}
Membedah Isi Kepala Glenn Fredly
Musik

Membedah Isi Kepala Glenn Fredly

by Pandu
Fri, 09-Oct-2015

“Enak tuh temponya. Udah pas. Gue suka,” komentar Glenn Fredly saat sesi latihan jelang Konser Menanti Arah. Kurang dari dua minggu lagi, ia akan menggelar konser tunggal untuk merayakan usia karier ke-20 di jagad industri musik tanah air. 

Saya duduk di pinggir studio latihan sambil sesekali mengganggu konsentrasi Glenn dan Bakucakar dengan jepretan kamera. Seharusnya jam 16.00 latihan sudah rampung dan sesi interview bisa berlangsung. Tapi, jam sewa studio harus ditambah sampai materi siap dibungkus.

Kalau pun interview harus ditunda,  sampai malam, saya menanti pun tak mengapa. Menyimak latihan Glenn Fredly dan Bakucakar itu menyenangkan. Mereka "sersan" alias serius tapi santai.

Pukul 17.00 latihan selesai, materi siap dibungkus. Itu berarti, tiba waktunya saya man to man dengan Glenn. Jujur,  ini bukan pertama kali saya menghadapi Glenn Fredly, tapi tetap saja grogi euy. Di sofa depan Studio Abbe Gandaria, kami berbincang. Ngalor-ngidul nggak karuan, 'kan namanya juga “Menanti Arah”.


Kemarin waktu press conference, gue masih belum paham “Menanti Arah” yang lo maksud..

Itu sebenarnya terminologi untuk proses perjalanan gue selama ini. Cerita tentang karier, perjuangan juga kehidupan. Sejauh ini, gue juga belum tau menuju ke arah mana yang harus dijalani. Yang pasti, gue yakin saat ini ada di pola yang tepat. Hari ini yang gue percaya adalah naluri dan pemikiran untuk menjalani sesuatu.

Di tengah arus pragmatisme dan pemikiran-pemikiran praktis, gue berusaha mencari arah untuk bisa keluar dari kesemrawutan yang gue lihat dan rasa. Dan sampai di satu titik, gue mempertanyakan, apa yang mau gue jalani? Apa ini fase baru dalam 20 tahun berkarya? Apakah nanti ada lompatan besarkah? Atau malah turning point dalam kehidupan gue?

Nah sekarang lo lagi sedang melangkah di jalan mana?

Gue lagi ada di fase yang gue jalani hari ini adalah yang gue percayai. Konser nanti pun hasil dari jalan yang sudah gue pilih. Di konser itu gue akan bawain lagu “Menanti Arah” dari album Luka, Cinta, Merdeka [2012]. Di situ gue menggugat diri gue sendiri, apakah moril gue sama dengan moril masyarakat --yang membiarkan pragmatism terjadi?

We’re living in the sick society. Apakah frekuensi gue sama dengan orang-orang itu? Atau gue masih waras? Ini bisa dibilang kontemplasi yang buat dalam sebuah konser pop. Selain sing a long dan berinteraksi, gue akan ajak mereka mempertanyakan hal yang sama.

Gue nggak puyeng dengan predikat apapun yang orang berikan terhadap gue. Yang gue pikirin, gimana caranya supaya pesan gue di konser nanti tersampaikan. Itu "Menanti Arah" yang gua maksud. Where are we going?

Gue selalu suka ngobrol sama lo. 20 tahun karier lo itu ngasih impact yang gede banget ya. Waktu itu kita juga ngobrolin nasionalisme dan merdeka. Lo mulai karier di tahun berapa?

Tahun 1995.

Di umur?

Sekitaran SMA, waktu masih cungkring, hahaha.

Selama 20 tahun karier ini lalu apa yang terjadi?

Dulu, lo cuma ngomong cinta sebatas permukaan sampai sekarang sudah se-filosofis ini. Gue adalah musisi yang tumbuh di generasi yang mementingkan pemikiran dan gagasan. Idealisme itu hukumnya harus. Even cuma pop, tetap harus ada. Baik mainstream maupun indie, kita punya benang merah yang sama, punya standar. Idealisme.

Sekarang, gue ada di era baru yang kurang punya itu ketika teknologi mempermudah segalanya. Dan gue harus beradaptasi. Saat kaset jadi CD, CD jadi digital. Jualan bisa jutaan kopi sampai jualan cuma ratusan ribu. Lalu label sudah teriak-teriak. Itu turning point buat gue.

Terus kerusuhan Maluku terjadi. Itu shocking moment buat gue. Di situ gue belajar, kok bisa ya satu bangsa, satu ras, bisa bunuh-bunuhan? Gue baru rilis album 98 pas banget Reformasi. Tahun 99 kerusuhan pecah dan gue memutuskan untuk ke sana. Gua bahkan sampai berpikir untuk ninggalin musik pop.

Tapi Om Franky [Franky Sahilatua-red] melarang, agar gue tetap main musik pop karena musik pop adalah kekuatan. Oke, gue mainin musik pop, tapi pemikiran gua tetap progresif. Dan itu gue tuangin di setiap panggung yang gue naikin.

Sampai akhirnya, tahun 2010, gue resign dari Sony Music. Terus gue ketemu Angga Dwimas Sasongko, belajar hal baru dan bikin film Cahaya Dari Timur. Sempet ada yang bikin statement bahwa gue berhenti main musik. Padahal itu cuma vakum karena fokus bikin film.

Film ini gue anggap sebagai gagasan dan pemikiran. Kegelisahan selama 10 tahun akibat kerusuhan Maluku yang akhirnya bisa gue tuangkan lewat medium film bareng Angga. Pas '98, gue cuma jadi saksi sejarah. Tapi setelah '99 itu, gue ingin jadi pelaku sejarah yang ikut terjun langsung.

Gue juga penasaran kenapa akhirnya lo resign dari Sony Music?

Waktu RBT mulai booming, gue adalah musisi pertama yang mereka jual lewat situ. Waduh, gue melihat, kok musisi jadi nggak punya posisi tawar pas itu? Di situ gue sadar bahwa ada hal-hal yang nggak bisa didiskusikan. Gue sempat ingin resign tapi masih terikat kontrak. Baru tahun 2010, gue cabut, dan lebih milih indie. Mereka nawarin perpanjangan kontrak, tapi nggak deh.

Setelah gue melihat perkembangan media dan belajar dari temen-temen indie, mungkin juga kok mereka sekarang jalan sendiri. Terbukti 'kan gimana temen-temen indie bisa jualan karena backbone industri musik itu ya komunitas. Gue udah melihat perubahan itu dari dulu.

Sekarang lo melihat pasar untuk musik lo kayak gimana?

Gue melihat sekarang itu terbagi jadi dua antara mereka yang mendengarkan sejak masih di Sony Music dan sekarang indie. Menariknya buat gue karena jadi makin banyak yang dengar. Dan pasar gue jadi lebih luas sih, bro.

Waktu gue mendengarkan album Luka, Cinta, Merdeka yang lo buat bareng Bakucakar itu fresh banget sih..

Yaa, kami jadi lebih dewasa dan tema yang digarap juga lebih dalam. Kami dalam waktu dekat berencana sama anak-anak akan bikin album baru lagi. Setelah rekaman di Lokananta itu, gue takjub banget sama musisi zaman dulu yang lepas aja gitu bisa berkarya tanpa mikirin jualan. Lahirlah Waljinah dan Gesang.

Pas 2010 itu, apakah lo merasa bahwa Glenn Fredly sudah terlahir kembali?

Hmm, so far gue cuma mengikuti arah sambil memegang root pop gue. Untungnya, gue dan anak-anak ada di frekuensi yang sama untuk bikin musik. Karena musisi panggung, kami jadi bikin musik yang bisa diwujudkan dalam sebuah konser. Tentu dengan diisi oleh pesan-pesan yang gue bawa.

Gue punya satu pertanyaan pamungkas, gimana sih rasanya jadi seorang Glenn Fredly?

Itu pertanyaan yang sarkas sih..

Ouch, sori-sori gue nggak bermaksud begitu..

Tenang, nggak apa-apa. Gue akhir-akhir ini kesal banget dengan pertanyaan agama gue apa? Buat gue, itu berarti kita ada di masyarakat yang sedang mundur. Simpelnya, lo bertanya, apakah gue senang dengan yang gue jalani?

Well, gua masih ada dalam sebuah proses dalam bermusik, masih banyak yang belum gue lakuin. Gue nggak bisa gambarin secara detail, tapi ada satu kebanggaan ketika gue bisa kasih warna atau pemikiran untuk bersama. Di posisi ini, gue berusaha untuk memberikan sesuatu pada masyarakat dengan yang gue bisa: musik. Buat gue itu lebih penting buat sekarang ini.

Banyak orang yang ambil jalan instan untuk ada di posisi kayak gue. Padahal untuk bisa seperti sekarang caranya gampang. Ambil gitar main sampai tangan kapalan. Sejam-dua jam, terus sampai bisa menghargai a yang sudah dikerjain. Proses itu.. it’s a f*cking must!

***

Rasanya tidak akan ada waktu yang cukup untuk 'membedah' isi kepala Glenn Fredly. Kepalanya seperti misil tomahawk yang memburu jawaban atas keresahan yang dialaminya. Begitu deras pemikiran yang mengalir, menuju oase kering di tengah masyarakat yang reot.

Obrolan kami sudahi tanpa saya bertanya kisah asmara juga soal agamanya.. Buat saya pribadi, itu bukan sesuatu yang harus digali lalu disebar ke publik. [][teks & foto @HaabibOnta]