}
LINIFIKSI: Puisi Fajrus Shiddiq
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Fajrus Shiddiq

by LiniFiksi
Mon, 26-Feb-2018

Sepasang Lovebird

 
Sepasang mataku jadi saksi
Ulur waktu antara datang dan pergi
Betina-betina dalam sangkar silih berganti
Saling dekap dalam dingin malam sunyi
 
Saat pagi kita sama melihat matahari
Menghangatkan diri dari gelisah buasnya hati
Tak bisa kupilih siapa yang datang menemani
Karena demi secangkir biji aku menyanyi
 
Aku lovebird jantan bersiul panjang
Pertanda kemarau di dadaku terkikis hilang
Kau kepadaku dengan berseri-seri datang
Tanpa kutanya dirimu jalang atau lajang
 
Kutatap kedua matamu sedang bersiul
Isyaratkan senyum paruh yang simpul
Ragamu gembira, entah jiwamu terkapar terpukul-pukul
Denganmu, kejantananku perlahan terasah dari tumpul
 
Kau mendekat ciumi sayap-sayapku
Mengembara dalam hayal yang telah lama beku
Dari angin musim yang mengajariku berburu
Dari untaian-untaian doa yang tak pernah menjadi layu
 
Kau bersiul lagi di malam yang larut
Membangunkanku dari mimpi tuan bermuka kusut
Kita sama-sama resah dan takut
Setelah sekian sabit kita lalui dengan cinta terajut
 
Kita akan bersama dan sangkar ini lusuh warnanya
Aku kan tembung tangan-tangan jahil dan kewaswasannya
Melindungimu dari ujung waktu yang menua
Sampai pada akhirnya
 



Musafir dan Tanah Galiannya

 
Malam-malam mulai menebar harum dingin
Kedua gusar mata melekat di pelupuk
Antara lapar dan haus tak jelas terbaca
Lubang-lubang digali, mengitari ubun-ubun
 
Kota yang Malang,
Menagih seperangkat janji dalam pembukuan
Yang miskin hatinya jadi resah dalam tawanan
Kenakan topeng
            Main di lingkaran
                      Tangan dibawah
                                Melas di raut muka
 
Sekencang lari angin
Cangkang persembunyian kerang
Kamuflase bunglon dan siasat
Tatap muka adalah ketakutan rekayasa
 
Karena uang jadi kusir penumpang kuda
                  jadi pleton-pleton upacara
                  jadi anak arah gedung-gedung penjara
                  jadi produser para pemain sandiwara
                  jadi anggur dan vodka Finlandia
                  jadi germo birahi pemerkosa
                  jadi pemerintah akal-akal gila
 
Hari semakin larut akan kegetiran janda
Menjajakkan kepalsuan puisi di stasiun kota
Menawarkan bait-baitnya dekat rel-rel kereta
Begitupun kuping perawan dalam lilitan hutangnya
Sedang perjaka bekerja dibalik keserakahannya
 
Kau dan mereka sama saja
Miskin di genggam tangan tuan, aku juga
Maka tak perlu saling maki bicara
Maka tak perlu saling hitung angka
Hidup hanya sekedar meminjam-dipinjam
Karena iklas memberi masih menjadi rahasia
Sampai hilang lumut di tulang belakang, menjadi kaya
 
Bermainlah peluh hutan dadu
Pikiran memanah-manah seluas buas
Dalam diri masing-masing !
 

[][ilustrasi @riansaputra | foto Fajrus Shiddiql]


Fajrus Shiddiq, lahir di pedesaan Madura, Sumenep 18-Oktober-1991. Mahasiswa Jurusan Pendidikan S1 Bahasa Arab Universitas Negeri Malang. Puisinya tak jarang dimuat di berbagai antologi Senja Bercerita, Muara Pelangi, dan Pada Batas Tualang. Serta media seperti Zeal, BuanaKata, Qalam, dan KOMUNIKASI. Aktif tulis menulis semenjak masih nyantri di PP. AL-AMIEN PRENDUAN, anggota Sanggar Sastra Al-Amien, Sanggar Cakram, dan anggota redaksi majalah berbahasa inggris ZEAL.
Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya Al-Karomi UM [Teater Bahasa Arab], dan Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI.

 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []