LINIFIKSI: Puisi Agus Salim
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Agus Salim

by LiniFiksi
Mon, 28-Aug-2017

Waktu Hanya Terhenti di Dinding

1/
dua anah panah itu mematung dalam lingkaran
linglung menemu arah tujuan.
tentu saja ujung-ujungnya masih runcing,
tapi sudah tak  mampu lagi menusuk
tubuh angka-angka.
 
2/
tapi jaring laba-laba masih menyulam di latar putih,
gerimis juga masih berguguran di layar jendela,
dan angin tetap merentangkan sayap
menyelimuti tubuh udara.
itulah sekelumit tanda yang digambarkan alam
bahwa roda musim masih terus bergerak.
 
3/
lupakan,
jangan lagi kau bimbangkan soal dua anak panah
yang masih mematung.
waktu hanya terhenti di dinding, sayang,
hidup harus terus dilanjutkan.
dan tak usahlah kau risau pada maut yang terus
menjadi bayang-bayang.
 
 

Kembali ke Rahim Tanah

telah semakin dekat masa untukmu
barangkali tinggal beberapa hentakan lagi
entah itu dua atau tiga, tak bisa dipahami
siapa yang bisa menerka batas?
 
jangan harap sebuah tangis
apalagi doa-doa
sebab namamu tak pernah lekat
di lubuk hati
 
tak ada misa untukmu
atau pembakaran pemusnahan
kau adalah milik angin
dan akhinya kembali ke rahim tanah
 

[][ilustrasi @riansaputra | foto dok Agus Salim ]

Agus Salim, lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Puisi-puisinya tergabung dalam antologi bersama Lautku Lautmu [FAM Publishing, 2015] dan antologi bersama Pada Batas Tualang, [FAM Publishing, 2015]. 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []