}
Jazz Buzz Salihara: Suguhan Penutup Imanissimo
Musik

Jazz Buzz Salihara: Suguhan Penutup Imanissimo

by Sherra
Fri, 03-Mar-2017

Imanissimo menutup gelaran festival Jazz Buzz di Komunitas Salihara, Minggu, [26/2]. Band yang mengusung musik psikedelik rock ini digawangi Johannes Jordan [gitar], Iman Ismar [bas], Raden Agung [keyboard], dan Marcellus Putra [drum].

"Mini Minimanimo Ini Imanissimo" jadi suguhan awal band yang terbentuk hampir 16 tahun lalu ini. "Chaos!" Lagu pembuka bikin memekakkan telinga, tapi asyik.

"Kami main jazz, tapi rusuh. Dengan kerusuhan tersebut saya salut nggak ada yang pingsan atau telepon ambulance," tutur Agung, bercanda.

Penonton yang berharap-harap dengan alunan jazz masih disuguhkan musik keras dengan trek "Kampretos" dan "Happiness and Sadness".

Tapi tenang, agar bisa nyambung dengan tema festival, Imanissimo menambahkan komposisi musik dengan warna instrumen dari flute dan saksofon di trek-trek selanjutnya. Malam itu, Imanissimo juga memboyong soprano senior Indonesia, Siti Chairani Proehoeman untuk menampilkan "Death of Love".

Penampilan berlanjut dilanjutkan dengan "Tembang Ambarawa" yaitu tentang pertempuran palagan ambarawa. Dalam album terbarunya, Enigma, tembang tersebut memadukan musik metal dengan bunyi gamelan. Sayang, malam itu mereka tampil tanpa gamelan.

Lanjut ke "Echo in The Distances" yang dibawakan dengan dua vokalis yang bernyanyi dalam dua bahasa berbeda secara bersamaan. Seperti vokal bilingual yang diterjemahkan. Namun salah satunya terdengar seperti gaung.

"Lagu ini seperti kondisi negara kita pada saat ini yang mana yang salah dibenerkan yang benar disalahkan," jelas Agung.

Bassist Iman mengambil giliran sebagai vokalis di lagu baru lain "Impromptu Visit". Lagu yang juga diciptakan olehnya ini berbicara tentang seseorang yang ingin mengenal orang-orang dari semua kelas sosial.

Lagu terakhir adalah proyek Indonesia Mahardika, "Simponi Indonesia: Krisis Budaya", berupa lagu rasa rock, opera, dan jazz. Trek nomor satu di album Enigma ini bercerita tentang perdebatan indonesia dengan malaysia.

"Berbicara tentang krisi budaya, anak-anak muda Indonesia saat ini mengalami krisis budaya. Saat budaya kita diklaim, kita sibuk marah-marah tapi kita sendiri kurang begitu peduli dengan budaya Indonesia," jelas Agung sebelum Imanissimo mengawinkan progressive jazz dengan alat musik tradisional, angklung.

Walaupun semua penampil udah pamit,  penonton masih nggak ingin beranjak dan minta 'bonus' ke Imanissimo. [][teks @saesherra | foto Komunitas Salihara/ Witjak Widhi Cahya]