}
Ezra Simanjuntak: "Venue di Indonesia Masih Bermasalah"
Musik

Ezra Simanjuntak: "Venue di Indonesia Masih Bermasalah"

by Pohan
Sun, 10-May-2015

Acara musik intim bertajuk The Rock Campus by Ezra Simanjuntak: "Where You Learn How To Rock!" sudah memasuki episode ke-13 pada 30 April 2015 sejak pertama kali digelar tanggal 5 Februari 2015.

Band modern metal tribal core, Zi Factor yang tak lain adalah band Ezra sendiri pun kembali mengisi panggung Rock Campus dengan memperkenalkan karya terbaru mereka, A Testament Of Rage.

Rock Campus yang rutin diadakan tiap Kamis di Rolling Stone Cafe Jakarta ini juga dimeriahkan Edane, Down For Life, Easy, Daddy's Day Out, dan Rising The Fall. Mereka bergantian menggebrak panggung yang berada di dekat pintu masuk.

Rolling Stone Cafe Jakarta adalah tempat acara yang strategis di bilangan Jakarta Selatan dengan menghadirkan satu panggung di dalam kafe, dan dua panggung outdoor.

Sebagai penggagas Rock Campus, Ezra Simanjuntak yang sempat gagal negosiasi dengan pihak Rolling Stone Cafe Jakarta membuktikan kesuksesan acaranya secara bertahap.

Ezra menjalani Rock Campus bermodalkan dukungan dari sejumlah pihak termasuk rekan media, tanpa sponsor. Begitu pula empat acara musik lain, yang ia adakan dengan judul dan tempat berbeda. Di antaranya: Rise Of The Underdogs dan Music is Music yang digelar di Redbox Cafe tiap 2 minggu sekali. Sedangkan Psikokultural dan Liberate Vos Ex Infernis di tempat yang berpindah-pindah tiap sebulan sekali.

Melihat banyak acara musik rutin yang tidak bertahan lama, Ezra berpendapat ada beberapa hal yang perlu lebih diperhatikan termasuk intensitas diselenggarakannya acara dan butuh kerjasama dengan tempat acara.

Berikut ini wawancara Reporter @pohanpow dengan gitaris Zi Factor, Ezra Simanjutak:

Bagaimana awal mula The Rock Campus [TRC]?
Dari dulu emang gue pengin bikin acara kayak gini. Gue ngerasa venue di Indonesia masih bermasalah. Dengan menggelar acara rutin bisa jadi solusinya. Soalnya venue khusus buat live music kan nggak ada dan cafe/club untuk musik rock & independen disini jarang ada. Kalo pun ada ya tipe classic rock, tribute & home band regular. Masih belum sering bikin acara-acara rutin yang diluar itu.

Maksudnya bermasalah?
Ketika punya konsep, tempat acara belum tentu mau terima kerjasama dengan alasan tidak mau menanggung risiko. Mereka nanya rame nggak, belanja nggak penontonnya? Sementara kita baru bisa melihat rame nggaknya dan pola belanja itu dari segi waktu yang berjalan, bukan cuma 1-3 kali acara digelar. Waktu itu gue sama manajer Rock Campus mengusulkan tempat di Rolling Stone Cafe Jakarta. Awalnya nggak yakin, benar kita ditolak pada Desember tahun 2014 dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya gue dengan manajer melobi lagi, baru berhasil tembus Januari.

Siapa yang memilih band-band yang tampil di Rock Campus?
Band-band yang tampil itu atas pilihan gue dari yang memang gue kenal atau gue udah pasti tau bagus atau enggak si band. Nggak harus terkenal, band manapun boleh kirim profil beserta link karya musik mereka ke email witawibisono[at]gmail[dot]com. Nanti kita dengar dan pilih yang bagus & menarik.

Apakah tema setiap gelaran Rock Campus berbeda-beda?
Intinya, masih di dalam payung The Rock Campus karena acara ini menaungi band-band rock, entah itu blues, metal, maupun berbagai genre yang ada di dalamnya. Blues 'kan akarnya sampai ke metal. Metal ini adalah perkembangan dari akarnya, yaitu blues itu sendiri, hingga menjadi sesuatu yang lebih ekstrem. Jadi, selagi masih masuk, ya OK. Gue emang gabungin beda besa genre di setiap episode. Kadang sengaja ditabrakkin. Dua episode yang lalu, Siksakubur main dengan Baim and Gugun Blues Shelter [GBS]. Itu menarik. Di satu sisi, ini bukan cuman masalah rame atau nggaknya orang datang. Ada sisi edukasi, intelektual, dan sejarah. Yang suka GBS belum tentu pernah nonton Siksakubur & begitu juga sebaliknya. Nah pas GBS main kemarin di TRC anak anak fans extreme metal yang datang nonton Siksakubur itu pada maju kedepan nonton GBS dan keliatan mereka suka juga.

Band yang tampil di Rock Campus dapat fee atau tidak?
Gue cuma bisa ngasih transport. Kalau nama besar orang juga tau berapa tarif mereka. Tapi Edane mau main di Rock Campus karena mereka support, Down For Life mau main karena mereka support. Kalo ntar dapat sponsor tentunya kami akan coba dapatkan deal terbaik dan bisa upayakan fee yang lebih layak.

Menurut Ezra, apa yang membedakan panggung musik di luar dan di Indonesia?
Kita masih belum bisa memberikan jaminan kualitas. Musisi dan band-band Indonesia di era sekarang ini udah nggak jauh beda kualitasnya dengan band-band international. Ada yang udah setara. Masalahnya, kita masih kalah jauh dari sisi jam terbang manggung dan kualitas produksi mau itu rekaman ataupun di live show. Begitu juga dengan management acara-acara. Yang skala gede sekali pun sering kali masih amatiran. Band-band luar negeri yang main disini make alat-alat yang ada disini kok, rata rata sesuai dengan riders atau dengan apa yang ada disini. Mereka cuma bawa instrumen dan efek masing-masing personil aja. Tapi ketika mereka main sound- nya tetap bagus. Kadang kayak dengerin CD. Pas band-band lokal main jauh banget timpangnya termasuk band-band gede indonesia. Nah, pangsa pasar udah bisa membedakan. Mereka jauh lebih teredukasi sekarang. Beda sama 10-15 tahunan yang lalu.

Siapa lineup Rock Campus berikutnya?
Gue udah siapin lineup 2-3 bulan ke depan dari yang belum orang kenal sampai yang lumayan dikenal orang. Kombinasi lah. Kita harus punya komitmen nunjukkin pada orang bahwa kita fair menampilkan yang main di acara ini. Kita juga mau ngangkat band-band yang orang belum tau tapi mereka beneran bagus. Kita berani ambil risiko, 4-5 band yang tampil rata-rata penonton biasanya nggak begitu tau. Walaupun begitu so far sih tetap rame. Ya paling kalo bisa ada 1 yang lumayan dikenal dan kadang-kadang ada yang punya nama besar yang main seperti Edane, Siksakubur, Baim and Gugun Blues Shelter, Melanie Subono, Superglad, dll. Gue nggak mau keroyokkan band-band. Di satu acara sampe 15-25 band. Ya kecuali para headliner, kasian band-band lainnya yang namanya tenggelam dan durasi mainnya terburu buru. Nah, di acara gue hanya ada 4-5 band sehingga semua nama band jelas terlihat. Design flyer pun banyak nggak cuma 1 dan itu itu doang yang dinaikkin. Masing-masing band pun kami design flyer- nya. Walaupun belum dikenal banyak orang. Ya kami hargai lah. Dari acara acara gue ini mereka jadi lebih visible dan tampilnya pun lebih layak. Penonton bener bener bisa menikmati.

Bagaimana pendapat Ezra tentang festival musik di Indonesia?
Sebetulnya, kita belum bisa ngasih kualitas dan tuntunan yang dibutuhkan oleh konsumen. Kita hanya memberikan tuntunan konsumen tertentu yang jumlah sebenarnya minoritas di dalam lingkaran maupun dalam bulatan pangsa pasar yang paling kecil. Tapi yang gedenya belum tercapai. Ini salah satu dari misi acara-acara kecil gue ini. Dimulai dari yang basic dulu secara grass roots. Misalnya kualitas sound. Gue ngerti sound, frequency dll & bawel tentang ini. Hampir semua promotor dan E.O disini kan nggak ngerti soal ini. Paling taunya menyiapkan riders. Jangan salah, banyak sound engineers band-band lokal yang main disini pun nggak bagus juga penataan sound- nya. Jadi harus kita advice dan bilangin. Nggak boleh mereka itu sok tau heheheh.. [][teks @pohanpow | foto dok. LINIKINI/Pohan]