}
10 Lagu Protes Sebelum '90-an
Musik

10 Lagu Protes Sebelum '90-an

by Pandu
Sat, 19-Mar-2016

Dalam satu album, di antara trek-trek untuk jualan itu, pasti tersempil trek yang murni idealis. Tercipta bukan sekadar untuk meraup keuntungan, melainkan juga bisa membawa pesan yang ingin disebarkan. Bisa sebuah perdamaian atau kecaman.

Sebelum dekade '90, banyak musisi yang ikut turun terjun ke dunia politik. Cukup melalui lagu, tidak perlu ikut duduk bersama para pesakitan. Dari luar arena mereka menuntut perubahan, yang diamini jutaan massa, tanpa perlu turun ke jalanan.

Musisi terkadang bisa menjadi penyambung lidah rakyat yang sesungguhnya. Sebab itu semua foto pakai mikrofon. Dan pesakitan tetaplah pesakitan. Tuli hatinya tidak mau dengar 10 lagu protes ini.


1. “A Change is Gonna Come” – Sam Cooke [1964]

Cooke tumbuh ketika Lousiana masih dikuasai Ku Klux Klan [komunitas pembenci ras kulit hitam]. Jadi, si hitam selalu salah. Lagu ini dirilis beberapa bulan setalah Cooke ditembak mati oleh pemilik motel yang menuduh ia memperkosa anaknya. Tragis.

2. “Get Up Stand Up” – Bob Marley [1973]

Ketika tur ke Hawaii, Bob Marley tercengang melihat kehidupan miskin Haitians [suku asli]. Sementara banyak hotel mewah berdiri. Marley membuat lagu ini untuk mendorong mereka mengambil haknya. Lewat berapa dekade, lagu ini tetap relevan karena masih banyak ketimpangan di sana-sini.

3. "Fight The Power" – Public Enemy [1989]

Daripada ribut dengan sesama rapper, Public Enemy berkonfrontasi langsung dengan pemerintah dan pemodal. Grup militan ini terbukti bisa memperkuat basis orang kulit hitam. Mereka berani mengangkat kepala untuk mejatuhkan dominasi white power.

4. "Blowin’ in The Wind" - Bob Dylan [1962]

Dalam bahasa yang paling simpel: kenapa kita harus berperang?. Bob Dylan menjawabnya dengan klise “Jawabannya ada di angin yang berhembus, teman”. Lagu bagus adalah yang relevan  setiap masa. "Blowin’ in The Wind", salah satunya.

5. "Death or Glory" - The Clash [1979]

Joe Strummer dan Mick Jones menulis lagu ini sebagai respons terhadap generasinya, yang berjanji akan mati muda. Bisa jadi karena suntikan heroin di diskotik atau terbakar oleh bom napalm di medan perang. "Death or Glory" is just another story.

6. "Looking for Freedom" - David Hasselhoff - [1989]

David Hasselhooff terkenal dalam dua peran, sebagai Mitch [Baywatch] dan penyanyi 'Looking For Freedom'. Lagu ini kover dari lagu hit '70-an, 'Auf Der Strasse Nach Süden' yang berhasil meruntuhkan perang dingin. Bagi orang Jerman, lagu ini adalah soundtrack saat menghancurkan Tembok Berlin.

7. "God Save The Queen" – Sex Pistols, 1977

Saat Ratu Elizabeth merayakan titahnya yang ke-25, Sex Pistol berniat konser depan Istana Westminster memaikan lagu ini, tapi disabotase aparat. "God Save The Queen" semacam kemarahan anak muda yang tak sepaham dengan monarki. Lagu ini jadi anthem bagi punk movement dari '77 - sekarang.

8. “Strange Fruit” - Billie Holiday [1939]

Lagu protes pertama di Amerika ini dinyanyikan oleh wanita. Billie Holiday menembang Strange Fruit dengan nuansa yang amat kelam. Lagu ini menceritakan akan hukuman mati bagi kulit hitam tanpa pengadilan. Majalah Time melabeli "Strange Fruit" sebagai "Lagu Abad Ini" di tahun 1999.

9. "Fuck The Police" - N.W.A [1988]