LINIFIKSI: Puisi Juli Prasetya
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Juli Prasetya

by LiniFiksi
Mon, 27-Nov-2017

Di Dekat Jendela Kereta


Di dekat jendela kereta, kamu bisa melihat matahari bergeser, rumput berayun dan awan gemetar dengan sabar sebelum ia berpisah dengan langit yang debar
Lalu dalam tubuhmu ada ingatan tentang kegelisahan yang kamu bawa dari rumah, melepasnya di sabana tandus di lahan subur para petani

Dari jendela kereta itu juga kamu bisa melihat kepulan asap dari sisa pembakaran sekam yang mulai menghitam dan legam. Ia dikumpulkan dari gaharu petani sebelum padi-padi digepyok menjadi tawa dan sukacita anak-anak dalam hati

Dari jendela kereta kita bisa menghitung jembatan rindu, yang dibawahnya ada sungai yang mengalir ke dada ibu, yang tabah menunggu sebelum temu.




Ketika Waktu Menjadi Sisa-sisa Cahaya


Ketika waktu menjadi sisa-sisa cahaya, beberapa purnama menggenang serupa kenangan yang dilupakan oleh jalan pulang paling lapang. Aku tidak bisa merasakan desau lagi sebagai bait puisi. Ia terlalu banyak menyimpan nama-nama dan elegi.

kelak jika kau hidup dalam kemelut maut, akan kusatukan lagi serpihan rindu-rinduku yang telah debu. Sebagian kuberikan pada tanah moyangku sebagian kuberikan pada manusia yang sedang jatuh cinta

terkadang aku mengerti suatu amsal dengan cara diam-diam, tapi sekarang aku ingin bercerita barang sebentar

ia berbicara dengan bahasa laut, yang kadang tidak masuk dan penuh kelokan
hatinya selalu menangis dan bermimpi kelak ia akan bertemu kembali.

Awan akan padat dan lenyap menjadi salju rindu
Api akan membakar dirinya sendiri menjadi abu

Lalu dalam lekat jemari, kau merasakan kehalusan kenangan, saling menuangkan rindu kedalam mata kita masing-masing
Di mana setiap matahari terbenam senja menemukan sisa cahayanya yang hilang.




Rindu Yang Jatuh ke Bumi


Ada rindu yang jatuh dari langit menembus embun bergesekan dengan angin sebelum ia memeluk bumi yang kering.ia menjelma tetesan air yang menghidupkan tanah mati, pecah-pecah dirundung kemarau dan retak pada wajah


Dari dasar desir rindu menjadi akar kecambah hijau yang menggeliat ke permukaan. Dicium cuaca, dikecup sepoi angin dan tentu saja dicumbu oleh matahari


Akar rindu kemudian tumbuh menjadi dahan yang kokoh, menumbuhkan batang, daun dan ranting. Bermetamorfosis menciptakan rindu yang lain

[][ilustrasi @riansaputra | foto Juli Prasetya]


Juli Prasetya, pemuda sederhana yang mencintai dunia literasi, sastra, sejarah, sosial dan kebudayaan. Lahir pada tanggal 23 Juli di sebuah desa pinggiran kota, Desa Purbadana RT 05/02 Kec. Kembaran Kab. Banyumas, Jateng, Puisinya pernah dimuat di surat kabar lokal maupun nasional. Kumpulan puisi tunggal perdananya bertajuk “ Menyingkap Langit, Membuka Hatimu [2014].Sekarang ia tinggal dan tergabung dalam Takmir Masjid Darunnajah IAIN Purwokerto.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []