LINIFIKSI: Puisi Fridz Embu
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Fridz Embu

by LiniFiksi
Mon, 07-Aug-2017

Dan Kau Akan Melihat Api


Dan

Kau akan melihat api

Menyala kembali

Lalu seorang pencatat bermata awas

Juga bibir dan telinga teliti

Akan dilahirkan untuk menulis riwayatnya


Kau akan melihat api

Menyala kembali

Meluncur ke ujung jembatan

Melingkar

Memutar

Sampai akhirnya kau sadar

Ia sedang menuliskan sesuatu dengan huruf-huruf timbul dan pergi

Membiarkan titik-titik kecil itu bertunas

Setiap hari

Semua wanita kota diberi tugas,

Dilotre untuk mengandungnya

Atau menyiram akarnya dengan tuak hasil panen pertama

Dan para lelaki dipaksa meninggalkan pabrik,

Alun-alun kota, dan ladang untuk menungguinya

Agar jangan sampai menangis

Sehingga ibu agung yang sedang nyenyak di pinggir kawah gunung mulia tidak terbangun

Sebab betapa pun ibu murah hati

Ia akan ganas bila mimpi-mimpinya dicubit

Ia akan marah,

Membiasakan siapa saja

Tanpa peduli berapa banyak sesajinya


Marah selalu buta

Kita belajar banyak

Dari gambar bocah yang mati telanjang di pinggir sungai

Marah selalu tahu

Tak ada yang dapat sembunyi

Marah itu rakus

Karena ia dilahirkan jauh sebelum cerita tentang perbanyakan roti dikisahkan

Meski akhirnya marah itu batas

Tak ada yang tahu

Di padepokan siapa ia berhenti

Bertobat

Semadi

Mati


Dan

Kau akan melihat api

Menyala sekali lagi

Seperti refrain

Tak tahu siapa pembuatnya

Siapa yang akan dilahirkan untuk mencatat riwayatnya


Dan

Siapa saja akan melihat api

Menyala kembali

Sambil ternganga kebingungan

 



Cinta Sebelum Pagi


Cinta selalu berhasil menemukan jalan pulang

Ke rumahmu!

Bising atau teduh berandamu

Penuh nyanyi bocah atau maki berapi si cerewet


Cinta akan pulang

Suatu hari

Pada jam-jam malam yang gagal muncul

Saat kuning senja luntur

Kapan saja

Bila mau, dia


Cinta tak pernah andai

Tak boleh kalau

Tak akan tidak

Cuma nanti

Suatu hari

Suatu pasti


Cinta selalu menemukan wajahmu

: Jalan pulang

Sebelum pagi

[][Ilustrasi @riansaputra | foto dok. Fridz Embu]


Fridz Embu, menyelesaikan studi Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Aktif menulis di media cetak maupun online, lokal maupun nasional. Pernah bergiat  komunitas sastra bernama “Bengkel Teater Tanya Ritapiret” dan komunitas “#KAHE [Sastra Nian Tana] Maumere. Karya-karyanya dapat ditemukan dalam Antologi Puisi-Puisi Terbaik Pilihan Sabana Pustaka yang berjudul “Merantau Malam”, Antologi Puisi “Penyair NTT”, Antologi Puisi Kopi Penyair Dunia. Buku kumpulan puisi tunggalnya  berjudul 1 Hari Lelaki [2016].
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []