LINIFIKSI: Puisi Chaidir Amry
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Chaidir Amry

by LiniFiksi
Mon, 31-Jul-2017

Laut


aku laut.

sungai menyumbu tubuhku

setelah melewati cadas

sampah-sampahnya lenyap ke perutku

 

aku laut.

tak memaksa ikan seasin aku

seni memasak dari sari-patiku

dan ikan-ikan bebas tanpa macet, lapar, dan  tagihan pajak

 

aku laut.

di dalam mulut pemabuk

minuman kerasnya terlempar

ke tubuhku

 


Musim Salju


“salju itu hitam”

[Anaxagoras]

 
sebelum musim salju datang memekik

kita turun gunung, merampas pangan dengan pedang, panah dan tombak

 
orang-orang yang berisik menyeret musim salju ke tanah yang diberkati

pedang, panah dan tombak berupa pemikiran dan ideologi

 
tapi orang yang duduk sambil berzikir dan tidak berisik

akan berhibernasi dengan nyaman

tak peduli bumi itu datar atau bulat, tak peduli kerisuhan politik

musim salju akan berlalu jadi abu

di tengah kebisingan zaman baru

 


Fahri Menangis di Pangkuan Bibi


fahri menangis di pangkuan bibi

mengusap airmata, serta puluhan

sidik jari yang menempel di paha

 
bibinya yang berbulu-mata lentik, senang permainan tanpa alur

sebab ia gundik, suka berkedip pada lelaki udik

 
seusai fahri menangis, bibi membersihkan ranjang

tempat ia pernah telanjang bersama ipik

yang memberinya calon upik

namun dikeluarkan secara paksa

[][Ilustrasi @riansaputra | foto dok. Chaidir Amry]
 


Chaidir Amry lahir di Suradadi, Mataram 14 Juli 1994. Mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Mataram. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram. Puisi-puisinya diterbitkan surat kabar dan media online.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []