}
Leo Kristi, “Tambur Jalanan” Pulang ke Tuhan
Musik

Leo Kristi, “Tambur Jalanan” Pulang ke Tuhan

by Yogira
Tue, 23-May-2017

Bagi ‘pengunyah’ musik pop, yang sering berseliweran di televisi dan radio, mungkin nama Leo Kristi nggak dalam hitungan musikus ngetop, apalagi lagu-lagunya.

Namun, bagi pencinta musik yang lebih apreasiatif pada musik folk atau balada, nama Leo Kristi pasti melekat di hati. Ya, boleh dikatakan, dia adalah salah satu musikus legendaris, dengan penampilan dan lagu-lagu yang khas sekali.

Sejak tahun 1970-an, musik dan liriknya menggaung lewat lagu-lagu balada dengan muatan cinta dan sosial. Bahkan sebagian termuat dalam sejumlah album langka dan berharga, semisal album: Nyanyian Fajar [1975], Nyanyian Malam [1976], Nyanyian Cinta [1978], Nyanyian Tambur Jalan [1980], Deretan Rel Rel Salam dari Desa [1985], Catur Paramita [1993], dan yang terakhir sekaligus pamungkas adalah album Hitam Putih Orche [2015].

Seperti juga Iwan Fals, sebagian lagu-lagu Leo Kristi menyuarakan kemanusiaan secara universal. Bedanya, Leo masih ‘mengambil jarak’ untuk protes keras. Dia mengemas protesnya secara halus, namun membumi. Perlu dicatat juga, Leo termasuk musikus idealis. Dia memang kerap menggelar konser rakyat di pelbagai tempat, tapi dia seperti kurang tergiur dengan popularitas yang dibesarkan industri musik secara masif.

Kini Leo sudah berpulang ke Sang Pencipta. Musikus bernama asli Leo Imam Sukarno itu memgembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Immanuel, Bandung pada Minggu, 21 Mei 2017 sekitar pukul 00:30 WIB. Diduga dia mengidap gangguan usus dan ginjal karena terkena penyakit Disenstria Amoeba.

Seniman nyentrik kelahiran Surabaya, 8 Agustus 1949 itu mewariskan banyak karya musik sangat berharga, bahkan mungkin susah lagi untuk mendapatkan lagi album-albumnya di pasaran. Tapi nama Leo Kristi sudah layak untuk dituliskan dalam sejarah musik Indonesia sebagai salah satu musikus berpengaruh abad ini, selain Iwan Fals dan Franky Sahilatua.

Selamat bermusik di sana, wahai “tambur jalanan”. Karyamu abadi sepanjang zaman. [][teks @yogirudiat/berbagai sumber | foto Sunarto Ato Sastromiharjo/youtube, Hiburan - Akurat.co]