LINIFIKSI: Puisi Novia Rika Perwitasari
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Novia Rika Perwitasari

by LiniFiksi
Mon, 04-Sep-2017

Commuter Line Ibukota


Ada kata-kata yang berhenti melaju, meski kereta saling

silang menyusurkan diri di rel-rel kelabu. Salam-salam adalah

doa yang tipis antara kerinduan dan harapan, mengumpul di

atas batu-batu berdebu. Pecahan batu itu telah mengenal

wajah-wajah di lorong peron, hilir mudik sejak subuh hingga

malam terlahir kembali. Jejak-jejak peluh menetes dan

menguap tanpa sisa di dalam gerbong. Telah lama suara besi-

besi meredam suara himpitan dada dan tulang-tulang bahu

yang beradu. Gerbong-gerbong terus diserbu hingga napas

koyak-koyak karena kota ini tak pernah kekurangan manusia.


Setiap hari terjadi balapan lari dengan seni melipat diri

memenuhi gerbong besi, menyelipkan tulang-tulang di antara

ruang yang tak tersisa sejengkal pun. Terkadang hari gelap

datang, ketika manusia putus asa ia bisa menjadi apa saja.

Seperti kesetanan menyebut firman Tuhan dan menuduh

manusia lain terlalu egois untuk menyisakan ruang di dalam

gerbong. Padahal yang di dalam pun tak mampu

menggerakkan anggota tubuhnya, sama tak berdaya. Namun

banyak pula hari baik, ketika kereta-kereta datang teratur dan

penumpang masuk dengan tenang. Langit cerah dan daun-

daun hijau berkelebat indah di balik jendela. Seorang nenek

tua dan wanita hamil dipersilakan duduk dengan ikhlas.


Hidup memang tak selalu indah seperti juga perjalanan-

perjalanan. Dari atas jembatan, punggung kereta berkilat

tertimpa cahaya pertanda hidup terus berjalan. Bau sangit

tercium dari besi-besi yang bergesekan di atas rel dengan

suara decit tajam. Bumi tak pernah kehilangan bunyi, manusia

terus berlari dan kereta saling silang menyusurkan diri di rel-

rel yang tertidur di antara kerikil.

                                                                              2017



Lagu Bijak


kugenggam hati seperti pengantin menggenggam buket bunga

kita selalu mencintai percik indah ini

bagai hujan mahkota bunga

ketika pengantin melempar buket

ke udara, harapan berjatuhan

suara-suara doa di altar,

senyum, cium, sumpah

bergaung di dinding-dinding kayu ukir

di gejolak hati penerus keturunan

mereka bilang kita terlahir sebagai pecinta

seperti ibu kita

kita pewaris aliran darah

untuk membangun, tumbuh dan mencinta

secerah apapun warna kulit kita

bersama alunan lagu bijak

di pikiran, detak jantung dan langkah kaki kita

jadi kugenggam hati seperti pengantin menggenggam buket bunga

sebagaimana kuingin dunia terselimut harapan

rasakan cinta, penghormatan dan

menyatukan jiwa-jiwa

kita terlahir untuk menepis kebencian

nyalakan dunia seterang lentera

sinar surga

                                         2016


Mantra Rindu


Rindu adalah catatan perjalanan

Setua kitab-kitab tanpa sentuhan

Berselimut aroma lumut

Memagut dingin

Tersimpan dalam inti nadi dan hati

Tak tersentuh oleh iris cahaya

Sunyi dan lipatan gelombang di dinding kuil

Mengajarkan mantra paling dalam

Melipatkemas perjalanan waktu

Sebongkah rindu yang disegel mantra

Larung dalam air mata samudera

Mengombak ke garis angkasa

Dan biarlah ia di sana, menikmati sunyi

Terkunci di dua dunia

                                                    2016


[][ilustrasi @riansaputra | foto @novia rika perwitasari ]


Novia Rika Perwitasari berasal dari Kota Malang, ia seorang wanita melankolis yang amat mencintai tiga hal yaitu putrinya, ibunya dan puisi-puisi. Karya puisinya masuk dalam berbagai buku antologi puisi nasional, dan ia ingin terus menulis hingga akhir hidupnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []