}
Musik

"Legalisasi" ala Rebel Education Project

by Pohan
Thu, 23-Apr-2015

Band hip hop/soul/experimental asal Jakarta, Rebel Education Project meluncurkan video terbarunya, "Legalisasi" dengan konsep live session pada Selasa [21/04] via YouTube WestWew Production.

Video “Legalisasi” menampilkan Ketua Lingkar Ganja Nusantara, Dhira Narayana dan salah satu musisi favorit REP, Anindya Dimas 'Art Of Tree'. Rekaman video diambil dari tempat yang berbeda dengan konsep audio tracking outdoor.

Para personel REP: Tuan Tigabelas [MC], Tara [bass], Marco [drum], dan Duke [gitar] kecuali Vava [gitar] di New Zealand serta Dimas melakukan syuting di Kembangan. Sementara, Dhira di Pulo Situ Gintung 3.

Dalam video, Dhira mengenakan kemeja cannabis membacakan teks yang ia buat sendiri. Ia berharap orang bisa lebih terbuka dalam menyikapi suatu hal dari sudut pandang yang positif. Berikut isi orasi musikal Dhira yang disalin LINIKINI dari video:

“Halo, kawan-kawan generasi muda Indonesia. Siapa yang masih ingat dengan kalimat pertama janji dan cita-cita proklamasi bangsa kita? Ya, cita-cita itu ada di preambule [pembukaan atau mukaddimah-red] Undang Undang Dasar 1945 bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa.

Kemerdekaan, kemerdekaan punya dua makna, makna jasmani dan makna rohani. Secara jasmani, kita punya tanah yang merdeka, kita punya air, kita punya gedung yang bertingkat, kita punya pasar-pasar yang bisa kita kelola sendiri, kita punya bendera Merah Putih, kita punya bahasa dan lain sebagainya. Namun, apakah kita sudah merdeka secara rohani?

Pertanyaan ini yang harus menjadi fokus generasi muda kita, kawan-kawan. 69 tahun kita sudah merdeka, bangsa kita tetap saja sengsara, kekerasan terjadi dimana-dimana, penebangan hutan, ketidakadilan, pencurian sumber daya alam, dan lain sebagainya.

Segala sesuatu yang membuat hati kita pilu terjadi di Tanah Air kita ini. Mengapa? Pernahkah kalian bertanya sampai kapan ini akan terjadi? Hal ini akan terus terjadi apabila generasi kita tidak dapat memerdekaan jiwanya. Lalu, apa solusinya? Bagaimana cara kita memerdekakan jiwa kita? Solusi untuk memerdekakan jiwa kita adalah dengan mengenali jati diri kita yang sesungguhnya. Dari situlah kemerdekaan jiwa akan kita rasakan.

Masalahnya saat ini, banyak generasi muda yang berpikir bahwa cannabis dapat memerdekakan jiwanya, TIDAK! Kemerdekaan jiwa tidak bisa didapat dari luar diri kita. Kemerdekaan itu tidak bisa kita beli dengan uang. Kalau pun benar kebebasan itu hanyalah sesaat dan seharusnya menyisakan pertanyaan besar buat kita, adakah kemerdekaan batin yang abadi? Adakah kemerdekaan yang dapat membuat generasi kita menjadi generasi yang sentosa? ADA!

Namun, kawan-kawan harus menemukannya di dalam diri kalian sendiri. Ketika kita mengenal diri kita, jayalah Indonesia. Itulah mengapa kita harus mulai belajar mengenal Pancasila, karena Pancasila adalah jati diri bangsa. Pancasila adalah jati diri setiap manusia. Karena siapa yang mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya."

Lirik lagu dituliskan Tuan Tigabelas saat ia masih solo karier tahun 2011 yang kemudian dikemas aransemen musiknya bersama REP. “Legalisasi” tidak masuk di dalam daftar lagu mini album Letter To, namun dijadikan anthem organisasi non-pemerintah Lingkar Ganja Nusantara [LGN].

Melalui video “Legalisasi”, REP memberikan dukungan kepada LGN dalam rangka memperingati 4/20 [Baca juga Makna Peringatan 420 untuk Indonesia, #terimakasih Cannabis http://www.legalisasiganja.com/makna-peringatan-420-untuk-indonesia-terimakasih-cannabis/].

Berikut hasil obrolan Reporter @pohanpow bersama dua personel Rebel Education Project, Tara dan Tuan Tigabelas melalui WhatsApp seputar “Legalisasi”:

Di video tertulis “dalam rangka memperingati”. Seperti kita tau, Indonesia tidak menetapkan perayaan tersebut. Tapi, terlepas dari persoalan ganja, yang  menariknya adalah "semangat" dalam menyampaikan pesan.
Tara: Makanya kami mau mulai perayaan itu dalam bentuk yang lain, yang layak buat di Indonesia.

"Legalisasi" itu  lagu yang bercerita tentang apa?
Tara: Bisa dibilang konsep awal musik REP dari lagu itu.

Maksudnya? Konsep awal musik REP?
Tara: Jadi, awal gue ajak Upi [Tuan Tigabelas-red] bikin REP, berawal dari ngerjain materi lagu “Legalisasi”. Kalo dari segi song writting sih lebih ke arah anthem LGN.

Maksudnya, cannabis bukan soal melegalisasi penggunaannya dengan cara dihisap saja, tapi bisa bermanfaat bagi kesehatan, begitu kah?
Tara: Jadi yang dimaksud di sini justru bukan menyuarakan untuk 'bebas hisap'. Ganja 'kan tumbuh liar di Indonesia, terutama Aceh. Fakta lainnya, ini pohon bisa dimanfaatkan untuk pengobatan bebas efek samping. Bisa juga diolah buat industri melalui serat batangnya, minyak juga biji nya, dsb. Tapi faktanya yang lebih dulu adalah ganja masuk golongan narkotika.

Apa lo tau di Indonesia sendiri udah manfaatin itu? Maksud gue, orang umumnya pasti mikir ganja, ya dihisap..
Tara: Baru tembus buat penelitian tahun ini, kalo nggak salah, ya untuk medis.

Semua orang akan berpikir bahwa ganja dihisap dan fly titik. Bahkan hukumannya berat sekali. Gimana tuh menurut lo?
Tara: Saking lamanya bangsa ini didoktrin bahwa ganja itu golongan narkotika, mereka ya taunya ganja itu cuma buat dihisap trus giting. Kalo ketauan memiliki, ya melanggar hukum trus ditahan. Yang dilihat selalu sisi negatifnya. Beberapa negara yang juga memiliki ganja sebagai SDA, sudah bertahun-tahun yang lalu memulai penelitian untuk dikembangin ke arah medis dan industri. Malah udah ada yg melegalkan. Uruguay, contohnya. Bangsa lain yang sudah memulai penelitian serta melegalkan ganja medis dan industri udah sadar duluan bahwa ganja bisa jadi aset pendapatan negara. Contoh lainnya adalah Jepang. Warganya diperbolehkan gunain ganja buat rekreasi alias diisep, cuma melalui prosedur tertentu dan pake takeran

Pendapat lo tentang LGN?
Tara: Awalnya gue berpikir, LGN adalah perjuangan buat bebas hisap. It'll never happened. Setelah ngobrol sama Dhira, kayak kena gebuk ditengkuk masalah legalisasi. Gue pribadi support LGN karena kesel aja. Nih negara terus-terusan dijadiin lahan dagang mafia narkoba. Emang mau dagang di mana lagi kalo bukan di Asia? Dan kalo sampe kejadian ganja legal di Indonesia, bukan nggak mungkin perdagangan narkotika bisa diminimalisir daripada edeb [bandar-red] dihukum mati.

Lagu yang lo buat itu "Legalisasi" arahnya ke mana?
Tuan Tigabelas: Jadi gini, legalisasi itu sebenernya luas banget. Ada beberapa aspek. Rekreasi [yang biasa orang-orang hisap]. Ini aspek paling kecil menurut gue. Trus, ada industri dan ada aspek medis, ini yg paling penting buat gue. Selama ini masyarakat kita terlalu sempit sudut pandangnya begitu denger kata ganja, apalagi kalo udah sampai ke kata legalisasi karena pasti berbenturan dengan yang katanya norma dan agama, tanpa mau tau lebih lanjut dulu yang sebenernya.

Dari segi medis, secara tertulis, gue bisa kasih banyak bukti konkret tentang pengobatan dengan tanaman ini. Negara-negara maju sudah mulai mengaplikasikan tanaman ini sebagai substance obat farmasi yang notabene selalu punya side effect yang nggak kalah buruk dari penyakit itu sendiri dan caranya nggak selalu dihisap. Bisa diekstrak menjadi cairan dengan dosis tertentu jadi makanan agar lebih mudah dicerna.

Pokoknya, banyak banget manfaatnya selain cuma bisa bikin orang giting seperti yang masyarakat kita pikirin. Jadi lagu "Legalisasi" yang kami bikin itu sebenernya mau jelasin kepada masyarakat bahwa ganja nggak cuma sekecil itu aspeknya, banyak manfaat di dalamnya kalo pemerintah kita mau buka dan ambil kebijakan untuk meneliti tanaman itu lebih lanjut.

Untuk pembuatan video kenapa live session?

Tuan Tigabelas: Ini bentuk apresiasi kami ke organisasi yang memperjuangkan isu legalisasi itu sendiri, LGN namanya. Konsep live session kami bikin kemarin untuk memperingati 20 April, atau lebih dikenal 4/20. Kenapa live session, karena kami mau menggambarkan lagu ini lebih detail lewat karakter masing-masing pemain dan atmosfir musiknya. Kami ajak Dhira untuk orasi agar misi edukasi yang kita mau, lebih jelas tersampaikannya.

Tadinya “Legalisasi” bagian dari mini album Letter To. Apa alasan nggak jadi masuk daftar lagu?
Tuan Tigabelas: Karena ya ada ketakutan tertentu dari beberapa pihak lagu ini akan jadi bumerang buat kami dan lain sebagainya. [][foto dok berbagai sumber]