}
Jembatan itu Berjudul OM PMR
Musik

Jembatan itu Berjudul OM PMR

by Pandu
Thu, 29-Oct-2015

Di skena rock lokal, siapa pun akan segan melihat God Bless. Di skena dangdut, Rhoma Irama bersama Soneta terus duduk di atas singgasana. Sudah jadi rahasia umum bahwa keduanya sempat berseteru pada tahun 1976. Sedekade kemudian, tahun ’86 God Bless dan Soneta baru mau sepanggung bareng.

Tak perlu jauh sampai tahun ’76, ketika trend musik Melayu yang dibawa oleh Kangen Band cs naik panggung juga dua skena musik ini kembali bergesekan.

Meski tak separah perseteruan pertama yang sampai berujung tawuran antar-penikmat, toh persoalannya ternyata absurd, yakni seputar perspektif musik siapa yang lebih baik. Antara yang kekinian dan kampung. Antara yang kebaratan dan kemelayuan.

Di dua kutub itu ada jurang pemisah yang telah terjembatani selama 28 tahun belakangan. Jembatan itu bernama OM PMR [Orkes Moral Pengantar Minum Racun]. Punggawa OM PMR adalah Jhonny Iskandar, Boedi Padukone, Yuri Mahippal, Imma Maranaan, Ajie Cetti Bahadur Syah, dan Harri 'Muke Kapur'.  Sedari awal terbentuk, OM PMR tak pernah bongkar pasang personel.

Borneo Beer House dipilih sebagai venue perayaan ulangtahun OM PMR ke-38. Tempat kecil itu sesak oleh orang yang ingin bergoyang sambil tertawa. Tak seorang pun yang duduk. Bahkan yang sudah reservasi ikut berdiri. Malam itu harga oksigen bisa saja melambung tinggi jika ada yang menjual. Sumpah rame banget, men.

Sebelum ramai oleh headbangers, dangduters, dan hipster, kami sempat mengobrol tentang satu dua hal dengan om-om nyentrik itu. Satu rahasia yang terus menjaga mereka dari ‘kepunahan’ atau bongkar pasang personel adalah formalin!

“Hahaha, jangan lu kasih tau dong Boed! Ntar band-band sekarang pada niru cara kita,” saut Jhonny Iskandar. Pria yang digandrungi Genk Lawless itu secara filosofis menjawab bahwa di PMR tidak ada yang 'paling'. Mereka semua sama rata sama rasa. Tak ada satu personel yang lebih menonjol dibanding yang lain. Jadi tidak ada di PMR yang namanya ego pribadi.

Secara tidak sadar album perdana mereka telah menjembatani dua kutub tadi. Jika saja album OM PMR, Judul Judulan [1987] tidak meroket, tentu malam itu nggak akan ada headbangers yang menaikkan jempol ke udara lalu bergoyang. Sejenak mereka menyembunyikan lambang devil horn akibat mendengar ketukan gendang Harri 'Muke Kapur'.

“Motto kami ‘Usia tidak menjadi halangan’. Kami masih ingin terus berkarya. Tunggu aja nanti bulan Desember atau Januari, kami bakal ngeluarin sesuatu yang bakal gigit jari para pembajak. Sesuatu yang akan menggantikan RBT,” terang Boedi Padukone.

Malam itu pesta ria diadakan dua kali, pertama di dalam Borneo Beer House. Kedua di halaman parkir, untuk mereka yang tidak bisa masuk karena kepenuhan. Gratis. Celotehan tentang minum formalin bisa jadi fakta. Sudah tiga generasi, '80, '90, '00, lagu "Judul Judulan" tetap awet. Dihapal seperti lagu kebangsaan.

Apa jadinya jika tak ada PMR? Tawuran antar-fans? Ah, biarlah itu milik The Jakmania dan Viking sajalah. [][teks & foto @HaabibOnta]