}
Java Jazz 2017: Pentas Tanpa 'Anak Emas'
Musik

Java Jazz 2017: Pentas Tanpa 'Anak Emas'

by Yogira
Tue, 07-Mar-2017

Tahun ini, Java Jazz menyuguhkan ‘benar-benar’ jazz. Dalam arti, atmosfirnya terasa bebas merakyat, seperti kembali kepada khitah-nya jazz itu sendiri. Pasalnya, kali ini tak ada special show, yang memperlihatkan dengan jelas bahwa ada penonton atau penampil pentas yang jadi anak emas.

Semua penonton Java Jazz 2017 ini berhak menonton ke setiap stage, yang tersedia di kompleks Jakarta International Expo [JIEXPO], Kemayoran Jakarta dalam tiga hari pelaksanaan [3, 4, dan 5 Maret 2017].

Tercatat, ada 14 panggung untuk 170 show dalam tiga hari. Penonton harus merogoh kocek antara Rp 650.000-700.000 / hari atau Rp 1.500.000 - 1.550.000 / 3 hari [tergantung tanggal dan lokasi pembelian]. Itu kisaran harga resmi, bukan harga calo.

Pada Java Jazz tahun sebelumnya, special show sebenarnya bisa jadi penanda selera penonton. Pencinta musik jazz sejati, kemungkinan besar akan berpikir ulang untuk merogoh kocek lebih dalam demi membeli tiket special show, yang notabene penampilnya lebih ngepop ketimbang ngejazz. Misalnya, tahun lalu, ada Sting dan David Foster. Hampir setiap special show pada Java Jazz tak menampilkan artis jazz yang benar-benar instrumentalis. Pasti selalu saja ada penyanyinya.

Coba bandingkan dengan penampil jazz internasional yang sudah banyak makan asam garam dan tentu saja kesohor sejak lama, ternyata pada Java Jazz 2017 enjoy saja tanpa special show. Padahal yang tampil antara lain: Chick Corea Elektric Band, Blood Sweat & Tears, Sergio Mendes, Arturo Sandoval, Mezzoforte, Chieli Minucci & Special EFX Eric Marienthal, Nathan East, Harvey Mason, dan Incognito. Mungkin lain lagi ceritanya kalau event ini disisipkan, misalnya dengan Adelle atau Bruno Mars, pasti keduanya jadi anak emas special show, yang malah mengurangi kadar musikalitas jazz-nya.

Sejumlah jazzer kahot pada Java Jazz tahun ini memang sepertinya nggak terlalu haus akan pengakuan sebagai artis ‘besar’ sehingga harus dianakemaskan dengan honor pentas di atas rata-rata. Mereka bermain dengan jazz sesungguhnya dan sudah yakin akan ada penonton setianya.

Sebagai misal adalah pentas Chick Corea Elektric Band. Para penonton yang sudah kenal baik dengan reportoar karya Chick Corea rela antre di depan pintu masuk Hall D2 dan D1 pada pertunjukan Sabtu dan Minggu. Penonton di stage ini tak masalah dengan formasi baru. Biasanya, Chick menyertakan John Patitucci [pemain bass]. Tapi malam itu yang tampil adalah Nathan East, pemain bass yang tak kalah berkelas. Dia selalu jadi langganan Java Jazz, baik berkolaborasi dengan musisi lain, maupun jadi bagian band beraliran smooth jazz, Fourplay. Malam itu, Chick dkk membawakan sejumlah komposisi ‘renyah’ dengan cirikhas irama progresif, semisal lagu: "Got a Match?" "CTA", "Jocelyn-The Commander", “Silver Temple”. Sayangnya penonton sedikit kecewa, ternyata band ini tak menyertakan lagu “Spain” sebagai salah satu setlist. Padahal lagu ini bisa jadi memento mori untuk mendiang Al Jarreau, yang menyanyikan lagunya dengan versi berlirik.

Sergio Mendes adalah musisi lainnya yang mendapatkan sambutan istimewa penontonnya. Maklum, musisi asal Brasil ini sudah jadi pakarnya musik latin yang easy listening dan asyik untuk bergoyang.  Sergio memanjakan penonton dengan sejumlah lagu populer semisal  “Magalenha”, “Mas Que Nada”, Real in Rio", dan menariknya Sergio pun membawakan lagu yang biasanya dinyanyikan Basia, berjudul “Water of March”. Lagu ini memang berasal dari latin, berjudul asli “Águas de Março" ciptaan Antonio Carlos Jobim.

Selain mereka, tentu saja Mezzoforte pun memiliki penggemar setia. Alasannya sederhana, lagu-lagu band asal Islandia ini begitu bergairah memompa irama jazz-funk fusion yang enak untuk bergoyang, misalnya lagu “Garden Party” Midnight Sun” dan “Spring Fever”.

Incognito apalagi. Band ini sudah lama intim dengan Java Jazz. Bahkan dulu dia pernah jadi penampil untuk special show. Band asal Inggris beraliran acid jazz-funk ini tetap mengandalkan lagu-lagu top mereka, antara lain: “Still A Friend Of Mine”, “Don't You Worry 'bout a Thing”, “Deep Waters”, “Talkin' Loud”.

Sedangkan untuk urusan musik jazz dengan lagu-lagu instrumental bercirikhas world fusion/new age, patut diacungi jempol untuk penampilan Chielie Minucci & Special EFX Feat. Eric Marienthal & Lao Tizer. Chielie dkk membawakan sejumlah komposisi apik dengan sound yang unik, terutama pada gitarnya. Penonton yang mendengarnya akan asyik masyuk serasa masuk atmosfir surelis-naturalis, seperti musik fantasi, namun tetap tak keluar dari pakem musikalitas jazz, dan kodratnya sebagai musik yang membawa kebebasan.

So, nikmat apalagi yang kau dustakan, wahai penggemar jazz sejati? Mereka adalah penampil-penampil jazz berkelas dunia, termasuk juga musisi Indonesia, seperti Dwiki Darmawan, simakDialog, dan Dewa Budjana. Tapi mereka tetap bahagia meski tak dianggap anak emas dalam Java Jazz 2017. [][teks @firza | foto  @saesherra, @haabib_onta]