}
Konser Morrissey JKT Berakhir Patah Hati
Musik

Konser Morrissey JKT Berakhir Patah Hati

by Pandu
Mon, 17-Oct-2016

Steven Patrick Morrissey menggelar konser di Jakarta untuk kali kedua. Di GBK Sports Complex Senayan yang dipromotori kiosPLAY. Dalam lawatan keduanya ini, Opa Moz tampil selama satu jam setengah untuk bernyanyi sekaligus kampanye.

Yap, bukan Morrissey namanya kalau cuma sekedar nyanyi tanpa membicarakan isi kepalanya lewat montase video. Pilihan lagu pun sudah disesuaikan agar pas dengan montase.

Morrissey membuka set list dengan "Suedehead". Disusul "Alma Matters" lalu "Everyday is Like Sunday" dan "Kiss Me A Lot". Jika ini adalah pertandingan sepakbola, Morrissey sedang melancarkan pola total football. Yang tidak memberikan ruang bernapas untuk penonton. Mereka terus dipacu Morrissey bernyanyi agar merasakan, bahwa menyanyi itu mengeluarkan energi banyak. Salut untuk Opa Moz yang masih greng di umur 57 tahun.

Konser di Jakarta hampir mirip sekali dengan konser Morrissey di Kings Theatre, Brooklyn, 24 Sept 2016. Opa Moz tampil dengan kemeja satin biru dan celana hitam. Lalu di tengah konser ia buka dan dilempar ke penonton. Memang ini adalah ciri khasnya untuk memberi cenderamata. Setlist pun nggak jauh beda, 16 lagu Morrissey, 2 lagu The Smiths, dan 1 Ramones cover ["Judy is a Punk"].

Montase video yang dipakai untuk alat kampanye Morrissey, membabakkan konser jadi empat bagian. Pertama adalah montase inspirator Morrissey, James Dean, [aktor] dan Renée Jeanne Falconetti [aktris]. Lalu montase kebenciannya pada Pangeran William dan Kate Middleton dengan tagline “United King Dumb”.

Ketika lagu “Ganglord” menggema, montase kekerasan polisi kepada warga diputar. Sedikit banyak ini mengorek memori tentang ‘stabilitas’ yang pernah dibangun di era Orba. Terakhir adalah “Meat is Murder”. Seketika stage menjadi merah seperti darah. montase video menunjukkan kekerasan pada hewan potong. Yang Opa Moz pasang adalah video Farm to Fridge, yang ditujukan untuk membuka mata, bahwa pemotongan hewan pakan itu biadab. Karena seperti diketahui, Morrissey seorang vegan dan pegiat hidup sehat.

Setelah itu konser langsung ditutup tanpa ucapan pamit atau drama encore. Penonton masih berharap akan ada kejutan dari Morrissey. Tapi ia tidak juga keluar, sampai sekuriti menyadarkan kami “Konser sudah selesai. Silakan pulang.” Kru FOH juga pun sudah merapikan alat.

Sekalipun kami memanggil lewat lagu “Please, Please, Please, Let Me Get What I Want” atau “The More You Ignore Me, The Closer I Get”, tidak juga memunculkan Morrissey. Sehingga konser harus berakhir dengan kentang.

Ternyata, di set list lagu ada sebuah encore yang mustinya dibawa Morrissey. Itu lagu “What She Said”. Lalu kenapa tidak muncul drama encore itu? Rumor beredar jika hati Morrissey juga patah hati oleh tindakan penonton yang masih tetap merokok di areal konser. Padahal larangan merokok sudah jelas.