}
LINIFIKSI: Puisi Eko Ragil Ar-Rahman
LiniFiksi

LINIFIKSI: Puisi Eko Ragil Ar-Rahman

by LiniFiksi
Mon, 30-Jul-2018

Asmaranaloka


Kau itu biadab. Iya, biadab semazhab azab.
Semua tawaku ini bukan milikmu lagi setelah debit air selokan disini
demikian menjerit-jerit, terhimpit kata-kata yang mencicit.
Setelah air mata membiru safir, cita di tangan kembali dikutuk waktu.
Membatu menjadi sederet gunung karang mahabeku.
Apa yang kita sebut kelemahan sekarang bergejolak dalam beling retak
kesumat. Siap membanjiri kota, menenggelamkan jalan dan pemukiman,
wanita dan anak-anak, serta para jejaka yang menari di atasnya.
Dulu, aku mengenal kota ini penuh lumut. Lumut di gedung, lumut di kendaraan,
lumut di taman, lumut di atas hidangan, lumut dalam hati manusia.
Lalu, cahaya matahari membakarnya, memberi cinta di mata mereka
: dan Matamu tentunya.

Kau tahu, waktu sekarang telah menghembusmu. Daun yang digandeng angin.
Demikian waktu juga telah menghempasku, gunung yang dikutuk berpasung bumi.
Kesedihanku menolak menunduk selain kepada langit yang nanti menadahnya,
semenjak ikatan menjadi perpisahan tanpa alasan dan kesendirian adalah lantai
paling landai. Aku tak tahu, kapan kejatuhan ini akan selesai.

Aku ingin mencintaimu tanpa bimbang,
dimana galau hanya boleh memberi kilau pada bintang malam gemilau,
sedang aku adalah lampu terang penghias jalan yang remang.
Aku ingin mencintaimu begitu lapang dengan lenggang para penerawang
yang duduk dalam mantra mereka sendiri.


Masih adakah tempat untuk aku menyimpan sangar dalam sangkarmu,
saat kenangan hanya rangkaian cermin pecah dan kosmetika mewah
yang tidak terjamah tangan? Aku ingin mengekalkanmu sedalam akal
dalam bola kristal para penempa mental. Aku ingin mencintaimu sedalam diam
sisa demam yang dulu ada di ruam wajahmu. Jangan mengguruiku tentang
kutukan sebuah dosa, sebab dia bahkan menjadi benar dalam perkara cinta.

Asmaranaloka, mataku sekarang sudah risau melihat cahaya yang berenang
dalam malam. Begitu pun cahaya yang semakin berpendar di bola matamu.
Seperti ikan di kolam yang mencari kawan, kemudian tempat mereka berpulang.
Kau itu biadab, memang biadab. Aku harap, lumut kembali datang ke kota ini.
Lumut yang memenuhi mulut, membata mata, merengkuh tubuh, mengekang
selangkangan, memakan jiwa.

Sekarang, lumut itu rimbun di kepalaku. Tumbuh di tubuhmu.
Masihkah tanganku lihai mengira degup jantungmu
sedang aku kembali melumut dan kau tengah menangis di atas makammu sendiri?


Ziarah Museum

:Bagi tanah air maha lugu

Anak-anak waktu lagi lucu
berkeliaran ke setiap sudut museum dan barang masa lalu.
meninggalkan ibu waktu yang bersandar di tepi tembok biru
melirik patung dan perkamen penuh abu.

“Ibu, apa ini?” seru anak waktu.
“Hanya pembukaan bukti masa jaya saat lalu” ibu waktu tersenyum.

Anak-anak waktu berlarian,
tasnya bergerincing bunyi mainan di dalamnya.

Anak waktu memandang lugu.
Pada patung lilin yang masih baru,
vernis yang masih baru tiga hari lalu,
tak lupa noda darah di sini dan situ.

“Ibu, kenapa patung ini?” Tanya anak waktu.
“Hanya budi luhur yang tewas dibantai pembajik mengaku bijak” ibu waktu mengelus kepalanya.

Anak-anak waktu terdiam,
memandang perkamen lama dan patung baru.
Anak-anak waktu kebingungan
tentang jarak kejayaan dan kejatuhan

“Ibu, kenapa mereka seperti itu?”
“Kita hanya waktu, anakku.” Sahut ibu waktu. “waktu hanya bermain dengan masa lalu, dan mereka bermain dengan nasib mereka sendiri.”

Anak-anak waktu dan ibu waktu berlalu pulang.
Meninggalkan perkamen yang mulai mengerut dimakan usia
dan patung yang merekah.
Kembali berdarah,
berharap ibu waktu turut membawa mereka pulang.
Pulang ke tempat dimana nasib bukan bidak catur mereka.

[][ilustrasi @riansaputra | foto Akbar Fatriyana]


Eko Ragil Ar-Rahman, kelahiran Pekanbaru 22 Januari 1995. Adalah Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Riau, Pekanbaru. penyuka musik klasik yang tengah bergiat di Community Pena Terbang (COMPETER) Session 3, dan juga aktif sebagai wartawan kampus majalah Bahasa Inggris E-Times. Karyanya pernah dimuat di beberapa media, seperti Xpresi Riau Pos, Harian Medan Bisnis, Koran Dinamika News Bandar Lampung, dan Harian Rakyat Sultra. Dia juga tergabung dalam beberapa buku, salah satunya Tifa Nusantara 2 (2015).

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Silakan kirim karya puisi atau fiksimini kamu ke linifiksi@linikini.id. Karena ada honornya, jadi cantumkan juga nomor rekening bank dan nomor telepon atau email yang bisa dihubungi pada naskah yang siap kamu kirim. Selamat berkarya! []