}
Cerita Pedagang Rilisan Fisik [2]
Musik

Cerita Pedagang Rilisan Fisik [2]

by Pohan
Wed, 22-Apr-2015

Patut diacungi jempol. Ternyata, di Bandung terdapat sekumpulan pedagang rilisan fisik [piringan hitam, kaset, dan CD], yang memegang solidaritas tinggi. Pada acara Record Store Day Indonesia 2015, di Bara Futsal, Jakarta [18-19 April 2015], ada lebih dua lapak yang mengatasnamakan Cihapit School of Rock. Bagi masyarakat Bandung, hingga sekarang, Cihapit dikenal sebagai kawasan penjual barang-barang bekas, termasuk rilisan fisik. 

Ada beberapa pedagang yang tergabung dalam Cihapit School of Rock. Salah satunya Buddy Golleer. Dia termasuk cukup lama berkutat di dunia perkasetan Bandung. Atas dasar hobi mengumpulkan harta karun [rilisan fisik] sekaligus rasa cintanya pada musik, setidaknya  kiprah mereka jadi catatan tersendiri dalam perjalanan musik Indonesia. 

Inilah kelanjutan dari Cerita Pedagang Rilisan Fisik sebelumnya, LINIKINI menemui Buddy pada Minggu [19/04], hari terakhir penyelenggaraan Record Store Day Indonesia 2015:


Di Bandung sendiri penjualan rilisan fisik bagaimana?

“Penjualan rilisan fisik lumayan. Tapi untuk saat ini, barangnya sih yang susah. Sekarang memang peminatnya banyak. Tapi barang-barangnya susah dicari juga. Kalau dijual lagi, ya agak susah juga.”

Dulu kolektor?

“Dulu kolektor, zaman SMA tahun ’97 trus jadi pedagang. Sekarang pedagang merangkap kolektor."

Mikir buat jualan?
"Ya di Bandung, di lapak tempat yang sekarang saya tempatin di perempatan Dewi Sartika. Yang punya lapak berhenti jualan, lapaknya dijual, jadi saya ambil. Saya udah 10 tahun dari sekitar 2005 sampai sekarang."

Penjualan hari pertama di Record Store Day Indonesia 2015?
“Lumayan, Alhamdulillah kalau buat kaset sendiri ya. Sebetulnya untuk saat ini yang saya perhatiin banyak peminatnya band lokal.”

Pernah nggak jual kaset bekas harga tinggi?

“Band hardcore lama Jakarta. Kemarin saya jual Alhamdulillah tembus Rp. 200 ribu."

Kalau yang band internasional ada nggak yang mahal dan susah dicari?
“Sebetulnya, saya pribadi sebagai penjual, ya tergantung pembelinya. Bisa aja kita ngejual maksimal. Saya nggak bisa nentuin patokan harganya.   

Antusiasme pecinta rilisan fisik di Record Store Day Indonesia 2015?

“Kayaknya lebih rame kemarin ya [18/04] saya sampe susah nafas."


Harapan diadakannya Record Store Day Indonesia?

“Harapannya, acara ini jangan berhenti jadi ajang apresiasi rekaman fisik kayak gini. Mereka membeli, berarti mereka menghargai para artisnya.”

Sebagai penjual kaset, sering komunikasi dengan pedagang di kota lain nggak?

“Iya, sebagai pedagang, saya menjalin silaturahminya harus luas.”

Omset dagang di Bandung?
“Kita nggak bisa matok harganya. Cuma, kalau bagus, menurut saya pribadi gimana stok barangnya. Kalau stok barangnya bagus, Insya Allah penjualan bagus.”

Pernah angkat kaset bekas paling murah berapa?
“Kalau cari barang, biasanya saya cari juga ke loakan. Seketemunya aja. Yang kepake satu, ya diambil satu. Harga yang seribu [rupiah-red] juga pernah di pasar loak. Pedagang kan modal minimal jual maksimal.”

Merhatiin kualitas kaset yang dijual nggak sih?
“Saya pribadi, saya nggak mau ngecewain pembeli. Makanya, saya kasih garansi, kalau ada apa-apa, bisa diganti. Misalnya saya masih ada stoknya, saya ganti dengan barang yang sama, atau ganti barang yang senilai, atau uangnya saya kembaliin.” [][teks & foto @pohanpow]