}
LINIFIKSI: Puisi Moh. Romli
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Moh. Romli

by LiniFiksi
Mon, 05-Feb-2018

Racun di Ujung Pedang

Ini adalah caraku
Menghunus pedang untuk tembus di hatimu.
Mengasah otak dan hati yang karam
pekat malam terang, terang siang melayang
 
jiwamu sangatlah teguh
puluhankali tusukan hingga pedang patah
kau masih diam
sampai melemparku ke batas paling nyeri.
 
Sebentar lagi, itu kau kenang,
bekas racun saat jalang kembali ke hutan.
 
Wajahku tiba di senja muram
dan itu tak dapat kutahan
bayang hilang dengan malam
tanda wajahmu akan tenggelam
 
aku sendiri di sini, dalam dekap sunyi
sampai aku pergi nanti
aku tak ingin kan ada yang merindu
sampai sedu sedan bekas pedangku.

 
 

Ke Ormat

Menaruh hayal di antara aspal yang nakal
banyak hal kita temu sepanjang jalan
karena eloknya semesta memanja
duri serta terjal tak mungkin dapat menahan
 
hingga kita merasa nyasar
lalu bertanya pada seorang petani di bukit itu
petani itu menunjuk dengan penuh heran
mungkin saja ia menyimpan seribu tanya
 
kita semakin kehilangan arah
sebab tak ada tongkat bambu menjulang
juga tongkat bambu menyandang kuburan
juga bebatu yang bernyanyi ketika berkecupan
 
entah dari arah mana lagi kita daki puncak ini
dari ramah hingga geram matahari
belum juga kita temui
sementara embun pagi mulai lenyap
juga kesejukan mulai berganti gerah
 
namun seperti yang kita katakan
kita takkan berhenti menusuri hutan
sebelum membunuh bayang
 
dan akhirnya kita pun coba menjepit kaki
di antara rumput - rumput berjari duri
kita tak peduli luka dan perih menyapa
juga kita tak peduli iblis dan jin marah
sebab kita hanya peduli mimpi mulai nyata
 
pada beringin tua, pada phuju' ke ormat
dan juga bebatu yang bernyanyi
seketika kita menyapa
angin, jin, serta iblis kita panggil di sini
untuk bercerita tentang apa
yang ia ceritakan pada mereka.
 

[][ilustrasi @riansaputra | foto Moh. Romli]


Moh. Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep. Dan sekarang sedang merantau di Jakarta, Mengejar impian seorang ibu. Kumpulan Puisi Terbarunya: TAKBIRAN KITA [2017].

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []