}
LINIFIKSI: Puisi Encep Abdullah
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Encep Abdullah

by LiniFiksi
Mon, 14-May-2018

Doa

untuk  ke sekian kali mulutku merapal doa
meminta dosa dilepas dari cangkang kitabnya
sedangkan tubuh masih saja nista
memuja napsu yang tak kunjung mereda
 
doa-doaku hanya sebuah permainan yang memalukan
merayu tuhan biar dosa diampunkan
walau kutahu di sana dosa-dosa masih bergentayangan
dan aku harus siap menjaga keseimbangan
 
belum tentu esok matahari masih menyapaku dari balik jendela
di pagi hari yang begitu hangat di pelupuk mata
bukankah daun-daun juga khusuk menyebut namamu setiap waktu
kala ia menggigil dari deras hujan atau terik matahari yang menyengat
 
tak akan pernah kusudahi doa-doa ini selama mulut masih terbuka
selama nadi masih berdenyut dari arah hidupku yang semakin hanyut


 

Tarbil

dulu dahan-dahan kayu bercabang lidah ular itu
dibabat habis oleh bocah-bocah ingusan berkulit sawo
yang beringas dan tiada tahu dahan-dahan itu milik siapa
dalam kepala mereka hanya ada satu kata: tarbil!
mereka gunakan untuk membedil burung-burung gereja
di buri-imah atau sekadar iseng memburu burung-burung
tetangga yang lepas dari sangkarnya
 
bocah-bocah cukup bahagia melingkari lehernya dengan beberapa
utas karet yang mereka susun sedemikian rupa mengikat-terikat cukup kuat
membetot urat-urat karet yang merekat di kiri-kanan dahan bercabang dan
plastik bekas jamu yang ditarik-ulur biar memanjang yang mampu menopang
sebongkah batu kecil seukuran biji salak
 
tarbil siap melesatkan umpan kala burung-burung berkicau atau berteriak
di ranting-ranting pohon sawo, pohon waru, atau di bambu-bambu kuning
— yang barangkali burung-burung itu tahu ada pemburu yang siap membidik
segala rupa dan jasad mereka yang sedang gelisah-resah menenggeri
setiap tingkap dahan atau ranting pohon
 
umpan-umpan tarbil semakin berlesatan dan burung-burung semakin berpiuh
berloncatan ke sana ke mari menghindari segala celaka yang sewaktu-waktu
cepat atau lambat bisa membobol nyawa mereka ke hadirat Tuhan yang Maha Esa
dan bocah-bocah ingusan itu tak pernah tahu mana perkara dosa atau sekadar
merapal mantra atau doa yang dihantarkannya kepada burung-burung
 
bocah-bocah yang liar-nakal bercikal-bakal jagoan masa depan itu
hanyalah lakon-lakon fiktif yang hidup di masa kini—sekarang—
kayu-kayu yang mereka tebas hanyalah imajinasi absurd belaka di dalam
layar kaca anak-anak yang entah diciptakan untuk manusia atau robot
yang lamat-lamat mencederai otak  mereka sepersekian detik
bahkan barangkali pada masa yang cukup panjang
 
tarbil hanyalah semacam ilusi dari nostalgia-ku yang tiba-tiba saja berteriak
menggejolak di dalam kepalaku yang hampir saja retak-meletak
 
ah, adakah kelak anak-anak dan cucu-cucuku menjamahi tarbil
yang perlahan menjadi katil—sepentil—di kotak korek api yang tak pernah
dinyalakan kembali dalam ruang waktu yang kini semakin aneh dan asing
bocah-bocah abad milenium kini sudah melupa kearifan nenek moyang
pun melupa kepada Tuhan alam

[][ilustrasi @riansaputra | foto Encep Abdullah]



Encep Abdullah, dilahirkan di Serang, 20 September 1990. Alumnus Untirta Banten. Bergiat di Kubah Budaya. Tulisannya menghiasi media lokal dan nasional. Bukunya yang sudah terbit Tuhan dalam Tahun [Puisi, 2014] dan Cabe-cabean [Bahasa, 2015].

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []