}
LINIFIKSI: Puisi Joe Hasan
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Joe Hasan

by LiniFiksi
Mon, 29-Jan-2018

Panci Milik Emak


pagi-pagi sudah
niat itu terbelah
dalam panci milik emak
dibuangnya kata sepotong-sepotong
meranum kasih lewat layar
di bilik sebelah
 
aku meniti menunggu pagi usai
mengiris lambung, menanti keringat
di depan layar
hingga malam
niatnya tak kunjung habis
tetap tertimbun
dalam panci milik emak
 


Sore Tak Ingin Tertawa


kalau sore saja sudah tak ingin lagi tertawa
bagaimana dengan hati yang sendu akarnya
padahal sebentar lagi tahun baru
kembang api akan bertebaran
menutupi langit. dan kita akan mencium bau
bakar dimana-mana
 
di meja dua insan sedang bercakap
tentang kenangan, tentang masa depan
tentang dunia yang belum ia injak seutuhnya
di ujung meja, lelaki berkulit hitam
mendengar dengan rasa
pikirannya dibawa angin ke negeri seberang
enggan tuk kembali sebab pahit-pahit
yang masih menempel pada dinding mata
seperti berkelahi, lalu meredam dengan sendirinya
 
kalau sore sudah tak ingin tertawa
biarkan aku yang menjadi bibirnya
untuk membentuk lengkung
mengubah sedih jadi bahagia
kita bisa bertemu di lain waktu
saat pelangi turun ke bumi
menjemput rasa kita yang lama terperangkap
di kahyangan


[][ilustrasi @riansaputra | foto Joe Hasan]



Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Beberapa puisinya pernah dimuat di Buanakata, Majalah Simalaba, Flores Sastra, Analisa, Warta Lambar, Lampung Post, Nusantaranews. Salah satu cerpennya tergabung dalam antologi bersama berjudul Percakapan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []