}
Simak Dialog Suguhkan Musik ‘Bergizi’
Musik

Simak Dialog Suguhkan Musik ‘Bergizi’

by Yogira
Fri, 09-Oct-2015

Di tengah maraknya band yang ‘dipaksa’ mengikuti selera pasar, Simak Dialog tetap eksis menyuguhkan musik ‘bergizi’.

Bagi generasi penyaksi musik yang biasa melototin televisi dan YouTube, nama Simak Dialog mungkin terdengar asing. Padahal band ini sudah berkiprah selama 22 tahun. Mereka dikenal oleh para penikmat musik di beberapa negara, yang apreasiatif pada kualitas kemampuan mereka memainkan musik kontemporer, campuran jazz dengan tetabuhan kendang Sunda. Mereka adalah Riza Arshad [piano], Cucu Kurnia [kendang Sunda], Ruddy Zulkarnaen [bass], dan Mian Tiara [vokal].  

Untuk menandai perjalanan musiknya, Simak Dialog kembali tampil. Kali ini di Gedung Wayang Orang Bharata [WOB], Jakarta, Rabu [07/10].

Di atas panggung WOB, Simak Dialog mengajak para apresiator ‘tenggelam’ pada atmosfir art music, tak hanya melalui repertoarnya, tapi juga artistik panggung yang membumi. Mungkin kurang afdol kalau permainan mereka disuguhkan di mall atau diskotik.

Di antara lagu yang mereka mainkan dalam konsernya itu  berjudul: "Gong", "The Tramp", "Tabarka" [karya Keith Jarret], "Gong 2", "My Favorite Thing" [karya  Rodgers And Hammerstein], dan "All in a Day". Jadi, mereka tidak hanya memainkan komposisi sendiri, tetapi juga lagu gubahan musisi dunia.

“Silakan, yang sudah lapar bisa pesan ketoprak ke Si Mas. Memang nonton di gedung ini tradisinya begitu,” kelakar Riza Arshad pada sela jeda main. Ajakan Riza ini seolah memberikan kesan bahwa penampilan Simak Dialog di WOB bukanlah pertunjukkan eksklusif.

Menikmati Simak Dialog yang ‘berceloteh’ dengan komposisi musiknya, pendengar akan merasa terbawa arus ke alam ‘trance’. Pasalnya, gaya bermain masing-masing personelnya selalu tampak bebas merdeka berimprovisasi, padahal tentu saja mereka menyiapkannya secara terkonsep dan melalui latihan berulang kali. Misalnya, ketika mereka membawakan lagu "Gong", seolah ada percakapan musikal, terutama antara betotan bass Rudy dengan tepukan kendang Cucu. Suara yang mereka mainkan seperti berdialog, saling mengomunikasikan pesan estetis dari jiwa masing-masing.

Demikian pula  ketika kelincahan jemari Riza yang menyentuh tuts piano [buatan Aksan Sjuman] pada semua lagunya. Misalnya, pada lagu "Tramp" [album Baur], dan saat memainkan lagu "Tabarka" dengan aransemen baru, membuat penonton bisa larut ke alam bawah sadar. Ya itulah fakta kelebihan musik jazz dan Simak Dialog berhasil membuktikannya pada apresiator pada konsernya itu.

Mungkin bagi pendengar musik yang terbiasa ‘menyantap’ lagu-lagu berformat utama suara vokal, peran Mian Tiara di Simak Dialog sekedar pelengkap. Tentu, ini anggapan keliru. Pasalnya, meskipun peran Mian pada band ini tak menonjol, toh dia jadi satu kesatuan musikalitas lagu-lagu band ini jadi utuh. Vokalnya mengandung ‘kegaiban musikal’ ketika instrumen musik pada lagu-lagu tertentu sedang mengalir. Mian mendapatkan porsi vokal lebih banyak pada lagu "My Favorite Thing". Bagi penyuka film The Sound of Music, mungkin pernah mendengar lagu ini. Namun dalam iringan Simak Dialog, tentu saja hasilnya jadi berbeda.  

Sebelum konser Simak Dialog dimulai, Riza Arshad berpendapat bahwa dia merasa cocok dengan musik karawitan Sunda. Dia ingin fokus dulu memadukan jiwa jazz yang biasa Simak Dialog mainkan dengan unsur-unsur musik tradisi Sunda, terutama instrumen kendang.

“Bagi saya, memasukan kendang Sunda adalah bagian dari visi karena saya mengenalnya sejak kecil.  Untuk berkarya, orang harus punya visi, bukan mimpi untuk melakukan sesuatu. Saya ingin musik kontemporer yang kami bawakan ini didengar orang sebagai inspirasi, dalam hal  percampuran budaya Barat dengan Asia Tenggara,” jelas Riza.

Melalui Simak Dialog, Riza ingin memberikan contoh kepada generasi muda mengenai apresiasi musik. Dia menegaskan dalam soal ini Indonesia masih kalah dengan negara lain, misalnya Amerika dan Jepang.

Ya memang, di negara maju seperti di sejumlah negara Barat, banyak orang serius menekuni dan mengapreasiasi musik kontemporer, yang dinilainya bergizi untuk merangsang kecerdasan dan kepekaan jiwa. Mereka mau menghargai musik seperti itu, termasuk musik kontemporer dari Indonesia. 

“Tapi saya akui, bantuan media masih kurang pada musik seperti ini. Makanya, Saya ingin ada role model untuk soal ini agar generasi muda mendapatkan inspirasi dalam berkarya,” ujar Riza.

Karena itulah, agar karya musik kontemporer khas Indonesia menjadi inspirasi, Riza dkk akan terus berjuang melalui Simak Dialog. Salah satu caranya bermain di berbagai negara. Dalam waktu dekat, Simak Dialog akan tampil di Jepang, tepatnya di Promenade Jazz Fest di  Yokohama [11 Oktober 2015] dan juga solo konser di Yagi Ni Kiku serta venue Montreaux Jazz Fest, yang sama-sama berlokasi di Tokyo [12 & 13 Oktober 2015]. Semoga penampilan mereka di sana mengharumkan Indonesia ya. [][teks & foto @firza]