LINIFIKSI: Puisi Kenang Sukmo Ajie
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Kenang Sukmo Ajie

by LiniFiksi
Tue, 06-Jun-2017

Menara Masjid [Sajak Perpisahan]

Ketika kematian terasa dekat melekat?

Menjerat setiap urat nadi yang tersekat sekarat?

Jumawa jadi perasaan


Ketika penghidupan yang dicari dirasa makin jauh?

Merengkuh dosa yang diharap tak terelakan?

Berdoa bersimpuh seluruh?

Bersemayam dalam surga penantian


Kita pernah bicara soal anjing dan monyet yang dirantai taring dan cakarnya di Jatinegara?

Kita pernah bicara tentang kelakar kaum hedonis yang pulang belanja dari Singapura?

Kita pernah satu meja, bicara tentang tuhan yang menjadi revolusi perang kaum otokrat di Bethelhem, Palestina?

Sayang, kita masih terlalu muda untuk menyimpulkan


Kepada teman sejawat; dan gelak tawa dalam penghabisan waktu, beribu gelas berjuntai perkara turun belum usai tuk ditentang?

Kita adalah panji-panji yang tercecer di jalan raya, menanam yang tidak untuk dituai, memanen yang tidak patut dinikmati


Di khusyuk masjid sajakku berpisah?

Di antara peraduan rembulan dengan biduknya sajadah; diorama pertempuran di Santa Cruz yang banyak pemuda mati dengan darah di tangan tumpah


Banyak pujangga bersyair tentang kerinduan hujan dan cinta?

Merajuk lalu berjelaga? Kepada seikat kembang yang takkan pernah layu untuk selamanya, diremang malam di Pangrango;

“Selama rembulan yang kita pandang masih sama, selama itu pula kesempatan kita bertemu masih ada.”


Di khusyuk masjid sajakku berpisah?

Mencium bau meremas tanah?

Pada ruh tubuh?

Bertabur bunga mesra?

Doa-doa memesona

 

Ambang Batas

Angin mendesir memuncak pada ubun kepalaku?

Dan perlahan ketabuhan menggrogoti kerongkongan akalku?

Maka segala akan timbul menjadi metafor-metafor asing di permukaan hati


Dalam tiap-tiap waktu yang berbicara?

Keyakinanku tegaskan aku dalam kenyataan hidup?

Ya, seperti asap tembakau ini yang kutelan matang-matang?

Bahwasannya ini dalam ambang batasku


Jika keadaan ini terus menjadi lama?

Maka segala doa akan ku serahkan seluruhnya?

Kepada Allah aku kembali

[][Ilustrasi @riansaputra | foto dok. Kenang Sukmo Ajie]


Kenang Sukmo Ajie, kelahiran Magelang, 1 Januari 1992. Hobi menulis dan membaca karya sastra, terutama puisi. Beberapa karyanya termuat di media sosial.  Kini penulis tinggal di Cakung, Jakarta Timur.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []