}
Riza Arshad dalam Karya dan Kenangan
Musik

Riza Arshad dalam Karya dan Kenangan

by Yogira
Fri, 24-Feb-2017

Pencinta musik sejati tanah air keterlaluan kalau tak mengenal Riza Arshad. Dia memang jarang terlihat dalam industri musik populer. Tapi kiprahnya dalam perkembangan musik Indonesia, layak dianggap sebagai musikus terhormat.

Namun, Tuhan berkehendak lain. Dalam masa perjuangannya memperkenalkan grup musiknya simakDialog ke seantero dunia, Riza mengembuskan nafas terakhir di Bandung pada Jumat [13/1/2017].  Sontak, semua sahabat dan para pecinta musik yang mengenalnya terkejut atas berita duka itu. Padahal beberapa saat sebelum meninggal, dia sempat latihan bersama personel lainnya di simakDialog.

Maka, sebagai rasa terima kasih dan penghargaan terhadap Riza semasa hidupnya, beberapa penggiat musik menggelar acara untuk mengenang kiprahnya, dengan judul "simakDialog: Riza Arshad Berkarya", di Gedung Kesenian Jakarta [22/2].

Indra Lesmana adalah salah satu sahabat dekat Ija [panggilan akrab Riza]. Sesuai memainkan piano untuk membawakan komposisi ciptaan Riza Arshad berjudul “One Has to Be”, Indra pun mengenang Ija. Dia mulai mengenalnya pada tahun 1984 ketika ada acara jam session, mendiang Jack Lesmana di Hotel Borobudur. Indra melihat kemampuan Ija ketika ber-jam session. Ketika itu, Indra dan ayahnya berencana membuka sekolah musik Farabi. Ija yang pertama kali menyodorkan diri sebagai muridnya. Jadi lah dia murid pertama di sekolah musik Farabi.

“Ketika mau daftar, dia nanya, ada audisi dulu. Saya bilang, nggak usah audisi dulu. Kamu nge-jam aja udah asyik kok,” kata Indra Lesmana tentang kesan Ija sewaktu dulu bertemu.

Malam itu, nggak cuma Indra yang memberikan kesan atau testimoni terhadap Ija. Musikus dari lintas generasi turut pula mengenang Ija, baik sebagai teman, sahabat, maupun guru. Mereka antara lain: Anto Hoed, Dewa Budjana, Kadek Rihardika, Oele Pattiselanno, Dwiki Darmawan, Cendy Luntungan, Debby Nasution, Sri Hanuraga, Gerald Situmorang, dll.

Ternyata banyak juga musikus jazz yang tampil membawakan kompoisi Riza Arshad. Tampak ada Sandy Winarta, Aksan Sjuman, Yance Manusama, Ubiet, Dian HP, Ivan Nestorman. Tentu saja termasuk personel simakDialog dari generasi pertama hingga terakhir, antara lain: Tohpati, Indro Hardjodikoro, Budhi Haryono, Adhitya Pratama,  Cucu Kurnia, Ruddy Zulkarnaen, dan Mian Tiara.

Sejak pertama kali membentuk simakDialog tahun 1993, Ija tak pernah puas mengekplorasi gagasan musikalitasnya untuk bandnya ini. Dulu ketika paruh tahun 90-an, Ija dan simakDialog bermain di ITB, yang merupakan kampus almamaternya. Dia menyebut, simakDialog mengusung “jazz adult contemporary”. Saat itu unsur musik etnik belum terasa pada simakDialog.

“Ija pernah berdiksusi dengan saya soal konsep musik simakDialog. Dia ingin memasukan unsur karawitan. Saya menyarankan kepada dia supaya drum diganti dengan kendang. Ternyata dia merasa pas dengan cara itu,” jelas Dwiki Darmawan, yang kini eksis dengan grup Krakatau musik etnik-nya.

Ada beberapa komposisi karya Riza Arshad yang dibawakan sejumlah musisi pada malam mengenang  musisi jenius itu. Antara lain berjudul: “Selamanya”, “At The Glance”, “Kerinduan”, “This Spirit”, “Throwing Words”, dan “Gong”.

Banyak yang memuji ketekunan dan konsistensi Ija dalam berkarya musik. Malah ada yang bilang, Ija adalah musisi sekaligus komposer penting, yang layak disejajarkan dengan Ismail Marzuki.

Penyanyi kelahiran Jakarta 2 November 1963 itu tak pernah puas bereksplorasi dalam bermusik. Dia juga sangat gigih dengan grup simakDialog untuk memperkenalkan khasanah musik nusantara melalui instrumen kendang pada bandnya itu

“Bagi saya, memasukan kendang Sunda adalah bagian dari visi karena saya mengenalnya sejak kecil.  Untuk berkarya, orang harus punya visi, bukan mimpi untuk melakukan sesuatu. Saya ingin musik kontemporer yang kami bawakan ini didengar orang sebagai inspirasi, dalam hal  percampuran budaya Barat dengan Asia Tenggara,” jelas Ija saat bertemu LINIKINI sewaktu konser simakDialog di gedung Wayang Orang Bharata [WOB], Jakarta, 7 Oktober 2015.

Ya, itulah Riza Arshad. Musisi yang  nyentrik, bergaya low profile, namun memiliki jiwa musikalitas tinggi, yang jarang dimiliki musisi pada umumnya. Selamat berpulang Ija. Karyamu akan terus berdialog dengan semesta. [][teks @firza | foto firza, simakdialog.bandcamp.com]