah-limbah menjijikan,
jejak-jejak bencana persaingan dan kerakusan
Lalu, begitu bangganya walau bangkit dari tempat dan sumber hina
walau mereka fahami, dunia begitu menantikan neraka
namun otak kirinya tak pernah terhenti tuk tetap berkhidmat,
curangi martabat
semarakan ekspansi menindas kantung-kantung nasib terkapar
dengan gelegar, busungkan angkuh
lumpuhkan pandangan perintang nafsunya
 
Namun tak ada waktu yang memastikan kepuasan nafsunya
karena kerajaan setan akan menguasai dunia dan neraka
surga, bahkan telah mereka koyak hingga bersulap neraka
Lalu sejatinya semua adalah penghuni neraka
jelas karena di dunia ini tak kudapati sebatangpun wujud manusia
 
 

Pak Tua Kecewa Buta

 
Lembaran yang dia bentang
perlahan membuntang matanya
tak satu huruf pun dia lewatkan tanpa tegang
bahasa aneh mendarat di kornea, mengekang nalarnya
satu kata dia dapati begitu dalam mencabik hatinya
 
Surat kematian itu...
surat terakhir yang dia terima
sakit yang amat rumit tergambar
tangan dan mulut bergetar, nanar
wajahnya menahan sejuta tampar
pandangannya kini membalar
dia tak sanggup meneruskan lagi
huruf-huruf itu bak barisan duri
menikam bola matanya berulang kali
 
Surat kematian itu...
bahkan dia telah mati sebelum mati
sesaat jasadnya membeku dalam api benci
singgasana baru tak sudi dia duduki
Pak Tua pula tak sudi, meski usianya tinggal sebiji
 
Salah perhitungan,
surat itu mencabut nyawanya begitu ringan
tanpa setitik harga seolah dia terka
surat bodoh itu hendak dia siksa
namun pengawal surat menatap malu wajahnya, urung dia
senyum beku yang dia paksakan
bahasa kebohongan pula penutup lara, malu menampakkan
 
Pengawal surat hanyalah kepatuhan pada titah ujung pena
tak kuasa, walau begitu jelas tergaris di kening Pak Tua
sebagai penegas nasibnya,
kening pengawal itu terbentur tiang pilu di muka rumah
merasa dipermalukan tiang Tua,
pamit pergi segera, pilihan yang diraba pengawal muda
 

[][Ilustrasi @riansaputra | foto dok. Angga Kusumadinata]

Angga Kusumadinata, lahir di Ciamis 05 Mei 1991. Pengajar bahasa Inggris [Honorer] dan Pustakawan di SD Negeri 2 Sukaresik. Lulus SMK tahun 2011, saat ini ia masih melanjutkan studi S1 PGSD di UT UPBJJ Bandung. Sebelumnya pernah mengambil perkuliahan jurusan PAI dan Bahasa Inggris, namun tak ia tuntaskan.  Mengajar sekaligus mengelola perpustakaan dan administrasi di SD Negeri 2 Sukaresik mulai tahun 2011 sampai sekarang. Ia aktif menulis, sekaligus motivator bagi anak-anak dalam kegiatan membaca dan menulis. Berupaya menjadikan perpustakaan sebagai rumah kedua bagi anak-anak untuk pengembangan diri dan sebagai langkah awal untuk mereka (anak-anak) meraih mimpinya. Penulis bergabung dengan FAM [Forum Aktif Menulis]. Beberapa karyanya dimuat media massa antara lain: Angga’s Poems collection [kumpulan puisi berbahasa Inggris], kumpulan puisi bahasa Indonesia dan cerpen “Semangatku Dalam Buaian Sudra” beberapa kali dimuat di Tabloid Ganesha dan Bhinneka Karya Winaya serta dalam antologi bersama. Penulis menerbitkan buku antologi puisi ‘NEKROPOLIS’ yang merupakan buku puisi  pertamanya.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []