LINIFIKSI: Puisi Wans Sabang
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Wans Sabang

by LiniFiksi
Mon, 11-Sep-2017

1/

Sejarah Bibir


Bibirmu memantik api, membakar catatan puisi yang menjadi abu di mataku, saat tak kau ijinkan bibirku menjadi air yang mendinginkan api.
Lalu kau biarkan aku dan sisa-sisa catatan puisi berpulang menjadi arang di matamu.


2/

Kutanam Rindu

Di seluruh pori-pori tubuhmu ku tanam rindu, berharap tumbuh aku yang utuh.
Bukan sesuatu yang kebetulan satu tubuh dalam dirimu, lalu tumbuh jadi gemuruh yang rapuh.


3/

Hai Mata

Hai mata, biarkan aku istirah di lengkung alis, di bawah teduh bulu mata sambil melamunkan bibir tipis yang berkata-kata.
Ingin kubawa pulang dagu untuk kujadikan ibu, bagi anak-anak peluh yang butuh asuh.


4/

Percakapan Pagi

Aku kira gunung tak bercakap pada pohon, daun tak berkisah pada humus, ternyata mereka ramai membicarakan aku yang tersesat dalam lorong pikiranku yang batu.
Lalu dengan mata sehijau rumput, pikiran seringan alang-alang, aku melayang mencarimu ke bukit jauh, rindu yang telah berubah jadi kabut.

[][ilustrasi @riansaputra | foto dok. Wans Sabang   ]


Wans Sabang,
kelahiran Jakarta 19 Oktober 1968 dan sekarang berdomisili di Bogor. Selain menulis karya sastra berupa puisi, cerpen dan novel, juga menulis skenario drama untuk film dan sinetron. Beberapa karyanya pernah dipublikasikan di sejumlah media. Karya puisinya juga dimuat dalam banyak antologi, antara lain: Tifa Nusantara 2, Negeri Laut, Memandang Bekasi, Negeri Awan, Lumbung Puisi jilid IV. Selain berkegiatan sastra di Forum Sastra Bekasi  pernah juga mengajar Creative Writing di SDIT Nur Hikmah, Bekasi.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []