}
LINIFIKSI: Puisi Astrajingga Asmasubrata
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Astrajingga Asmasubrata

by LiniFiksi
Mon, 18-Dec-2017

Menunggu Kabar


 
Mungkin kebisuan akan lumut di lidahmu

Seperti cadas pinggiran sungai itu

Saat kabar kematianku diberkati cuaca lengas

Dalam kepalamu berhamburan kunang-kunang

Menggugurkan kibaran kenangan yang lalu

Menyaru nyala lilin dipadamkan angin

 
Kebisuan menyimpan kultus doa

Di antara isyarat dan kefanaan kata-kata

Wajahmu memucat oleh sembulan gema

Dalam dada yang hampa dirabuki embun duka

Seluruh pengetahuanmu tak berdaya menyibak

Makna monokromatik dari sebuah kitab rela

 
Tapi tidak semua kebisuan harus ditanyakan

Sebagaimana tabiat kematian yang rahasia

Terimalah kirbat takdir sebagai sayap gaib

Yang membawa terbang ke puncak keindahan

Kelak akan kauceritakan padaku perihal itu

Di atas pusaraku sembari tersenyum rindu

 

Dari Celah Gerimis


Dari celah gerimis

Hamparan sawah masih terbungkus kabut

Burung-burung menukik ke gawir bukit

Cericit serempak, mereka menahan laju angin

Yang kuhirup-embuskan dengan perlahan

Seperti geliat waktu mematangkan hati ibu

Yang suwung di dadaku

 
Dari geliat waktu

Detik menuliskan masa lalu dan masa depan

Di atas kesunyian nasib yang dingin

Dan menggelepar dalam pengembaraan

Doa-doa panjang sepertiga malam seorang ibu

Yang terus menjalar dan bergetar

Di tulang punggungku

 
Dari celah gerimis

Burung-burung menukik dari gawir bukit

Ke lembah yang menyimpan warna pelangi

Senyap kepak sayap mereka menggema

Di cerlap mataku yang ngungun dan basah

Memeram rindu ibu dalam tujuh kubah

Surah al-Fatihah

 

Penyair, 1


pada kapalan di telapak tangannya

ia temukan nasibnya yang perih

gemetar dibelai selembar sajak

 
ia tertegun, saat teringat nasihat

ibunya di kampung, "cintailah

kata-kata sekali pun tak percaya."

 
dan, kini ia amat yakin bahwa takdir

memang tak disitir oleh penyair

maka diacuhkannya perih itu

 
ia ambil kembali pena bertinta air mata, lantas

ditulisnya sajak-sajak tentang firman paling api

sedang membakar tuhan yang sedih di hatinya.

[][ilustrasi @riansaputra | foto Astrajingga Asmasubrata]



Astrajingga Asmasubrata, lahir di Cirebon 3 Maret 1990. Pendidikan terakhir SMP Negeri 1 Astanajapura [2005]. Salah satu penggerak Komunitas Malam Puisi Jakarta. Pernah membaca puisi di ASEAN Literary Festival [2015]. Antologi puisinya berjudul, Ritus Khayali [2016]. Turut membantu Jurnal Sastra Lokomoteks [www.lokomoteks.com]. Puisi-puisinya tersiar di media cetak dan media online serta termuat dalam antologi bersama: Nyanyian Puisi Untuk Ane Matahari [Imaji - Ruang Sastra, 2017], Antologi Puisi Kopi 1550 MDPL [Gayo Institute,  2016], Antologi Puisi Cimanuk [Sail Puisi Cimanuk, Dewan Kesenian Indramayu, 2016], Antologi Puisi Selesat Cahaya Bermekaran [Antologi Malam Puisi Depok, 2015], Antologi Puisi Di Bawah Payung Hitam [Seni Indonesia Berkabung, 2015], biodatanya termaktub dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia [Yayasan Hari Puisi, 2017].

---------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []