}
Kampoeng Jazz dengan Kemasan Cerdas
Musik

Kampoeng Jazz dengan Kemasan Cerdas

by Yogira
Tue, 03-May-2016

Gelaran jazz tak harus melulu menyuguhkan musik jazz. Harus ada kompromi dengan kemasan cerdas agar penontonnya datang dari berbagai kelas. Itu yang terjadi pada perhelatan Kampoeng Jazz ke-8, yang digagas mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran di Kampus Unpad, Jl. Dipatiukur, Bandung [30/4].

Maliq & D'Essentials boleh dibilang penampil langganan Kampoeng Jazz karena memang penggemarnya banyak. Tapi band asal Amerika, Copeland jadi bintang utama.

Di Main Stage, selain Maliq dan Copeland, tampil juga Teza Sumendra, Koes Plus, Andien. Sedangkan di Lounge Stage, ada Tesla Manaf, Rei Narita, 5 Petani, dll.  Di panggung ini, band lawas dan legendaris sekelas Koes Plus berhasil menggiring penonton yang kebanyakan mahasiswa pada suasana ngepop yang ceria.

Beda dengan di Lounge Stage, atmosfir ngejazz sangat terasa, terutama dengan penampilan Tesla Manaf. Pembeda dua stage ini sebenarnya semacam kompromi. Yup, kompromi pada pasar. Sudah lama Jazz Goes to Campus UI mengemas acara jazz semacam ini dengan tetap mempertimbangkan selera pasar [penonton yang ngepop].

Demikian juga event sekelas Java Jazz tetap harus mencampurkan racikan musik pop pada sejumlah panggungnya sebagai pemakluman pada bargaining power untuk sponsorship.

Jadi, jangan aneh, di Kampoeng Jazz malah ada Copeland, yang jelas musikalitasnya cenderung rock ketimbang jazz. Popularitas mereka lah yang jadi faktornya.

Event Kampoeng Jazz bisa dikatakan kemasan cerdas. ‘Mengawinkan’ jazz dengan suasana gaya hidup ngepop tidaklah diharamkan demi kompromi pada pasar. Setuju? [][teks @firza | foto @pohanpow]