LINIFIKSI: Puisi Sugik Muhammad Sahar
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Sugik Muhammad Sahar

by LiniFiksi
Mon, 04-Dec-2017

Panobin

 
Pertapa di antara cupu-cupu sesaji
Saat cecap lidah terpukat di bukit puting sari
Dimana gantang-gantang nyeri bermula melampaui diri
Tanpa canggung memanggul segenap isi:
                Ah, sebab apalagi yang masih tersembunyi
                Di balik tipis rintih selang ulu nadi

 
Selagi langit meniadakan bulir hujan
Ia mendirikan cukup sumur
Bagi hausku yang bersarang
Karena baginya, menadahkan tangan tak pernah terbayang
Kapan akhir dari tandus airmata perempuan
Hembuskanlah sepenuh udara !
Taburkanlah segenap rahasia !
Maka, sendiri aku binasa
 
Misalnya tak ada hari ini
Dimanakah tandang batas
Jantung angin menyembunyikan nafas
Sebab katanya,
Pada selangkangan kedua kaki aku akan terlahir
Pada selangkangan kedua kaki aku bisa berakhir
 
Tuhan, aku mengenalmu
Dalam buncit perut ibu
 
 
 

Madura dalam Dekapan

 
Pada lautmu limpahan pekat asin garam
Bukan sesaji sampan dimana pagan-pagan tumbuh menjulang
Adakah sebab yang dapat dilipatkan
Saat nelayan melarungkan jala-jala kerinduan
Merebut tali pukat yang siap diimpikan
Begitulah awal sebab, garammu mengalir di sekujur badan
Merumuskan layar-layar ingatan, sebelum benar-benar berkembang
 
Pada tanahmu mendekap selimut madu
Bukan rokat tanah dimana aku tumbuh diasuh
Belajar mencecap sari-sari mayang di mulutku
Beras ketumbar dan sekerat daging sapi yang kau janjikan
Adalah isyarat kepulangan
Sebelum luruh meja-meja persajian
 
Aku bergegas dengan rasa was-was
Masih adakah takdir dalam hisapan daun tembakau
Dalam irisan tipis rintih ibu
Sebelum orang-orang melipat jarak menuju hulu
 
Madura dalam dekapan
Madura tanpa garam
Tak terbayang
 

[][ilustrasi @riansaputra | foto Sugik Muhammad Sahar]
 


Sugik Muhammad Sahar lahir di Pamekasan, 30 Mei 1985 Desa Polagan Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan 69382. Alumnus Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Madura. Menulis puisi menggunakan bahasa Indonesia  dan bahasa Madura. Tahun 2017 karya-karyanya pernah dipublikasikan di: Radar Madura, Sastra Sumbar, Padang Ekspres, Jawa Post, Haluan Padang, Banjarmasin Post dan lainnya. Antologi bersama penyair lain: Kumpulan Puisi “Lebih Baik Putih Tulang Dari Pada Putih Mata” Bangkalan Madura 2017. Saat ini mengabdi di Lembaga Ponpes Al-Hasan Putri.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []