LINIFIKSI: Fiksimini Hanifati Laili Mazaya
LiniFiksi

LINIFIKSI: Fiksimini Hanifati Laili Mazaya

by LiniFiksi
Mon, 25-Sep-2017

Hamil

Commuter line tujuan Jakata Kota telah datang. Badanku mulai lemas, mual kembail menyerang. Sudah entah beberapa kali dalam beberapa bulan aku seperti ini. Aku mencari kursi prioritas yang bisa kududuki meski kursi penumpang masih terlihat kosong di Stasiun awal tempatku naik.

Tak beberapa lama commmuter line mulai melaju menuju stasiun akhir Jakarta Kota.  Satu persatu stasiun di lewati, penumpang mulai penuh bedesak-desakan. Rasa mual kembali menyerangku. Aku kemudian mengelus-elus perutku sambil tersenyum. Aku tahu ini benar-benar melelahkan merasakan mual yang tak kunjung berakhir setiap hari, tapi aku yakin rasa mual itu adalah signal cinta antara diriku dengan seseorang di rahimku. Nak, jika besarlah dengan sehat, ibu akan selalu menjagamu.

Sama seperti salah satu lirik awal lagu dangdut “Cikini Godangdia, aku begini gara-gara dia”, di Stasiun Cikini inilah pertama kali kami bertemu. Pertemuan yang pada akhirnya mampu memberi hawa cinta kami berdua. Tak lama setelah itu aku relakan segalanya demi dia. Sama seperti tanah, jika ditanam benih maka benih itu kan menghasilkan tanaman berbuah. Dalam perut ini adalah hasil buah cinta yang pernah kami tanam.

“Mbak, maaf bisa bergantian tempat duduk? Ada ibu hamil,” tanya petugas membangunkanku dari lamunan.

“Saya juga sedang hamil, Mas,” jawabku berusaha tersenyum menghadapi pertanyaan sentimentil ini. Tak lihat kah perutku juga besar? Tak lihat kah aku sedang membawa benih cintaku yang sebentar lagi lahir?

“Maaf sebelumnya, mbak. Tapi Anda sepertinya sedang tidak hamil.” ucap petugas lagi.

“AKKKHH!!!! Pergi! Pergi!” Aku menjerit ketakutan. Mengusir semua orang mendekat ke arahku. Bukan karena perkataan petugas itu. Tentu aku pun ingin meledak mendengar perkataan petugas yang seolah tidak percaya padaku. Tapi melihatmu membisikan sesuatu pada petugas membuatku ketakutan.

***

“Maaf, pak. Saya minta maaf. Nona ini mengalami gangguan jiwa. Harap tolong dimaklumi. Beberapa bulan lalu dia mengalami tindakan asusila dari pacarnya hingga hamil. Dan beberapa bulan kemudian nona ini dipaksa menggurkan kandungannya. Saya psikiater yang menanganinya. Mohon dimaklumi Pak.”

[][ilustrasi @riansaputra | foto dok. Hanifati Laili Mazaya ]
 


Hanifati Laili Mazaya, commuters, mantan pengajar muda di Kabupaten Natuna. Penyuka flashfiction, Senang travelling dan berpetualang, dengan senang hati diajak keliling Indonesia.

-------------------------------------------------------------------------------.?

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []