}
Musik

Kelincahan Jemari Joey Alexander dalam Countdown

by Yogira
Wed, 02-Nov-2016

Kiprah Joey Alexander dalam musik jazz dunia kian cemerlang. Setelah membetot perhatian audience pada Grammy Award 2016, dengan dua nominasi dan manggung di sana, belum lama ini Joey melempar album kedua, bertajuk Countdown.

Tak jauh berbeda dengan album pertamanya yang bertajuk My Favorite Things, Joey kembali mengusung  pakem jazz standar dengan racikan swing, bipbop, dan ragtime. Pengaruh gaya permainan Thelonious Monk dan Chick Corea masih terasa, terutama dari ‘loncatan-loncatan’ ketukannya pada tuts piano, yang terdengar improvisational meski tentu saja Joey sudah menyiapkan semua lagunya secara konseptual.

Dengar saja lagu [klik] "Countdown". Kelincahan jemari Joey membuahkan 'energi' musikal yang terdengar berirama cepat. Larry Grenadier [bass] dan Ulyssess Owens [drum] menjaga keseimbangan ketukan-ketukan tuts piano  yang dimainkan Joey dengan harmonis, sehingga repertoar ini secara ritme tidak ‘melenceng’ sembarangan. Perlu dicatat, konsep musik ragtime pada lagu "Countdown" sangat terasa ketimbang balutan swing. Dengan bermain trio seperti ini, dominasi musikal Joey benar-benar terasa.

Lagu "Countdown" adalah satu dari 10 komposisi album kedua Joey ini yang diberi titel sama. Sembilan lagu lainnya adalah "City Light", "Sunday Waltz", "Smile", "Maiden Voyage" [feat. Chris Potter], "Criss Cross", "Chelsea Bridge", "For Wee Folks", "Soul Dreamer". Pendengar jazz yang pernah melihat penampilan Joey pada acara Grammy Awards 2016 bisa menyimak lagi lagu "City Light" secara utuh. Lagu ini terinspirasi dari suasana New York --kota sibuk yang sarat aktivitas tapi membuat Joey jatuh cinta.

Lantas bagaimana dengan lagu lainnya? Tentu saja kamu harus membeli albumnya. [][teks @firza | foto Warner Music]