}
Reyog Jazz Ponorogo: Jazz ‘Selezat’ Sate
Musik

Reyog Jazz Ponorogo: Jazz ‘Selezat’ Sate

by Yogira
Thu, 26-Oct-2017

Selain terkenal dengan reyog, Ponorogo populer karena sate lezat dengan bumbu kacang yang gurih. Kelezatannya ternyata menular pada pertunjukan Reyog Jazz Ponorogo di Telaga Ngebel, Ponorogo [22/10].

Siangnya, sebelum menikmati pertunjukan musik itu, LINIKINI sempat menyantap sate khas Ponorogo yang terkenal kelezatannya. Nah, ketika Reyog Jazz Ponorogo menghidangkan sejumlah penampil, terasa juga ‘kelezatan’ menikmatinya. Nyaris semua lineup menyuguhkan musik jazz dengan ‘bumbu ringan dan relatif mudah dicerna, kecuali mungkin bagi yang belum terbiasa adalah sajian musik yang dipertontonkan Tarana dari New York.

Duo musikus elektronik beranggotakan Ravin Momin [electric drum/percussion] Richard Keyser [trombone/synth] sebenarnya memperkenalkan musik yang unik. Dua repertoarnya bisa memancing penikmat musik tenggelam ke alam ‘trance’, yang misterius. Namun mungkin pencerapan musikal kebanyakan penonton belum menangkap style musik Tarana, jadinya ‘kelezatan’ tontonan Reyog Jazz Ponorogo berubah jadi kebosanan. Apalagi sebelum Tarana, para penampil rata-rata membawakan sejumlah repertoar pop jazz, bahkan jazz dalam balutan rock, dan musik tradisional reyog [fusion].

Meskipun acara sempat molor karena hujan turun sore dan adanya gangguan teknis, toh penonton yang berkerumun di depan stage tetap setia menanti para penampil. Sebagai pembuka, Bintang Indriato-Festival ‘menggebrak’ dengan lagu-lagu energik. Band ini memadukan jazz funky berbalut distorsi rock, dangdut, plus musik tradisi reyog, termasuk penampilan tariannya.

Bintang Indrianto, memang sudah makan asam-garam dalam urusan membetot bass. So, dia kelihatan enteng saja meracik sejumlah komposisi, yang lezat dinikmati, semisal judul lagu "Nyet", "Woii", dan "Pecel Ponorogo". Di atas  panggung, tampak Bintang Indrianto dan gitaris Denny Chasmala mampu mempercakapkan suara slapping bass dengan raungan distorsif, yang terkadang menyayat keluar dari suara gitar.

Setelah Bintang Indrianto-Festival, giliran sejumlah band dari daerah tampil, yang rata-rata masih berkutat dengan jazz ngepop. Antara lain, yang penampilannya terbilang berhasil adalah: Jazz Mben Senen [Yogyakarta], Fusion Jazz Community [Surabaya], dan Justone [Mataram, Lombok].

Malam kian larut. Tapi penonton di depan panggung tetap menyemut. Mereka semua sabar menanti Nita Aartsen Quintet feat. Tompi sebagai penampil pamungkas. Penonton harus mengapreasiasi terlebih dahulu para penampil lainnya, yakni: Diana Liu [Malaysia] with Udin Jazz Peacocks feat. Adi Dharmawan, dan Tiwi Shakuhachi, yang berlanjut dengan suguhan musik dari Reyog Jazz with Yusuf YK Band, dan Tarana.

Nah, ketika Tarana tampil lah penonton mulai sudah tak sabar menunggu Tompi hadir.  Untung saja, suasana di Telaga Ngebel, yang kian terasa dingin, perlahan menghangat ketika Nita Aartsen dan trumpeter asal Prancis, Jen-Sebastien, juga musikus lainnya menggiring penonton untuk bergoyang dengan irama jazz latin.

Penonton bersorak semangat ketika Tompi nongol di atas panggung. Praktis, penonton menikmati kelezatan puncak pertunjukan Reyog Jazz Ponorogo. Seperti biasa, Tompi mengandalkan skill-nya dengan gaya nyanyi scat singing. Lagunya bertajuk “Menghujam Jantungku” jadi berdurasi panjang dan sangat menghibur karena Tompi mampu membawakannya dengan interaksi kocak dengan penonton. Tompi pun mengajak 'berdialog' scat singing dengan Nina Aartsen, yang tampak santai memainkan keyboard. Maka, terjadilah sinergi bernyanyi scat singing, yang mengesankan. Penampilan keduanya ibarat Al Jarreau yang sedang berkolaborasi dengan Tania Maria.

Sebagai penutup Reyog Jazz Ponorogo, penampilan Nita Aartsen Quintet feat. Tompi sebenarnya masih kurang durasi waktu. Seharusnya ada penambahan dua atau tiga lagu. Namun karena sudah dinihari, penonton pun harus puas menikmati kelezatan musik jazz sampai di situ. Semoga tahun depan pertunjukan ini kian lezat lagi, selezat sate khas Ponorogo. [][teks @yogirudiat | foto @yogirudiat, @fatra gotama]