}
Jazz Buzz Salihara: Attilion Bermusik ke Luar Angkasa
Musik

Jazz Buzz Salihara: Attilion Bermusik ke Luar Angkasa

by Yogira
Tue, 21-Feb-2017

Rata-rata penggemar musik menilai, musik jazz dengan bumbu distorsi gitar biasanya disebut jazz rock atau fusion. Padahal menurut musikolog Jerman, Dieter Mack, secara konsep musikal, fusion tetap dikategorikan rock karena unsur distorsi gitar tadi. Kalau jazz, ya tetap jazz.

Lantas, bagaimana dengan  grup Attilion yang tampil di di Jazz Buzz Salihara, Jakarta [18/02]? Dari suguhan musiknya, lebih meniscayakan mereka disebut grup rock ketimbang jazz. Tapi, tak apalah, karena mungkin, konsep Jazz Buzz Salihara tak terpaku pada pakem musik jazz. Pada acara ini, jazz adalah kebebasan berekpresi pemanggungnya. Barangkali bagi Attilion, cara meramu sound dan suguhan musik instrumental hasil rembukan personelnya adalah ciri dari atmosfir jazz itu sendiri, bukan mengacu pada keajegan konsep musik jazz secara standar teoretis.

Saat tampil di Salihara, Attilion menyuguhkan 12 komposisi musik. Nyaris semuanya terdengar bercorak rock dengan anasir progresif psikadelik. Sound yang keluar seringkali ramai dengan distorsi. Misalnya, pada lagu pembuka, “Inner” dan “Early Dawn”. Progresivitas rock sangat kentara. Malah pada bagian tertentu, gaya musik Dream Theater terngiang di kuping.

Bowo C [gitar], Mattheus [bass], dan Josh [drum] menggiring penontonnya pada suasana gaduh dan ramai. Tapi pada lagu lainnya, mereka pun bisa menyuguhkan komposisi musik yang tenang, magis, bahkan memancing trance. Dibantu dengan seorang keyboard wanita, lagu-lagu instrumen Attilion kian ‘berisi’ dengan sound yang lebih berwarna. Selain rasa Dream Theater, repertoar Attilion sekilas terpengaruh gaya musik Pink Floyd, terutama ketika Bowo C bernyanyi.

Ketika manggung, Attilion pastinya sudah menyiapkan lagu-lagunya disesuaikan dengan pengalaman empiris masing-masing personelnya terkait realitas kehidupan dewasa ini. Isu kerusakan lingkungan, intrik politik, dan konflik sosial budaya jadi materi tafsir mereka untuk penciptaan komposisinya. Ini terbukti dari pengakuan Bowo C, yang menyebut beberapa lagu Attilion terinspirasi dari isu-isu tersebut. Menariknya, sebagian lagu-lagunya menyimpan pesan ‘pelarian’ dari kehidupan bumi, yang sudah gawat. Tiga lagu berjudul “Europa”, “Saturn Fill”, dan “Nebula” adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan di luar angkasa. Nah, Attilion membuat lagu itu dengan perpaduan suara instrumen, yang bisa membangun suasana di luar angkasa.

Dengan kemampuannya mengolah realitas kehidupan jadi komposisi lagu, sebenarnya  Attilion punya sumber energi sebagai pencipta scoring film. Ketiga personelnya, juga additional keyboard-nya, sepertinya memiliki passion juga dalam menggubah musik eksperimental dan kontemporer. Entahlah, yang jelas, sekarang ini, mereka seperti lagu “Smoke on The Water”. Terus berkarya, apapun yang terjadi… “We made a place to sweat. No matter what we get out of this”. [][teks @firza | foto Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya]