}
Cerita Pedagang Rilisan Fisik [1]
Musik

Cerita Pedagang Rilisan Fisik [1]

by Pohan
Wed, 22-Apr-2015

Di era digital ini, ternyata rilisan fisik [piringan hitam, kaset, dan CD] masih bisa selamat dari kepunahan. Faktanya, pencinta rilisan fisik hadir membludak dalam gelaran Record Store Day, Indonesia 2015, di Bara Futsal, Jakarta, [18-19 April 2015].  

Puluhan record store serta merchandise asal Jakarta dan kota lainnya ikut berpartisipasi meramaikan helatan ini. Salah satu partisipannya adalah Warung Musik.

So, simak langsung wawancara LINIKINI dengan Agus WM, panitia Record Store Day Indonesia 2015 sekaligus pemilik Warung Musik dan label independen Majemuk Records di bawah ini:


Bagaimana awal mula jual rilisan fisik?
“Awalnya koleksi, dari zaman saya SMA, kuliah. Tahun 2000, SMA kelas 3. Lebih praktis beli kaset, sambil dengerin sambil ngumpulin. Baru setelah lulus kuliah, saya kerja sambil ngoleksi dan jualan juga supaya nggak berat untuk belanja koleksian. 'Kan semakin lama makin banyak, pengeluaran juga besar. Saya akalin dengan cara jualan juga.”

Sejak kapan jualan rilisan fisik?
“Online dulu, tahun 2010 melalui Facebook. Selang beberapa bulan baru punya toko di basement Blok M Square. Sekarang ada 17 toko di situ, jualnya sejenis piringan hitam, CD, kaset.”

Apa saja rilisan fisik yang dijual?
“Kaset, CD, piringan hitam semua genre musik, mau baru atau bekas dari tahun-tahun lama. Piringan hitam yang paling lawas tahun '50-an.”

Cara ngedapetin barang-barang untuk dijual?
“Kalau yang lama, kita nyari dari lapak-lapak bekas. Kadang ada orang jual atau yang dulunya punya koleksian yang nggak kepake. Daripada dibuang, ya mereka bawa ke Blok M untuk dijual pada pedagang di sana. Kalau untuk yang baru, saya order dari distributor. Saya kontak mereka bisa dapat rilisan baru,  sama seperti toko musik lain.”

Bagaimana keuntungan menjual rilisan fisik?

“Jualan yang baru, untungnya kecil, tapi kalau jualan second lumayan lah. Kalau barang second atau langka,  harganya bisa mahal. Dapet yang murah, bisa kita jual  dengan harga lebih lebih mahal.  Jadi, untungnya lumayan. Kalau barang-barang yang baru dirilis, kita udah ada ketentuan harganya sekian, diskon 20% untuk pedagang udah. Pedagang jual sesuai aturan.”

Apa pendapat soal maraknya pedagang rilisan fisik?

“Makin banyak, semakin bagus karena dagang begini nih simbiosis mutualisme, sama kayak pedagang batu akik. Semakin banyak batu akik yang dagang, semakin banyak yang ikutan koleksi seperti ini. Kalau sendirian, kita susah juga ya.”

Apa alasan mereka membeli rilisan fisik?

“Banyak faktor. Ada yang pengin koleksi, ada yang sekadar ikut-ikutan temennya, ada yang cuma pengin dengerin musiknya.”

Pernah kah memanfaatkan permintaan dengan menjual rilisan fisik dengan harga tinggi?
“Kalau itu sih semua pedagang biasanya seperti itu. Tapi kan nggak semua pedagang tau juga, mana yang bisa dijual mahal mana yang nggak bisa dijual mahal. Setiap pedagang punya standarisasi yang berbeda terutama untuk kita bicara dengan barang-barang yang bisa dibilang langka. Menurut pedagang A, ini langka. Tapi menurut pedagang B, ah saya juga sering dapat jual murah aja. Kita nggak punya patokan. Kalau emang itu rezekinya kita dapat lebih. Kalau nggak rezeki, mau kita jual murah pun nggak laku juga.”

Bagaiman suka duka jualan rilisan fisik?

“Lebih banyak sukanya karena ini hobi. Jadi, kayak nggak merasa terbebani. Kayak lagi main-main aja, kayak lagi ngejalanin hobi.”

Punya koleksi lengkap album musisi idola?

“Kalau lokal, Dara Puspita dari yang pertama sampai album terakhir.”

Ada hal yang merugikan saat transaksi jual-beli rilisan fisik?

“Ada. Tapi bisa dibilang dari 100, satu atau dua lah yang di luar prediksi kita. Misalnya, barang patah atau rusak, nggak sesuai harapan.”

Pendapat soal Record Store Day Indonesia 2015?

“Supaya orang tuh melek lagi kalo rilisan fisik belum usai. Sekarang mulai berkembang lagi. Tahun depan, prediksi saya ramainya bisa dua tiga kali dari ini kalau kita bikin acara yang serupa.”

Bagaimana cara merawat piringan hitam?

“Paling ya nggak kena debu nggak kena goresan. Itu aja sih simpel. Ya, nggak boleh di tempat lembap. Ngakalinnya, bungkus cover dengan plastik, jadi udara lembap atau debu nggak mudah masuk, juga nggak rentan kena rayap.”

Berapa harga rilisan fisik yang pernah dijual tinggi tapi orang masih mau bayar?
“Ada, kaset pita penyanyi Prancis tahun '60-an dijual Rp 4,5jt.” [][teks & foto @pohanpow]


Warung Musik
Blok M Square, lantai basement blok B No. 162, Jakarta
LINE  warungmusik
Instagram  @warungmusik
Twitter  @warungmusikshop