}
Jazz Buzz Salihara: Arief Winanda dalam Imaji Tari
Musik

Jazz Buzz Salihara: Arief Winanda dalam Imaji Tari

by Sherra
Fri, 03-Mar-2017

Malam minggu lalu, Arief Winanda tampil di Jazz Buzz Salihara, [25/2]. Tanpa ba bi bu, ia langsung membuka penampilan dengan marimba solo karya Paul Smadbeck, "Rhythm Song".

"Karya ini adalah tentang Suku Indian masa penjajahan Inggris," ujar Arief sebelum lanjut ke nomor kedua karya komposer asal Jepang, Keiko Abe.

Bebunyian yang dihasilkan untuk "Wind Sketch" memang dinamis. Kadang seperti nggak terdengar, pelan, lembut, hingga keras. Telinga fokus mendengarkan, mata fokus pada tangan Arief yang asyik mengetuk marimba.

Lanjut ke nomor ketiga, "Astral Dance" dari Gordon Stout dan "Gitano" karya Alice Gomez.

"Komposernya hidup di antara dua negara, US dan meksiko dengan sistem hidup yang berbeda. Karya ini berkisah tentang kaum Gipsi, di mana pemerintah US dan Meksiko menindas kaum mereka," ujar Arief setelah memainkan musik "Gitano".

Di nomor kelima, "Chromatic Foxtrot", Arief mengganti marimbanya dan bermain dengan xylofon. Kali ini dia ditemani oleh pianis Pamuncak Mudo, Angelica Liviana.

Karya George Hamilton Green ini mengawinkan bunyi xylophone dengan piano hingga jadi musik ceria yang bikin badan ikut menikmati alunannya.

Lanjut ke nomor berikutnya, "Jazz Suite [Boogie]", giliran bunyi piano dikawinkan dengan vibrafon.  

"Ini karya musisi asal Skotlandia, Richard Michael. Terinspirasi dari dansa Boogie, yaitu dansa orang kulit hitam di Amerika. Tariannya energik seperti musik ini," kata pemain perkusi dan komponis yang menamatkan pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta ini.

Dua nomor terakhir, Arief tampil bersama anggota Pamuncak Mudo lainnya dalam format band: Ganar Firziawan [gitar], Steve Virgian Pradana [saksofon], Michael Fernando [bas], dan Muhammad Fuad Rizki Ramadhan [perkusi].



"Morning Dance" karya Spyrogyra dan "Dancing Tears" karya Dewa Budjana menutup penampilannya disambut tepukan riuh penonton yang telah eargasm selama 2 jam. [][teks @saesherra | foto Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya]