LINIFIKSI: Puisi Noor H. Dee
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Noor H. Dee

by LiniFiksi
Mon, 10-Jul-2017

Semacam Usaha untuk Menjadi Kita

kamu dibesarkan oleh matahari.

rumahmu adalah kemarau panjang.

segala yang ada di dalam dirimu mudah sekali terlalap api.


aku dibesarkan oleh rembulan.

rumahku adalah laut-laut pasang.

segala yang ada di dalam diriku mudah sekali tenggelam.


lantas kita berjumpa di sebuah gerimis yang jatuh satu persatu dari sepasang mata kita. kamu

bercerita tentang masa lalumu yang kering dan gersang.

aku bercerita tentang masa laluku yang kelam.

setelah itu, entah siapa yang memulai, kita lebih banyak diam.


diam adalah taman yang tumbuh di dalam kepala kita, yang sering kita kunjungi secara sembunyi-sembunyi, ketika kita masih kecil.

aku ingin menjadi hari esok, katamu tiba-tiba, atau menjadi lusa, agar aku selalu lupa tentang hari ini dan hari-hari kemarin.

aku ingin menjadi seseorang yang tidak pernah dilahirkan, kataku kemudian, atau dilahirkan tapi bukan sebagai manusia. mungkin sebagai pohon yang kemudian ditebang menjadi kayu, menjadi kertas, menjadi buku puisi yang akan kamu baca di dalam taman diammu.

setelah itu, entah siapa yang memulai, kita lebih banyak tersenyum.

dulu kamu dibesarkan oleh matahari dan aku dibesarkan oleh rembulan, sekarang kita memutuskan untuk tidak usah dibesarkan oleh siapa-siapa lagi, selain oleh pilihan kita sendiri.

?


Saat yang Tepat untuk Menjadi Tua Secara Diam-diam


gerimis belum juga usai membasahi pagar rumah kita,

dan malam menjadi lebih dingin dari biasanya.


ini adalah saat yang tepat untuk menjadi tua secara diam-diam,

serupa lembar-lembar daun yang kamu rangkai menjadi mahkota untuk kepala anak kita.

menguning dan mengering tanpa ada yang menyadarinya.


telah banyak waktu terlewat,

namun selalu ada yang menetap dan itu adalah lupa.


lupa yang membuat kita betah berlama-lama duduk berdua di tepi tempat tidur.

bertukar kisah tentang waktu yang tidak pernah mau berjalan mundur.

Masa Kecilmu


masa kecilmu adalah gelas yang jatuh dan pecah di lantai.

pecahannya melukai tubuhmu, dan perihnya masih terasa sampai sekarang.


masa kecilmu adalah kota-kota yang terbakar.

asapnya menusuk hidungmu, dan bau hangusnya masih tercium sampai sekarang.

waktu yang berlari tak pernah mampu membawa luka pergi.

kamu tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya abadi.

?

[][Ilustrasi @riansaputra | foto dok. Noor H. Dee]


Noor H. Dee, lahir di Depok, Maret 1982. Ia adalah seorang penulis, editor, dan pembaca buku. Buku pertamanya berjudul Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta (Lingkar Pena Publishing House, 2008). Saat ini ia tinggal di Depok.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []