}
Silampukau, Generasi Baru Surabaya
Musik

Silampukau, Generasi Baru Surabaya

by Pandu
Mon, 30-Nov-2015

Rabu malam [25/11], adalah panggung ketiga Silampukau di Jakarta. Mendung yang samar oleh gelap malam, tak menyurutkan mereka yang ingin bersenandung tentang Surabaya meski hujan jatuh di beberapa wilayah, selain Kemang.

Eki dan Kharis maju sebagai pembuka, sebelum Float dan Dialog Dini Hari tampil. Ketimbang dua band itu, Silampukau terbilang ‘anak baru’. Tapi bukan berarti, tidak ada yang mengenal apalagi merapal lagu-lagu Silampukau. Dari 500 lebih orang yang hadir, ada yang menyanyi, bergoyang, memotret atau mendengarkan dengan khusyuk.

“[Panggung] Malam ini yang terbaik,” kata Kharis usai manggung di acara Urban Gigs, Rolling Stone Cafe. Raut mukanya yang berbinar tak bisa membendung rasa sumringah. Begitu juga Eki yang terus cengengesan. Selintas karena kumis tebal legam serta rambut gondrongnya, Eki jadi terlihat mirip Iwan Fals muda.

“Sebetulnya kami bukan band folk yang pertama dari Surabaya,” lanjut Kharis, "sebelum kami ada lebih banyak." Berawal dari penghujung tahun ‘80-an sampai sekarang, Surabaya dikenal punya skena musik yang keras. Band-band cadas tanah air berangkat dari Timur Jawa, sebut saja Boomerang dan Jamrud. Lady Rocker seperti Nicky Astria dan Mel Shandy juga berasal dari Kota Pelabuhan itu.

Munculnya Silampukau ke permukaan industri musik, bisa jadi mengubah penilaian tentang kultur keras yang dipunyai oleh orang Surabaya. Apalagi ‘Tanjung Perak’ bisa melahirkan musisi yang lebih halus dari Dewa 19.

“Sebelum kami berdua ada Franky & Jane, Gombloh, juga Leo Kristi atau lebih lawas lagi Komedi Stambul,” kata Kharis yang logatnya tidak terdengar medok.

Lewat terobosan Log Zhelebour, skena musik Surabaya berubah sejak ‘80-an. Band-band beraliran cadas bisa mengadakan tur keliling plus penjualan album yang laku keras.

“Kami cuma suka dengan musik seperti ini. Kami berusaha meneruskan tradisi jaman itu. Sudah benar atau salah, persetan lah kami tidak berusaha mendobrak [kultur/skena] apa pun.” katanya.

Dalam suasana hingar-bingar menunggu naiknya Float ke panggung sebagai penutup, Eki bertutur, awalnya ia diajak main band oleh Kharis yang dulu sempat punya kelompok keroncong. Lalu kelompok itu bubar dan giliraan Eki yang mengajak Kharis. Terciptalah Silampukau.

“Silampukau itu burung, karena kami dua cowok jadinya milih nama itu. hahaha,” ujar Eki bercanda,

”Kalau ngaconya begitu. Kalau benarnya, burung itu kan bernyanyi, kami juga begitu. Tadinya pengen Silampekur, tapi nggak etis.” imbuhnya.

Sejauh ini Silampukau sudah memproduksi dua album, Sementara Ini [2014] dan Dosa, Kota, dan Kenangan [2015].

Obrolan kami tutup lewat diskusi tentang penambahan instrument trumpet pada lagu Si Pelanggan agar lebih muram. Lagu itu mengambil objek kawasan prostitusi legendaris, Gang Dolly. Antara musik Silampukau dengan Gang Dolly ada benang merah yang membentang. Keduanya, gempita sekaligus muram. [][teks & foto @HaabibOnta]