}
Kolaborasi Bekraf dan Irama Nusantara
Musik

Kolaborasi Bekraf dan Irama Nusantara

by Pohan
Fri, 03-Jun-2016

Badan Ekonomi Kreatif [BEKRAF] berkolaborasi dengan Irama Nusantara meresmikan program Kerja Sama Pengarsipan dan Pendataaan Hasil Industri Rekaman di Indonesia sebagai ikhtiar dokumentasi modern arsip musik populer Indonesia.

Publik yang ingin mengenal kekayaan musik populer Indonesia bisa mengakses situs iramanusantara.org untuk mendengarkan koleksi rilisan rekaman dari era 1920-an hingga 1980-an. Menarik bukan?

Seluruh koleksi musik bisa didengarkan secara gratis sambil menikmati salinan digital sampul album yang dirilis saat itu. Pengarsipan dan pendataan ini mendapatkan dukungan dari berbagai musisi dan penyanyi serta stasiun-stasiun siaran radio di Indonesia.

Acara peresmian program Bekraf dan Irama Nusantara berlangsung di Rolling Stone Cafe, Jakarta, Rabu [01/06]  yang juga diisi dengan talkshow menarik bertema "Arsip sebagai Dasar Perkembangan Musik di Indonesia”.

Telah hadir sebagai pembicara talkshow; David Tarigan [Irama Nusantara], Triawan Munaf [Kepala Bekraf Indonesia], Arie Legowo [A&R Warner Music Indonesia], Imam Haryanto [LMKN], Bob Tutupoly, dan Glenn Fredly, yang dipandu Wendi Putranto [Editor Rolling Stone Indonesia].

"Yang terjadi di suatu masa tercermin dalam lagu, syair, dan irama,” kata David Tarigan soal basis pengarsipan dan pendataan ini. Menurutnya, musik bisa memberikan gambaran suatu kejadian lewat lirik yang tercipta oleh musisi-musisi pada masa itu.

Ketersediaan piringan hitam dengan kondisi yang layak terbilang minim. Ini menjadi tantangan tersendiri selama proses alih bentuk musik Indonesia dari fisik menjadi berkas digital. Apalagi untuk menemukan piringan hitam dalam kondisi baik adalah sebuah keberuntungan.

Tahun 2016, Irama Nusantara bersama Bekraf pun menjajaki program Gerakan 78 sebagai upaya pengarsipan dan pendataan materi piringan hitam shellac [78 RPM] yang banyak ditemui di berbagai stasiun radio, di antaranya Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia [LPP RRI] di seluruh Indonesia.

Sebagai informasi, Irama Nusantara lahir atas wujud kecintaan dari segelintir orang terhadap musik populer Indonesia, di antaranya: David Tarigan bersama Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunata, Dian Onno, Norman Illyas, dan Mayumi Haryoto.

Mereka pekerja dan penikmat musik yang merasa sayang jika musik Indonesia hilang begitu saja. Lantas mereka menggagas sebuah gerakan pengarsipan musik populer Indonesia dari format piringan hitam menjadi berkas digital. Fokusnya musik populer Indonesia era tahun 1950-an hingga 1980-an. [][teks @pohanpow | foto PR]