}
LINIFIKSI: Puisi Ahmad Choiruddin
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Ahmad Choiruddin

by LiniFiksi
Mon, 07-May-2018

Pembaringan Hati

Tentang selimut yang bertarung bersama hening

Tentang sebuah nama yang kering terbaring

Dingin, menembus menghisap kemudian mengendap

Dini hari adalah surga bagi penyair

Atau penjara bagi orang terusir

Masih kucoba lekas dari pembaringan ini

Namun bui senyummu setia mengekangku

Juga angin jendela semilir dan tertawa

Kau tak akan sanggup bangkit dari pembaringan

Kuraih bambu dan ku hantam ingatanku

Sembari serapahku ku tuang dalam secangkir kopi

Ku temukan sisa kotoran manismu di tumpukan buku puisi

Kubuka dan kubaca

Ternyata aku kalah

Malam teramat kuat untuk ku abaikan

Dan janjimu adalah sabda kutukan

                   

Gua Malam

Bilamana gugusan bintang tak nampak malam ini

Aku tetap tinggal di gua qarib

Gua tempat kura-kura bermalam

Tempat ratapan orang-orang malang

Mendirikan tenda-tenda pekat, yang hangat berselimut dendam

Walau sebenarnya ia tak kan tampak

Tetap tak sempat kukedipkan mata

Bahkan ketika kuda anggara melompat dan mendarat tepat di paru-paruku

Aku tetap diam mengharap cahayamu datang menolongku

Tidak, lalu datang bidadari berselendang menanyakan kabar kemudian hilang.

[][ilustrasi @riansaputra | foto Ahmad Choiruddin]


Ahmad Choiruddin, mahasiswa Syari'ah Universitas Islam Malang dilahirkan di Tuban, hobi membaca sejak sebelum ia lahir, juga gemar menulis sesudah ia lahir dan sangat mencintai kampung halamannya sejak jauh dari tanah lahir.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []