LINIFIKSI: Fiksimini Moera Ruqiya
LiniFiksi

LINIFIKSI: Fiksimini Moera Ruqiya

by LiniFiksi
Mon, 13-Nov-2017

Sam


"Kurang apalagi, Bu?" tanyaku pada wanita paruh baya yang tengah sibuk dengan adonan tepung di tangan. Dia tak merespon. Wanita yang kupanggil ibu itu malah sibuk dengan cetakan kue.

Tadi malam, seorang lelaki menyambangi rumahku. Aku sangat mengenalnya. Bagaimana tidak? Lelaki itu teman sepermainanku sejak kecil. Hanya saja, kami terpisah sejak dia kuliah di pulau seberang. Mengejar gelar sarjana. Lelaki berperawakan tinggi, dengan wajah rupawan.

Ini, sudah seminggu sejak kepulangannya.

Sepengetahuanku, dia lelaki yang baik. Ibadahnya juga terjaga. Di kalangan tetangga pun dikenal ramah dan sopan. Ditambah titel dokter yang melekat padanya, tentu menjadi nilai plus yang sukar ditolak lamarannya.

Walau sedemikian sempurna bagiku, tapi tidak bagi ibu.

Aneh ... pikirku. Di saat orang lain mengidam-idamkan menantu seorang dokter, ibu malah dingin-dingin saja. Bahkan terkesan tak peduli.

"Kenapa, Bu," rengekku lagi.

Wajah itu menengadah. Sendu terlihat bergelayut di bola matanya. Dia menarik nafas panjang ...

"Sam, pernah menyusu pada ibu."



[][ilustrasi @riansaputra]

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []